detikNews
Senin 09 September 2019, 08:17 WIB

Pustaka

Aksi-aksi Korektif Siti Nurbaya di Bidang Lingkungan & Kehutanan

Sudrajat - detikNews
Aksi-aksi Korektif Siti Nurbaya di Bidang Lingkungan & Kehutanan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyerahkan buku kepada Sarwono Kusumaatmaja. (Dok. Kementerian LHK)
Jakarta -

Tantangan pertama yang dihadapi Siti Nurbaya saat dilantik Presiden Joko Widodo menjadi anggota kabinetnya pada Oktober 2014 adalah menata birokrasi. Dia dihadapkan pada dua lembaga berbeda yang kemudian menyatu di bawah kendalinya: Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dialog menjadi kunci yang dipegangnya.

Tak cuma mendengar suara para pegawai di dua lembaga, dia juga melibatkan para senior dan aktivis LSM agar mendapatkan solusi yang cepat sekaligus menyejukkan semua pihak. Salah seorang seniornya, Ir Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Lingkungan Hidup 1993-1998, hingga sekarang masih kerap memberikan kritik dan nasehat kepada Siti.

Ketika proses penggabungan mulai berjalan, Siti Nurbaya menghadapi tantangan berikutnya: kebakaran hutan! Fenomena El Nino pada 2015 menjadikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) salah satu yang terparah sepanjang sejarah. Tak heran bila Presiden Jokowi turun langsung mengawasi proses penanganan bencana ini.

Sebagai komandan lapangan, Siti beruntung karena punya jejaring pertemanan yang luas. Juga kemampuan manajamen dan komunikasi yang lumayan baik. Dia tentu mafhum tanpa bersinergi dengan pihak-pihak lain mustahil bisa memadamkan api yang begitu dahsyat dan menghilangkan polusi asap pekat. Tentu langkah penting berikutnya adalah membuat berbagai kebijakan korektif agar bencana serupa tak terulang.

Siti amat menekankan penguatan manajemen pencegahan dan pengendalian karhutla, koordinasi pengendalian, penyebarluasan pengetahuan, dan proses perubahan perilaku sosial masyarakat untuk terlibat dalam pengendalian kebakaran.

Karena lazimnya kebakaran banyak terjadi dan yang paling sulit diatasi adalah di lahan gambut, Siti Nurbaya mewajibkan para pengelola untuk membuat sekat kanal dan mengatur tata air agar kelembapan kawasan terjaga dan kebakaran lahan terhindar. Hasilnya, luas kebakaran hutan terus mengecil. Jika pada 2015 tercatat 2,6 juta hektare, menjadi 438.363 hektare (2016), 165.483 hektare (2017), dan 510.564 hektare (2018).

Untuk membuat efek jera, Siti Nurbaya lumayan bernyali dengan menyeret sejumlah perusahaan besar penyebab kebakaran ke pengadilan. Ujung tombaknya adalah Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dibentuk pada 2015, dari catatan detik.com, direktorat ini telah menyelesaikan 567 kasus pidana masuk ke pengadilan, 18 gugatan terhadap perusahaan (inkrah) dengan nilai Rp 18,3 triliun, dan 132 kesepakatan penyelesaian sengketa di luar pengadilan.


"Ini yang membedakan pemerintahan Joko Widodo dengan rezim-rezim sebelumnya. Ini salah satu yang paling penting untuk kita apresiasi," kata Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi kepada detik.com, Januari lalu.

Dalam buku bertajuk "Saatnya Berubah: Aksi Korektif Siti Nurbaya Mengelola Lingkungan Hidup dan Kehutanan" ini tergambar beragam aksi korektif substansial dan progresif yang telah dilakukan Siti selain soal kebakaran hutan. Master lulusan International Institute for Aerospace Survey and Earth Science, Enschede, Belanda, 1988 itu, misalnya, menginisiasi uji coba kantong plastik tidak gratis pada 2017. Langkah ini diimplementasikan oleh pemerintah daerah dan toko ritel secara sukarela. Juga di isu-isu terkait pengelolaan hutan produksi, industri kehutanan, penanganan deforestasi, pengembangan hasil hutan bukan kayu, dan lainnya.

Segala perbaikan dan kemajuan yang dihasilkan dari aksi korektifnya ini menjadi catatan keberhasilan yang tak terpungkiri. Semua dimungkinkan, sekali lagi karena sikap Siti yang terbuka. Dia pandai memanfaatkan jejaring yang dimilikinya, dan terutama mau mendengar dan belajar dari pihak lain.

Siti juga terbuka kepada pers. Perempuan kelahiran Jakarta, 28 Juli 1956 itu mudah didoorstop atau dihubungi melalui WA untuk meminta konfirmasi. Dia tidak kaku dan menjaga jarak karena aturan protokoler. Andai memang situasinya tak memungkinkan untuk menjawab, Siti biasanya akan mengarahkan wartawan untuk menghubungi langsung pejabat terkait. Tak cuma menyertakan nama dan nomor kontak si pejabat, Siti biasanya juga sudah mengontak si pejabat agar meladeni pertanyaan wartawan terkait sebuah isu.

Pada awal April 2017, saya dan beberapa wartawan yang tengah mengikuti perjalanan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh ke Helsinki, Finlandia, pernah "mendoorstop" Siti Nurbaya yang kebetulah juga tengah mengikusi sejumlah agenda di negara itu. Ketika itu Parlemen Eropa baru saja menerbitkan Resolusi Sawit yang memojokkan Indonesia karena mengaitkannya dengan isu HAM.

Kami dibuat surprise karena Siti menyertakan sejumlah pejabat terkait untuk memberikan respons bersama. Mereka antara lain Duta Besar Indonesia untuk Finlandia Wiwiek Setyawati Firman dan Deputi Kepala Bappenas bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Gellwynn Jusuf.

Pada 2004, ketika kasus kekerasan IPDN menyeruak ke publik dia justru menggandeng media massa untuk bersama mengungkap kasus tersebut. Kala itu, dia meladeni Tempo yang tengah menyusun laporan utama, secara terbuka. Hasilnya sebuah laporan yang relatif komprehensif dan berimbang.

Soal kedekatan Siti dengan media ini bisa dipahami, mengingat dia lama di birokrasi. Merintis karir dari Pemprov Lampung, Siti lalu ditarik ke lingkungan Departemen Dalam Negeri. Jabatan tertingginya adalah Sekjen Depdagri. Dari situ dia diajak Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Prof Ginandjar Kartasasmita untuk menjadi Sekjen DPD.

Buku setebal 182 halaman ini diinisiasi dan ditulis para staf Kementerian LHK di bawah tanggung jawab Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Agus Justianto. Buku tersebut tidak diluncurkan atau dibedah secara formal, namun diulas dalam bingkai coffe morning di Gedung Manggala Wanabhakti, Jumat (6/9) lalu.

Dari sejumlah tamu yang hadir, bermunculan puja-puji terhadapnya. Siti meresponsnya dengan senyum. "Apa kebanggaan seorang pemimpin itu? Disayangi oleh bawahan dan ketika mereka menulis buku ini, artinya mereka menyayangi pemimpinnya," ungkap Siti.

Terkait materi buku yang bertabur foto, saya dapat memakluminya karena dibuat oleh para staf aktif maupun yang sudah pensiun. Ini semacam ekspresi kekaguman terhadap atasan mereka. Meskipun begitu, tentuk akan lebih elok bila sebagian foto seremonial digantikan dengan infografis. Selain akan membuat materi lebih variatif, informasi substansial tetap terakomodir di dalamnya sehingga lebih sarat makna.


(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com