detikNews
Senin 02 September 2019, 17:08 WIB

Saksi Ungkap Terdakwa Kasus Bakamla Palsukan Paraf Dokumen

Zunita Putri - detikNews
Saksi Ungkap Terdakwa Kasus Bakamla Palsukan Paraf Dokumen Foto: Zunita/detikcom
Jakarta - Sales Engineering PT Rohde and Schwarz Indonesia, Sigit Susanto, mengungkapkan aksi Managing Director PT Rohde dan Schwarz Erwin Sya'af Arief memalsukan dokumen pemesanan terkait proyek Bakamla. Sigit mengatakan aksi Erwin adalah melipatgandakan total harga pemesanan yang telah ditetapkan.

Awalnya, jaksa bertanya terkait satelit monitoring (satmon) proyek Bakamla yang diketahui jaksa senilai 8 juta Euro. Namun, dalam dokumen proyek Bakamla harganya itu berubah menjadi 11,25 juta euro. Sigit mengatakan harga yang telah ditetapkan pusat itu senilai 8 juta euro namun dipalsukan oleh Erwin.

"Waktu itu saya diperlihatkan dari nilainya, tapi kalau asli atau tidaknya saya tidak tahu. Sekitar Januari 2017 itu saya diperlihatkan yang PO (putchase order) itu nilainya 11 juta euro, saya sampaikan waktu itu 'Pak setahu saya, kalau PO itu nilainya 8 juta euro'. Itu saya sampaikan," kata Sigit.

"Ini yang membuat PO siapa? kok acuannya 8 juta euro menjadi 11,25 juta euro?" Tanya jaksa KPK M Taqdir di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/9/2019).

Kemudian Sigit mengatakan nilai 8 juta euro itu berasal dari pusat PT Rohde and Schwarz yang ada di Singapura. Sigit mengetahui nilai itu karena waktu itu pernah diperintah Erwin untuk mencetak dokumen pemesanan itu.

Sigit juga mengaku diperintah Erwin untuk mengatakan ke semua pihak kalau PO itu senilai 11,25 juta euro bukan 8 juta euro. Termasuk ke penyidik KPK dia juga diperintahkan untuk tak memberi tahu terkait PO 8 juta euro itu.

"Jadi saya disuruh bilang kalau misalkan nilai PO nya itu adalah 11,25. Jadi ya seperti itu, itu berkali-kali," katanya.




Untuk memuluskan PO itu, Erwin disebut memerintahkan office boy di perusahaanya untuk memalsukan tanda tangan Direktur, Sugih Gunawan. Pemalsuan itu bertujuan untuk memperkuat pemalsuan harga pemesanan yang semulanya ditetapkan pusat 8 juta euro menjadi 11,25 juta euro.

"Dalam BAP saksi 91 halaman 4 apakah saudra pernah diminta untuk meniru tanda tangan Supri Gunawan Direktur untuk tanda tangan PO nomor 025 tanggal 25 Juli dengan nilai 11,250 euro. Saksi jawab nggak pernah. Namun, saudara Erwin dan beberapa temannya pernah meminta diantara salah satu office boy yang bernama saudara Irwan Saputra untuk tanda tangani dokumen dengan cara memalsukan tanda tangan. Betul?" Kata jaksa dan dijawab 'iya' oleh Sigit.

Dalam kasus ini yang duduk sebagai tersangka adalah Erwin Sya'af Arief. Erwin didakwa memberi suap sebesar USD 911.480 atau Rp 12 miliar lebih ke Fayakhun Andriadi ketika menjabat sebagai anggota DPR. Erwin selaku Managing Director PT Rohde dan Schwarz Indonesia memberikan suap itu agar Fayakhun menambahkan anggaran proyek Bakamla pada APBN-P Tahun 2016.


(zap/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com