ADVERTISEMENT

Sebut Sriwijaya Fiktif dan Bajak Laut, Ini Referensi Ridwan Saidi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 29 Agu 2019 16:37 WIB
Ridwan Saidi (Ari Saputra/detikcom)


Adapun Claudius Ptolemaeus, yang disebut Ridwan juga sama, hidup di abad ke-1 Masehi, jauh sebelum Sriwijaya berdiri. Sebagaimana yang tertulis di laman Asosiasi Riset Roman Roads, Claudius merupakan orang Romawi keturunan Makedonia yang bekerja di Alexandria Mesir pada kuartal kedua abad pertama Masehi. Dia menulis sejumlah risalah, dari soal filsafat hingga geografi.


Kembali ke penjelasan Saidi. Saidi juga menegaskan semua buku tersebut sudah ia baca. Semuanya dia koleksi dan menurutnya buku-buku tersebut tidak gampang diperoleh.

Selain itu, Saidi menjelaskan, untuk mengetahui sebuah sejarah, tidak boleh lepas dari sejarah induk selanjutnya. Dia menganalogikannya ketika orang mempelajari sejarah Jawa, tidak boleh lepas dari sejarah Indonesia.

"Kalau you misal mempelajari sejarah Sidoarjo, tidak boleh lepas dari Jatim. Kalau mau mempelajari sejarah Jatim, tidak boleh lepas dari sejarah Jawa. Kalau mempelajari Jawa, tidak boleh lepas dari Indonesia. Mempelajari sejarah Indonesia, tidak boleh lepas dari sejarah Asia dan seterusnya," ujarnya.

"Jadi kita harus masuk dari sejarah dunia dulu. Itu namanya metode induktif," imbuhnya.


Sebelumnya, dalam sebuah video berdurasi 15 menit, Ridwan Saidi menyebut Kerajaan Sriwijaya itu fiktif. Selain itu, dia menyebut Sriwijaya itu bajak laut. Jawaban itu dia sampaikan dalam wawancara dengan Vasco Ruseimy.

"Sriwijaya ini kan kerajaan fiktif. Itu kan bajak laut yang berpangkalan di Koromandel," ujarnya.

"Tapi kan ada bukti-bukti sejarahnya?" tanya Vasco.

"Tidak ada. Semuanya dongeng. Nggak ada jejaknya. Jadi kirim pasukan Palembang. Bukan Sriwijaya. Itu waktu sudah kesultanan Palembang. Digebahlah Patih Terengganu ini," jawab Saidi tegas.
(dnu/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT