detikNews
Senin 26 Agustus 2019, 20:44 WIB

Mensos Lantik ASN Penyandang Disabilitas Jadi Pejabat Tinggi Pratama

Ahmad Toriq - detikNews
Mensos Lantik ASN Penyandang Disabilitas Jadi Pejabat Tinggi Pratama Mensos melantik Eva Rahmi (Foto: dok. Kemensos)
Jakarta - Masih ingat kasus drg Romi yang nyaris gagal lolos CPNS karena berstatus penyandang disabilitas? Kisah drg Romi bisa dikatakan berakhir bahagia karena akhirnya dia diangkat jadi CPNS. Di Kementerian Sosial, cerita berbeda dialami penyandang disabilitas yang diangkat jadi pejabat tanpa harus melewati 'drama' panjang seperti drg Romi.

Penyandang disabilitas yang kini jadi pejabat tinggi pratama Kemensos itu bernama Eva Rahmi. Hari ini Eva dilantik menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Kemensos.

"Ibu Eva kami tetapkan sebagai pejabat pimpinan tinggi pratama bukan karena beliau disabilitas. Tidak ada hubungannya dengan kondisi beliau, tapi karena memang menurut Panitia Seleksi (Pansel) Lelang Jabatan beliau memiliki nilai atau scoring yang tertinggi," kata Mensos Agus Gumiwang dalam siaran pers kepada wartawan, Senin (26/8/2019)


Eva adalah satu-satunya perempuan yang dilantik dan merupakan penyandang disabilitas pertama di Indonesia menduduki jabatan eselon 2. Sebelumnya, ia menjabat sebagai tenaga Fungsionaris Analisis Kebijakan Madya Biro Perencanaan Kemensos.

Kelima pejabat lain yang dilantik hari ini adalah Sanusi sebagai Kepala Biro Hukum, Laode Taufik Nuryadin sebagai Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, Muhamad Safii Nasution sebagai Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Hasim sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial, dan Beni Sujanto sebagai Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial.

"Saya ingin menyampaikan pesan untuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas bahwa tidak ada limit atau batasan bagi mereka untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, tidak ada batasan untuk memberikan kontribusi," kata Agus.


Pelantikan ini, Agus melanjutkan, juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Pasal 11 huruf G, yakni penyandang disabilitas mempunyai hak memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karir serta segala hal normatif yang melekat di dalamnya.

"Saya berharap hal ini bisa menginspirasi para ASN penyandang disabilitas di seluruh Tanah Air bahwa tak ada limit bagi mereka untuk bermimpi menempati jabatan atau posisi tertentu. Contohnya Ibu Eva, yang meraih nilai terbaik berdasarkan hasil seleksi terbuka dan terbukti kompeten di bidang yang beliau tekuni," tegas Mensos.

Eva Rahmi Kasim mengaku senang sekaligus bersyukur atas amanah dan kepercayaan yang diberikan.

"Ini menunjukkan bahwa kita semua setara," ujarnya.

Eva menuturkan proses seleksi jabatan dilaluinya sama seperti peserta yang lain. Dimulai dari proses seleksi administrasi, penyampaian makalah, seleksi kompetensi, hingga proses wawancara.

"Ke depannya, sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Sosial, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial akan menghasilkan riset-riset yang dapat menjadi bahan pertimbangan pembuatan keputusan dan kebijakan untuk mengatasi berbagai masalah-masalah sosial. Jadi setiap masalah sosial diatasi berdasarkan riset atau penelitian," ujar Eva.

Eva Rahmi Kasim lahir pada tanggal 23 Juli. Ia mendapatkan penghargaan Lencana Karya Satya dari Presiden RI pada tahun 2019 atas pengabdiannya selama 20 tahun sebagai ASN. Ia pernah menerima Australian Alumni Award dari Pemerintah Australia untuk kategori Tokoh Inspirasional. Ia juga menulis berbagai artikel tentang isu disabilitas yang diterbitkan oleh berbagai media nasional.

Eva merupakan alumni S-1 Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Indonesia (UI) kemudian melanjutkan S-2 di jurusan Ilmu Disabilitas, Deakin University, Melbourne, Australia.
(tor/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com