Ancaman Makin Kompleks, Ketua DPR Ajak Semua Elemen Bangsa Bela Negara

Ancaman Makin Kompleks, Ketua DPR Ajak Semua Elemen Bangsa Bela Negara

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Sabtu, 24 Agu 2019 18:18 WIB
Bamsoet (Foto: Dok. Istimewa)
Bamsoet (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan kaum muda terkait dampak perubahan peta geopolitik dan geostrategis bagi Indonesia. Perubahan itu menurut Bamsoet memaksa seluruh negara termasuk Indonesia menata ulang sistem keamanannya.

"Perubahan fokus isu secara signifikan mengubah peta geopolitik dan geostrategi hampir di seluruh kawasan, diikuti instabilitas yang potensial menjadi ancaman bagi eksistensi sebuah negara. Kondisi tersebut memaksa seluruh negara untuk menata ulang sistem keamanannya. Isu keamanan menjadi lebih komprehensif dan berorientasi global," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (24/8/2019).



Pernyataan Bamsoet itu disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional Ke-2 Pengurus Pusat Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Jakarta, Jumat malam (25/08).

Bendahara Umum DPP Partai Golkar 2014-2016 ini menjelaskan perkembangan teknologi dan informasi telah mempercepat arus informasi dan mobilitas manusia. Perkembangan itu, kata Bamsoet, bukan tidak mungkin menjadi pintu ancaman bagi keamanan suatu negara.

"Untuk menghadapi perkembangan ancaman yang makin beragam, Indonesia perlu menata kembali kekuatannya. Dalam konteks pertahanan negara, permasalahan ini tidak cukup ditangani hanya dari aspek kekuatan utama militer saja. Untuk membangun ketahanan nasional setidaknya ada tiga pilar yang harus saling terkait yaitu pemerintahan, rakyat dan militer. Ketiganya dijalin dalam simpul untuk memperkuat sebuah negara. Pemerintah dengan rakyat diikat dengan simpul ideologi," ujar Bamsoet.

Ancaman Makin Kompleks, Ketua DPR Ajak Semua Elemen Bangsa Bela NegaraFoto: Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) (Istimewa)




Bamsoet yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila mengingatkan kader SAPMA Pemuda Pancasila untuk menyadari pentingnya membela negara. Beban besar bangsa ini, sambung Bamsoet, akan terasa mudah jika semua pihak bersinergi.

"Sebagai bagian dari kaum intelektual, SAPMA Pemuda Pancasila harus memiliki semangat untuk turut serta dalam upaya bela negara. Bela negara dapat dilakukan melalui jalur formal dan jalur non formal. Terkait jalur formal, saat ini DPR RI tengah bersiap bersama pemerintah menyusun RUU tentang Pengelolaan Sumber Daya Manusia untuk Pertahanan. Pada saat RUU ini kelak menjadi UU, maka para SAPMA Pemuda Pancasila perlu mempelajarinya dengan seksama, sehingga dapat memahami prosedur-prosedur yang ada apabila berminat untuk mengabdikan diri melakukan bela negara," urai Bamsoet.



Selain itu, Bamsoet mengingatkan SAPMA Pemuda Pancasila untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan basis ideologi yang kuat tentang Pancasila. Dia berharap SAPMA Pemuda Pancasila dapat terus berada di garda terdepan dalam mengawal bangsa Indonesia.

"Di sisi lain, SAPMA Pemuda Pancasila harus menyadari juga bahwa kondisi masyarakat yang multikultur ini memiliki suatu kelemahan, yaitu rentan terhadap konflik horizontal yang mengakibatkan disintegrasi bangsa. Yang dimaksud dengan konflik horizontal adalah konflik antar kelompok atau masyarakat yang didasari atas adanya perbedaan identitas seperti suku, etnis, ras, dan agama. Konflik horizontal yang bersifat massal biasanya diawali dengan adanya potensi konflik yang kemudian berkembang dan memanas menjadi ketegangan, sampai akhirnya pecah menjadi konflik fisik," tutur Bamsoet.

"Kader SAPMA Pemuda Pancasila, apapun latar belakangnya harus ikut ambil bagian dalam melakukan pendidikan kesadaran bela negara minimal dari lingkungan terdekatnya terlebih dahulu, terutama keluarga. Tanamkanlah kesadaran ber-Pancasila secara terus menerus dalam diri setiap individu, dengan segenap kemampuan atau kesanggupan yang ada pada diri masing-masing," sambung Bamsoet.


Menhan : Tak Ada Lagi 01 dan 02, Semua Bersatu:

[Gambas:Video 20detik]



(knv/hri)