detikNews
Sabtu 24 Agustus 2019, 16:45 WIB

Kisah Dedi, Pengamen yang Hapus Tato demi Pekerjaan Lebih Baik

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Kisah Dedi, Pengamen yang Hapus Tato demi Pekerjaan Lebih Baik Foto: Dedi, salah satu pengamen yang hapus tato (Adhi Indra Prasetya)
Jakarta - Layanan hapus tato yang diselenggarakan oleh Islam Medical Service (IMS) dihadiri oleh puluhan anak punk dan jalanan. Salah satunya Dedi Fajar Sudrajat (30) yang merupakan seorang pengamen.

Ditemui detikcom di kolong Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (25/8/2019) sore, Dedi menghapus tato gambar tokoh kartun 'One Piece' di lengan kirinya. Tato itu adalah tato pertama di tubuhnya yang dia buat saat berlibur ke Lombok, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2001.

"Ya karena suka karakter 'one piece', saya suka nonton 'one piece' dulu," alasan Dedi menato tubuhnya.

Tiga bulan setelah ditato, Dedi tidak pulang ke rumahnya di Tambun, Bekasi, karena takut dimarahi orang tuanya. Dedi sempat membohongi orang tuanya soal tato di lengannya itu.

Dedi hapus tato karena ingin mendapat pekerjaan lebih baik.Dedi hapus tato karena ingin mendapat pekerjaan lebih baik. Foto: Puluhan Anak Punk Kolong Tebet Hapus Tato (Adhi Indra Prasetya)


"Tiga bulan saya nggak pulang, saya juga jarang di rumah juga sih. Pas pulang ke rumah, kaget orang tua. Ngakunya tatonya temporer doang, seminggu hilang, padahal permanen," jelas Dedi.

Setelah 18 tahun tato itu menghiasi tubuhnya, Dedi kini berubah pikiran. Dedi ingin menghapus tato itu.

Dedi berkeinginan menghapus tatonya karena ingin hijrahnya lebih baik lagi.

"Ini kan biar solatnya juga enak, buat kesehatan juga," katanya.

Apalagi kini Dedi sudah berkeluarga dan punya satu anak. Dia berharap kehidupannya lebih baik setelah menghapus tato tersebut.

"Sekarang mau hapus tato orang tua juga tahu. Alhamdulillah reaksinya baik," katanya.


Dikira Copet


Selain karena susah dapat pekerjaan, Dedi juga pernah mendapatkan pengalaman buruk soal tatonya itu. Dia disangka copet karena bertato dan penampilannya yang berambut gondrong.

"Dulu tahun 2012. Saya mau pulang ke Tambun, saya di stasiun Senen, lagi jakan, habis ngamen. Saya pernah disangka copet sama ibu-ibu, cuma karena saya bertato. Ibu itu ngomong 'kayak copet ya'. Saya bilang aja ke dia 'Bu, saya bukan copet, saya cuma pengamen, mau pulang naik kereta,'. Penampilan saya juga sih, celana robek-robek, rambut gondrong dulu," jelasnya.

Meski tidak semua orang bertato itu adalah orang tidak baik, namun Dedi memutuskan untuk menghapus tatonya karena ingin berhijrah. Dedi juga kini berambut pendek dan penampilannya lebih rapi.

Dia sering ditolak bekerja karena bertato.Dia sering ditolak bekerja karena bertato. Foto: Puluhan Anak Punk dan Jalanan Hapus Tato (Adhi Indra Prasetya)


Ditolak Kerja

Dedi juga merasakan susahnya cari pekerjaan gara-gara tato di tangannya. Setelah tes beberapa kali, Dedi selalu gagal ketika hendak tanda tangan kontrak karea dia ketahuan bertato.

"Sering. Terakhir itu 2017, sedikit lagi, sudah training, jadi sales promotion handphone, di Bekasi. Pas mau tandatangan kontrak, pas tahu saya tatoan, langsung diambil lagi surat kontraknya, nggak jadi. Pas lihat saya tatoan, 'oh tatoan ya, nggak bisa mas,' kata orangnya," katanya.

Dedi adalah lulusan SMK dan punya ijazah. Karena selalu ditolak ketika melamar pekerjaan, dia pun akhirnya menjadi pengamen.

"Jadi selama ini akhirnya ngamen aja. Padahal ijazah SMK sih ada, tapi karena ada tato jadi nggak bisa," katanya.

Dengan dihapus tatonya ini, Dedi berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

"Harapannya saya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik lagi," tandasnya.



(mea/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com