detikNews
Kamis 22 Agustus 2019, 16:10 WIB

Indonesia Gelar Pertemuan Bahas Pusat Data Maritim Elektronik

Nurcholis Maarif - detikNews
Indonesia Gelar Pertemuan Bahas Pusat Data Maritim Elektronik Foto: Kemenhub
Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menggelar Marine Electronic Highway (MEH) Working Group Intersessional Meeting di Hotel Aston Batam pada Kamis (22/8/2019). Pertemuan yang dihadiri oleh tiga negara pantai, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura serta perwakilan dari Malacca Straits Council (MSC) ini merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan 43rd Tripartite Technical Expert Group (TTEG) Meeting dan 10th MEH Working Group Meeting yang digelar di Singapura pada tahun 2018.

Direktur Kenavigasian, Basar Antonius, yang juga bertindak selalu Head of Delegation (HoD) Indonesia pada pertemuan ini mengungkapkan bahwa pertemuan ini diselenggarakan untuk membahas lebih lanjut serta review terhadap MEH Data Centre. Termasuk di antaranya harmonisasi format data dan rencana pengembangan serta pendanaan implementasi MEH.

Menurut Basar, MEH menggunakan inovasi teknologi terkini berfungsi untuk menciptakan jaringan dan memelihara infrastruktur informasi kelautan yang sangat berguna bagi seluruh stakeholders dan pengguna Selat Malaka dan Selat Singapura.

"Sebagai cikal bakal dari E-Navigation yang didukung penuh oleh International Maritime Organization (IMO), MEH diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pelayaran dan meminimalisir pencemaran lingkungan maritim. Tentunya perlu dibarengi dengan perbaikan operasi pelayaran dan penggunaan teknologi serta sistem manajemen yang baru," jelas Basar dalam keterangannya, Kamis (22/8/2019).


MEH Data Centre, ujar Basar, memiliki peranan yang vital untuk mengintegrasikan data meteorologi, pasang surut, arus, dan data lainnya yang berasal dari tiga negara pantai untuk nantinya disampaikan kepada pengguna melalui aplikasi web portal MEH. Namun demikian, dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, tentunya terdapat kebutuhan mendesak untuk memastikan MEH Data Centre dapat berfungsi secara optimal.

Menurut Basar, saat ini MEH Data Centre sudah tidak optimal fungsinya, baik dari sisi hardware maupun software mengingat usia dari perangkat tersebut serta tingkat kesulitan operasional dan maintenance-nya, khususnya dalam debugging software dan spare perangkat. Di samping hal tersebut, keadaan sensor station dari tiap-tiap negara dan data exchange yang tidak berjalan sejak tahun 2017 juga menjadi faktor penghambat yang lainnya.

Basar mengatakan pihaknya menyadari bahwa diperlukan restrukturisasi dan penataan ulang terhadap sistem dan infrastruktur MEH Data Centre yang terakhir dikembangkan pada tahun 2011 untuk dapat memenuhi persyaratan teknologi E-Nagivation terkini.

"Tantangan ke depannya adalah bagaimana MEH ini dapat difungsikan kembali dengan merubah total hardware dan software-nya, namun embrio MEH masih melekat walaupun struktur di dalamnya berubah. Perubahan ini tentunya harus mampu untuk memenuhi perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna di Selat Malaka dan Singapura," ujar Basar.


(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com