detikNews
Kamis 22 Agustus 2019, 12:44 WIB

KPAD Bantu Trauma Healing ke Siswi SMK di Bekasi yang Dipersekusi Senior

Isal Mawardi - detikNews
KPAD Bantu Trauma Healing ke Siswi SMK di Bekasi yang Dipersekusi Senior ilustrasi perundungan (Foto: iStock)
Bekasi - Siswi SMK di Bekasi berinisial G (16) menjadi korban perundungan oleh 3 seniornya. Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi memberikan bantuan konseling untuk memulihkan trauma korban.

"Ya kita perihatin terhadap kejadian ini masih menimpa anak-anak kita. Kemarin kita dapat informasi dari kepolisian dan teman-teman juga, dan juga kita mendelegasikan kemarin sudah ke rumah korban sudah kita sampaikan, dan kita jadwalkan trauma healing," ujar Ketua KPAD Kota Bekasi, Aris Setiawan, saat dihubungi, Kamis (22/8/2019).

Aris mengatakan trauma healing itu berupa konseling antara anak dengan tim psikolog KPAD. Tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan diri korban.



"Paling tidak upaya kita itu supaya si korban bisa kembali bersekolah bisa meraih cita-citanya, makanya kita berusaha meningkatkan kepercayaan dirinya. Itu trauma healing, itu upaya kita, kan sampai 5 hari nggak sekolah kan kasihan juga," ujar Aris.

Aris tidak bisa menentukan sampai kapan trauma healing akan berjalan. Ia mengatakan jadwal trauma healing disesuaikan dengan kesediaan korban.

"Tergantung anaknya ya. Kita tidak mematok seminggu ini, kalau running terus-terusan ya bagus. Tapi kita nggak bisa maksain, kita ngikutin kemauan si anak," ujar Aris.

Aris berharap pihak sekolah dapat memberikan alternatif jika korban tidak ingin bersekolah sementara waktu. "Kalau anaknya nggak mau sekolah disitu, dalam sementara waktu guru ngasih privat dirumah dan upaya-upayanya aja, sama-sama korban, pihak sekolah, sambungkan saja asalkan kedepannya si anak tetap bersekolah," ujar Aris.

Atas kejadian ini, Aris mengatakan pentingnya peran orang tua dan guru untuk mengawasi anaknya, terutama dalam menggunakan media sosial

"Ini kan awalnya dari media sosial baik pesan berantai dan sebagainya, orang tua dan guru penya peran penting, mulai diawasi anaknya.
Awasi anaknya dalam media sosial, dan sudah mulai ditegaskan bahwa kekerasan itu bukan jalan keluar. Jalin komunikasi antara orang tua dan anak, orang tua juga harus mulai kasih solusinya bagaimana," ujar Aris.



Semenjak kejadian perundungan pada Rabu (14/8), G hanya bersekolah pada Jumat (16/8). Selebihnya ia tak bersekolah.

"Takut diancem," ujar G saat ditemui di rumahnya, Jalan Perjuangan, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Rabu (21/8/2019).

Bahkan G berencana pindah sekolah. "Anaknya nggak mau sekolah, katanya mau pindah. Tiba-tiba mau pindah. Pas (setelah) kejadian itu," ujar ayah kandung korban, Ali Sadikin (44).

Diketahui, kekerasan dialami G diduga dipersekusi oleh 3 orang seniornya--yang juga perempuan. Diduga, perundungan (bullying) terjadi karena pelaku cemburu kepada korban. Akibatnya korban mengalami kekerasan seperti dijambak, dicekik, dan ditampar.

Atas kejadian ini orang tua korban melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Bekasi dengan nomor laporan LP/1983/K/VII/2019/SPKT/Restro Bekasi Kota pada Selasa (20/8). Mereka membawa barang bukti berupa video pengeroyokan anaknya.




Tonton video Ketahuan Merokok, Siswa SMA di Gorontalo Dianiaya Senior:

[Gambas:Video 20detik]


(rvk/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com