detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 22:36 WIB

Kisah Jokowi Naik Mobil Syekh Mohammed Saat Kunker di Abu Dhabi

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kisah Jokowi Naik Mobil Syekh Mohammed Saat Kunker di Abu Dhabi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Muktamar PKB (Antara Foto)
Denpasar - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkisah saat dia menumpang mobil Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UAE) Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan saat kunjungan ke Abu Dhabi.

"Saya ingin bercerita sedikit mengenai pertemuan saya dengan Syekh Mohammed dari UEA. Beliau ke sini, tapi sebelumnya 4 tahun yang lalu saya ke Abu Dhabi. Apa yg ingin saya sampaikan? Kita hanya ingin membandingkan perjalanan negara mereka dengan kita," kata Jokowi dalam pidatonya di Muktamar V PKB, Nusa Dua Bali, Selasa (20/8/2019).

Jokowi mengungkapkan, saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Abu Dhabi 4 tahun lalu, dia disambut langsung oleh Syekh Mohammed saat turun dari pesawat. Jokowi pun langsung diajak naik ke mobil milik Syekh Mohammed.


"Saya tidak ikut mobil yang sudah disiapkan. Naik mobil beliau (Syekh Mohammed) langsung. Yang nyetir beliau sendiri," ujar Jokowi.

Syekh Mohammed sempat meminta Jokowi untuk izin ke protokol. Namun hal tersebut diurungkan olehnya.

"Saya nggak usah izin, langsung naik begitu saja. Kalau saya ngomong pasti nggak boleh, 'Pak keamanan Pak, demi keamanan Pak'... nggak boleh," katanya.

Jokowi lalu masuk ke mobil dan mengunci pintu mobil tanpa memberi tahu protokoler. Jokowi mengungkapkan, mobil yang dikendarai Syekh Mohammed dirasakannya berjalan cukup pelan.

"Saya merasakan mobil biasa saja, pelan. Begitu tengok speedometer 190-200 km per jam. Karena mobil itu sangat bagusnya. Kita naikin enggak kerasa kencang sekali mobil beliau ini," ucapnya.

Jokowi mengatakan Syekh Mohammed dapat dengan mudah membawa mobil sendiri dan mengantarnya karena di negara tersebut sudah tidak ada lagi sistem protokoler seperti di Indonesia.


"Keprotokolan itu sudah tidak ada. Hampir tidak ada di sana. Begitu cepat, simpel dan sederhana. (Di Indonesia) sudah diatur-atur, ribet, ruwet. Ini di kita," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, di Indonesia terlalu banyak aturan, dari undang-undang, perpres, peraturan pemerintah (permen) pergub, perda, perwali, hingga perbupati. Menurut Jokowi, banyaknya aturan tersebut membuat masyarakat dijerat aturannya sendiri.

"Yang bingung kita sendiri. Yang nggak bisa cepat juga kita sendiri. Mau memutuskan, 'Pak' diingatkan, mau memutuskan cepat diingatkan. 'Pak hati-hati undang-undang nggak boleh. Mau memutuskan cepat, 'Pak hati-hati perpes juga tidak memperbolehkan'," ucap Jokowi.

"Lho, ini yang buat kita sendiri, kok kita yang nggak cepat gara-gara yang kita buat ini. Ini gimana ini," tuturnya.
(nvl/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com