Dilaporkan di Sana-sini, Kasus Ustaz Somad Masih Dikaji

Round-Up

Dilaporkan di Sana-sini, Kasus Ustaz Somad Masih Dikaji

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 20 Agu 2019 20:31 WIB
Uztaz Abdul Somad. (Foto: Mochamad Solehudin)
Uztaz Abdul Somad. (Foto: Mochamad Solehudin)
Jakarta - Ustaz Abdul Somad atau yang akrab disapa UAS dilaporkan sana-sini gegara video pengajiannya yang menjawab pertanyaan jemaah soal salib. Polri mengkaji sejumlah laporan terkait video ceramah UAS mengenai salib yang viral di media sosial.

Salah satu pelapor UAS datang dari perkumpulan masyarakat batak, Horas Bangso Batak (HBB). UAS dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena merasa dirugikan oleh ucapan UAS.

Laporan itu tertuang pada nomor laporan polisi LP/5087/VIII/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 19 Agustus 2019. Pelapor dalam hal ini Netty sendiri dan terlapor Ustaz Abdul Somad. Pasal yang dilaporkan yakni Pasal 156 KUHP terkait ujaran kebencian.

"Ada beberapa pernyataan juga yang dari pemeluk agama muslim yang menyatakan bahwa pernyataan Ustaz Abdul Somad itu keliru. Jadi kami sendiri di sini sebagai umat kristiani namun sesama umat muslim juga keberatan atas pernyataan yang disampaikan oleh beliau," kata Kuasa Hukum HBB, Erwin Situmorang kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/8/2019).



Erwin menjelaskan laporan yang dibuat di Polda Metro Jaya agar para ulama ataupun pendeta tak melakukan penghinaan terhadap agama lain. Dia ingin ada sikap toleransi dalam keberagaman di RI.

Adapun DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Jawa Timur yang juga melaporkan UAS ke Polda Jatim atas dugaan ujaran kebencian. Ketua DPD GAMKI Jatim Rafael Obeng mengatakan pelaporan ini dibuat lantaran banyak masyarakat nasrani yang resah atas ujaran UAS dalam video yang beredar di media sosial tersebut. Rafael ingin UAS segera mengklarifikasi.

DPD GAMKI Jatim menyatakan salib merupakan simbol agamanya. Rafael tak ingin beredarnya video UAS itu merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Dalam Kristen salib itu simbol dari agama Kristen dan Katolik. Kalau UAS menyampaikan itu terus dipersepsikan secara salah. Jadi hubungan relasi bernegara kita saudara kita menjadi rusak. Kita harapkan tidak begitu. Oleh karena itu kita datang ke Polda Jatim agar Polda Jatim memanggil UAS untuk mengklarifikasi itu," kata Rafel, Selasa (20/8/2019).



Video viral UAS mengenai salib bergulir panjang. Bahkan para pelapornya dilaporkan balik oleh Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Aliansi Anak Bangsa (AAB) serta Dewan Persaudaraan Relawan atas dugaan pencemaran nama baik. Kuasa hukum mereka, Pitra Romadoni, menyebut nama UAS dicemarkan.

"Kalau memang dia mau melaporkan ke polisi, silakan melaporkan gitu, tapi jangan dipermalukan seperti ini. Ini namanya mempermalukan orang dengan menyebar-nyebarkan tersebut," kata Pitra di Bareskrim, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).



UAS sendiri sudah angkat bicara. UAS memberikan tiga poin klarifikasi. Pertama, UAS menuturkan pernyataannya mengenai salib hanya menjawab pertanyaan dari anggota jemaah yang disampaikan dalam forum tertutup di masjid.

"Itu pengajian di dalam masjid tertutup, bukan di stadion, bukan di lapangan sepak bola. Bukan di TV, tapi untuk intern umat Islam menjelaskan pertanyaan umat Islam mengenai patung dan tentang kedudukan Nabi Isa. Untuk orang Islam dalam sunah Nabi Muhammad," jelas UAS.

UAS menegaskan pengajian tersebut juga sudah tiga tahun yang lalu. Kajian tersebut digelar di Masjid Annur, Pekanbaru.

"Karena rutin pengajian di sana, satu jam pengajian dilanjutkan diteruskan dengan tanya jawab, tanya jawab," kata UAS.



UAS pun heran kajiannya tiga tahun lalu viral baru-baru ini. Dia menegaskan tidak akan lari bila video yang viral itu disoal.

"Saya serahkan kepada Allah SWT. Sebagai warga yang baik saya tidak akan lari, saya tidak akan mengadu. Saya tidak akan takut, karena saya tidak merasa bersalah, saya tidak pula merusak persatuan dan kesatuan bangsa," ujarnya.

Polri saat ini masih mengkaji sejumlah laporan terkait video ceramah UAS mengenai salib itu. Bareskrim Polri mendalami unsur pelanggaran UU ITE terkait pelaporan itu.

"LP Abdul Somad sudah ada di SPKT Bareskrim, cuma sampai sekarang pelaporan tersebut masih di Karobinops. Soalnya kan apa itu memenuhi unsur ITE atau tidak, sedang dikaji," kata Kasubdit II Dirtippidsiber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).



Rickynaldo menyebut laporan itu akan ditindaklanjuti Dirtippidsiber Bareskrim jika terbukti memenuhi unsur pelanggaran ITE. Jika tidak, laporan akan ditangani Direktorat Tindak Pidana Umum, termasuk laporan UAS yang ada di sejumlah daerah.

"Jadi nanti tunggu keputusan pimpinan, apakah ditangani tim, apakah ditangani gabungan, apakah ditangani per direktorat," ucap Rickynaldo. (idn/jbr)