detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 14:51 WIB

Rusuh di Tanah Papua: Urutan Kejadian dan Penanganan Setelahnya

Tim detikcom - detikNews
Rusuh di Tanah Papua: Urutan Kejadian dan Penanganan Setelahnya Foto: Dampak pascakerusuhan di Manokwari (Antara Foto)
Jakarta - Kerusuhan yang terjadi di Papua Barat, tepatnya di Manokwari dan Sorong, pada Senin kemarin dipicu ketegangan di Asrama Papua di Surabaya dan Malang. Begini urutan kejadian dan penanganan krisis yang diwarnai pernyataan teduh antarkepala daerah.

15/8: Demo di Malang

Mulanya, pada Kamis (15/8/2019) sejumlah mahasiswa Papua berencana melakukan demo di depan Balai Kota Malang. Mereka tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat West Papua di Malang. Demo itu sendiri dimaksudkan dalam rangka memperingati 57 tahun perjanjian New York, dengan tema 'Amerika Serikat Harus Bertanggung Jawab Atas Penjajahan di West Papua'.


Namun, mereka tak mengantongi izin demo. Polisi lantas melakukan penghadangan terhadap mahasiswa Papua yang hendak melakukan unjuk rasa. Unjuk rasa itu berujung rusuh. Usai kerusuhan, muncul isu adanya pernyataan pejabat yang ingin memulangkan mahasiswa Papua.

16/8: Warga Geruduk Asrama Papua di Surabaya

Sehari kemudian dan di kota yang berbeda, gesekan terjadi. Ketegangan terjadi antara warga dan Mahasiswa lantas terjadi juga di Surabaya pada Jumat (16/8). Ratusan warga gabungan berbagai ormas di Surabaya menggeruduk Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan. Massa geram lantaran mendapatkan kabar bahwa mahasiswa asal Papua tidak mau memasang Bendera Merah Putih.

"Mereka tidak mau pasang bendera. Terus ketika dipasang oleh pihak Muspika bendera di depan, bendera dibuang oleh oknum mereka," kata salah satu massa Hari Sundoro, Jumat (16/8/2019).

"Ya jelas kita tersinggung, bendera kita dibuang. Kalau nggak mau pasang jangan tinggal di Indonesia apalagi di Surabaya," pungkas Hari.


Namun, seorang mahasiswa Papua membantah tuduhan tak mau memasang bendera itu. Dia mengaku tidak tahu menahu soal kasus bendera.

"Kalau soal itu (pembuangan bendera) kami tidak tahu menahu. Karena ada beberapa teman termasuk saya sendiri keluar untuk beli makan siang itu. Setelah masuk benderanya memang sudah tidak ada," kata salah satu penghuni Asrama Mahasiswa Papua Dorlince Iyowau kepada detikcom, Senin (19/8/2019).
Rusuh di Tanah Papua: Urutan Kejadian dan Penanganan SetelahnyaFoto Asrama mahasiswa Papua di Surabaya pasca penggrudukan (Amir Baihaqi)


Dorlince menuturkan, usai masuk asrama setelah membeli makanan pada Jumat (16/8) pukul 15.20 WIB, ada orang-orang yang menggebrak pintu. Sambil berkata rasis mereka menyuruh penghuni asrama keluar dan menantang beradu fisik.

"Jam 15.20 WIB kami kemudian didatangi dan gebrak-gebrak pintu dan ngata-ngatain kami monyet, babi, anjing keluar dan kata-kata rasis. Kemudian kami minta negosiasi atau pendekatan hukum. Kami mau klarifikasi bersama tapi pihak mereka tidak mau," tutur Dorlince.

17/8: Polisi Amankan Mahasiswa asal Papua

Usai penggerudukkan oleh sekelompok massa, polisi mengamankan 43 mahasiswa Papua dari Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya. Mereka dibawa ke Mapolrestabes Surabaya untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan pembuangan bendera merah putih.

"Saat ini kami ambil keterangan di Polrestabes Surabaya. Setelah selesai kami akan kembalikan ke asramanya. Seluruhnya ada 43. 40 laki-laki, 3 perempuan. Dan kita perlakukan dengan sangat baik. Kita berikan waktu mau ke belakang atau minum hak-haknya kita berikan semuanya," kata Wakapolrestabes Surabaya AKBP Leo Simarmata di Jalan Kalasan Surabaya, Sabtu (17/8/2019).

Leo menambahkan pihaknya akan meminta keterangan dari para mahasiswa terkait isu pembuangan bendera merah putih di got atau selokan.


Belakangan polisi menyatakan pengamanan 43 mahasiswa itu merupakan bentuk evakuasi dari situasi mencekam karena ada penggerudukan.

18/8: Mahasiswa asal Papua Dikembalikan


Setelah pemeriksaan, kemudian para mahasiswa dilepaskan. Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho mengatakan para mahasiswa mengaku tidak mengetahui soal pembuangan bendera.

"Dari hasil pemeriksaan mengakunya tidak mengetahui," kata Sandi saat dihubungi di Surabaya, Minggu (18/8/2019).

Tak hanya itu, Sandi menyebut masih belum ada keterangan dan barang bukti yang bisa dijadikan untuk menjerat seseorang menjadi tersangka.

19/8: Pecah Rusuh di Manokwari dan Sorong

Buntut peristiwa bentrok mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang ini lantas menjadi pemicu kerusuhan di Kota Manokwari, Papua Barat. Lalu lintas kendaraan di sejumlah jalan di Kota Manokwari, Papua Barat, macet total.

sejumlah ruas jalan di Manokwari terutama Jalan Yos Sudarso diblokade massa. Aktivitas masyarakat maupun arus lalu lintas lumpuh.

Tak hanya memblokade jalan, warga juga menebang pohon dan membakar ban di jalan raya. Aparat kepolisian sudah turun ke jalan guna mengendalikan situasi.

Warga jalan Sanggeng Manokwari, Simon, mengatakan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat Papua terhadap insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Dia mengatakan aksi ini agar pemerintah cepat menyelesaikan permasalahan mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Kerusuhan lantas melebar ke Sorong, Papua. Massa merusak Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, dan membakar sebagian barang di bandara. Hingga akhirnya, jadwal penerbangan Timika-Sorong dibatalkan hari ini.

Bentrok lantas terjadi di asrama Mahasiswa Papua di Makassar. Mahasiswa bentrok dengan masyarakat sekitar. Namun, menurut penuturan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah, bentrok ini hanya karena salah paham.

Nurdin Abdullah menceritakan awal mula terjadinya bentrokan di asrama mahasiswa Papua awalnya karena ada warga yang mendatangi asrama tersebut.

Nurdin menyebut warga tersebut bermaksud untuk memastikan bahwa keamanan mahasiswa Papua di Makassar terjamin. Namun, warga tersebut malah diusir.

Menkopolhukam Pastikan Provokator Diusut

Menko Polhukam Wiranto turut memberikan pernyataan soal peristiwa di Surabaya dan Malang yang berbuntut aksi massa di Papua dan Papua Barat. Wiranto menegaskan Pemerintah menjamin stabilitas nasional. Wiranto juga mengimbau masyarakat agar tidak terpicu provokasi.

"Kepada seluruh masyarakat, saya mengimbau agar tidak terpancing dan terpengaruh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak persatuan dan kedamaian kita sebagai bangsa yang bermartabat, ada itu berita hoax dan berita bohong, saya mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing, tidak terpengaruh," ujar Wiranto, Senin (19/8).

Jokowi Minta Saling Memaafkan

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi mengingatkan tentang kebaikan dalam memaafkan soal ketersinggungan masyarakat Papua terhadap kasus Surabaya dan Malang.

"Saudara-saudaraku, Pace, Mace, Mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah memaafkan. Emosi itu boleh, tetapi memaafkan lebih baik. Sabar itu lebih baik," kata Jokowi di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/8).

Para Kepala Daerah Teduhkan Situasi

Terkait hal ini, Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf kepada masyarakat Papua. Dia meminta maaf mewakili seluruh masyarakat Jawa Timur.

"Teman-teman semua ini antara lain yang terkonfirmasi ke beberapa elemen kemudian menimbulkan sensitivitas adalah kalimat-kalimat yang kurang sepantasnya terucap. Saya ingin menyampaikan bahwa itu sifatnya personal itu tidak mewakili masyarakat Jatim," kata Khofifah saat menemani kunjungan Kapolri di RS Bhayangkara Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Senin (19/8/2019).

Hal senada juga diungkapkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji, yang mengaku ingin bertemu dengan Gubernur Papua Lukas Enembe. Sutiaji mengucapkan permintaan maaf, atas insiden yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Kalaupun ada insiden kecil yang dimaknai besar, kalau antar masyarakat kami mohon maaf sebesar-besarnya. Siapapun berhak menyampaikan pendapat, asalkan tidak keluar dari koridor hukum," kata Wali Kota Malang Sutiaji kepada wartawan di Balai Kota Malang Jalan Tugu.


Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) meminta maaf bila ada kesalahpahaman terkait kejadian di asrama mahasiswa Papua. Dia menyesalkan adanya kejadian tersebut.

"Saya pikir itu tidak perlu saya, sekali lagi kalau memang itu ada kesalahan di kami di Surabaya, saya mohon maaf, tapi tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, tidak ada itu," kata Risma di kantor DPP PDIP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat.

Gubernur Papua Lukas Enembe pun turut angkat bicara. Dia lantas mengungkit cerita tentang sosok Gus Dur.

"Saya sampaikan orang Papua mencintai Gus Dur (Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid). Ibu gubernur (Khofifah) tuh kadernya Gus Dur, kenapa mahasiswa saya dianiaya seperti itu hanya karena masalah bendera, tidak dibenarkan," kata Lukas di halaman kantor Gubernur Papua, Jl Soa Siu Dok 2, Jayapura.

Rusuh di Tanah Papua: Urutan Kejadian dan Penanganan SetelahnyaFoto: Khofifah saat berdialog soal mahasiswa Papua (Hilda Meilisa Rinanda)

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko juga ikut bicara. Dia menegaskan tidak pernah mengeluarkan statement yang menyinggung warga atau mahasiswa Papua. Apa yang sebelumnya beredar dianggap tidak benar. Sofyan menanggapi pernyataan yang disampaikan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

"Mohon maaf, saya merasa tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti yang beliau Bapak Gubernur ungkapkan itu," kata Sofyan Edi kepada detikcom, Selasa (20/8/2019).


Dalam kesempatan itu, dia juga ingin menegaskan tidak pernah memiliki niat memulangkan mahasiswa Papua yang tengah menjalani studi di Malang. Sofyan juga mengajak untuk merekatkan tali persaudaraan.

"Mari kita bersama-sama tetap merekatkan tali persaudaraan sesama anak bangsa. Jangan sampai kabar yang tidak benar merusak segalanya," tutur Sofyan.

Oknum yang Teriak Rasis Diselidiki

Sementara itu, Polda Jatim juga bertindak. Saat ini Polda Jatim sedang menyelidiki oknum yang mengeluarkan kata rasis ke mahasiswa Papua. Kata rasis ini diduga diucapkan oleh oknum saat sejumlah ormas menggeruduk Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya.

"Ini kita lagi selidiki dan kita sudah komunikasikan berita-berita ini dan kita ada pihak-pihak yang memang ini kita akan komunikasikan dengan instansi yang terkait," kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan di Rumah Dinasnya di Jalan Bengawan Surabaya, Senin (18/8/2019) malam.
(rdp/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com