detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 13:51 WIB

Wali Kota, KPU dan Bawaslu Depok Sosialisasikan Politik ke Siswa SMA

Matius Alfons - detikNews
Wali Kota, KPU dan Bawaslu Depok Sosialisasikan Politik ke Siswa SMA Foto: Matius Alfons
Depok - Wali Kota Depok Idris Abdul Somad bersama KPUD dan Bawaslu Depok mensosialisasikan pendidikan politik kepada para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagai pemilih pemula, siswa SMA diimbau untuk tidak tabu terhadap politik.

"Pada hakekatnya politik itu baik, yang membuat politik tidak baik itu karena ulah manusianya. Politik adalah usaha untuk wujudkan kebaikan bersama, jadi jangan tabu terhadap politik," ujar Idris.

Hal itu diungkapkan Idris dalam kegiatan 'Sosialisasi dan Pendidikan Politik Pemilih Pemula Bagi Pelajar SMA/SMK se-Kota Depok. Peningkatan Partisipasi dalam Demokrasi" yang diselenggarakan di Wisma Hijau, Cimanggis, Depok pada Selasa (20/8/2019). Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Ketua KPUD Depok Nana Sobharna, dan Ketua Bawaslu Depok Luli Barlini.

Para pelajar diimbau untuk tidak tabu akan politik.Para pelajar diimbau untuk tidak tabu akan politik. Foto: Matius Alfons


Dalam kegiatan itu, Idris juga mengimbau para pelajar SMA untuk melek politik. Generasi milenial diminta tidak hanya menjadi penonton politik, melainkan sebagai pelaku politik.

" Jangan anti-politik, warga Depok jangan jadi penonton tapi jadi pelaku politik," katanya.

Pengenalan politik sedini mungkin terhadap pelajar SMA dinilai penting. Sebagai generasi penerus bangsa, diharapkan generasi milenial dapat mengendalikan politik dengan porsinya masing-masing.

"Politik sebenernya baik, yang membuat tidak baik ini pelakunya. Maka kita minta ke anak-anak milenial jangan anti politik tapi kendalikan politik ini pada porsinya," tutur Idris.



Lebih lanjut, Idris menilai pendidikan politik kepada anak-anak SMA dianggap penting untuk menjauhkan stigma buruk soal politik. Ribut-ribut yang dipertontonkan anggota dewan kerap kali menimbulkan citra buruk politik.

"Sebab yang ditangkap oleh mereka, yang sudah masuk ke dalam image mereka sebagian ini adalah sesuatu yang disampaikan dan dilihat simbol- simbol politik misal ribut-ribut parlemen, porak porandanya kehidupan kampus karena efek Pilkada dan Pileg. Ini yang buat sebagian antipati, kita ingin kembalikan itu, politik sebenernya baik, yang membuat tidak baik ini pelakunya," bebernya.

Untuk diketahui, Depok sendiri akan menggelar Pilwalkot di tahun 2020. Sehingga para pelajar perlu mendapatkan sosialisasi atas partisipasi mereka dalam Pilwalkot tersebut.

"Iya keterlibatan mereka juga diukur dari partisipasi mereka, maka kita perlu Kesbangpol untuk sosialisasi masalah kecerdasan politik bagi mereka. Mereka 'kan ada yang diantaranya masuk forum anak tadi mereka yang sampaikan juga, jadi lebih kenal," tutur Idris.

Kegiatan ini juga diisi oleh tanya-jawab dengan para pelajar. Dalam kesempatan itu Ketua Bawaslu Depok Luli Barlini sempat menanyakan terkait lembaga penyelenggara pemilu Indonesia. Pertanyaan itu dijawab seorang siswi SMA.

"Ada tiga, tapi yang satu saya lupa, yang saya tahu sejauh ini KPU dan Bawaslu," jawab siswi itu.

"Ada satu lagi apa? Satu lagi DKPP, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu," kata Luli.


(maa/mei)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com