detikNews
Senin 19 Agustus 2019, 20:20 WIB

Pertamina Dirikan Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan KDRT

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Pertamina Dirikan Rumah Aman Bagi Korban Kekerasan KDRT Foto: Pertamina
Tebing Tinggi - Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I bersama Pemkot Tebing Tinggi meresmikan bantuan CSR Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Hal tersebut dilakukan untuk memerangi upaya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Selain peresmian rumah aman, sebanyak delapan relawan pekerja muda Pertamina MOR I juga memberikan kelas inspirasi dan motivasi buat anak-anak korban KDRT. Kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan semangat anak-anak," ujar Unit Manager Communication Pertamina MOR I Roby Hervindo dalam keterangannya, Senin (19/8/2019).

Pada kesempatan tersebut, hadir Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, Kadis Pemberdayaan Perempuan, Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Nina Zubair.

Diketahui, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendokumentasikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai jenis kekerasan terhadap perempuan terbanyak pada 2018. Tak kurang dari 9.637 kasus, atau mencapai 71 persen.

Mirisnya, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat setiap tahunnya. Komnas Perempuan sendiri mencatat laporan kekerasan pada 2018 mencapai 406.178 kasus, naik 16,5 persen di banding laporan pada 2017 sejumlah 392.610 kasus.

Untuk mengatasi hal tersebut, Psikolog Rahmadani Hidayatin membeberkan beberapa tips dalam menghadapi KDRT.

Kenali KDRT

Menurut Rahmadani KDRT tidak melulu berbentuk kekerasan fisik. Tapi juga bisa berbentuk psikologis, seksual atau penelantaran rumah tangga.

"KDRT umumnya berdampak pada trauma, yang membuat batin tertekan. Trauma psikologis yang dialami korban KDRT dapat menyerang individu secara menyeluruh, baik fisik maupun psikis," ujarnya.

Pola Asuh Berpotensi Kekerasan

Dia menilai, orang tua kerap berupaya terlalu keras untuk membentuk anak sesuai keinginan sendiri. Tak jarang, orang tua juga merasa harus menunjukkan kekuatan agar anak merasa takut.

"Pola asuh semacam ini, menimbulkan potensi kekerasan pada anak. Ketika misalnya, anak tidak melakukan sesuai keinginan orang tua, maka ia akan dikenakan hukuman," terangnya.

Bangun Resiliensi Keluarga

Untuk mencegah KDRT tersebut, kata Rahmadani, perlu dibangun resiliensi keluarga. Yaitu kemampuan keluarga untuk menghadapi kesulitan, ketangguhan menghadapi stres, dan bangkit dari trauma.

"Untuk membangun resiliensi keluarga agar "tahan banting", diperlukan proses belajar. Berlatih menghadapi kegagalan dan keberhasilan dalam menghadapi situasi-situasi sulit," tuturnya.

"Orang tua dan anak, perlu membangun karakter-karakter yang membentuk resiliensi. Di antaranya ketekunan, yaitu mampu menyelesaikan apa yang dilakukan meski menghadapi hambatan," imbunya.

Keluarga pun, lanjutnya, mesti membangun kecerdasan sosial. Yaitu kemampuan beradaptasi dengan situasi sosial yang berbeda-beda. Perlu juga mengembangkan keberanian mengungkapkan kebenaran dan kekuatan menghadapi ancaman maupun rasa sakit.

"Keluarga yang dapat membangun resiliensi, akan lebih tahan banting dan lebih kecil mengalami stres," jelasnya.

Sementara itu, Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan menekankan pentingnya kesadaran orang tua dalam mendidik anak. Menngingat, ada kecenderungan menyerahkan pendidikan anak pada sekolah dan pemerintah.

"Ini perlu diluruskan, orang tua lah yang paling berperan dalam pendidikan anak," jelasnya.

Pemkot Tebing Tinggi, tambah Umar, mendukung pendidikan keluarga dengan kegiatan kerohanian. Seperti pengajian dan sosialisasi berkelanjutan.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com