detikNews
Senin 19 Agustus 2019, 07:14 WIB

Pandangan Sejarawan Tentang Video HUT RI Versi Lelang yang Picu Kontroversi

Arief Ikhsanudin - detikNews
Pandangan Sejarawan Tentang Video HUT RI Versi Lelang yang Picu Kontroversi Anhar Gonggong (Foto: Usman Hadi/detikcom).
Jakarta - Sejarawan memberikan pandangan tentang video HUT ke-74 RI versi pelelangan (open bidding) yang memunculkan kontroversi. Video tersebut menyebut tahun-tahun yang menjadi potensi perpecahan. Lantas benarkah faktanya demikian?

Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong, awalnya mengaku belum tahu isi video yang ramai dibahas itu. Setelah dibeberkan mengenai peristiwa-peristiwa dalam isi video tersebut, Anhar menyebut Indonesia memang sering dilanda perpecahan.

"Kalau perpecahan sepanjang kita merdeka ya banyak sekali. Memang benar seperti itu. Kita pecah melulu," ucap Anhar saat dihubungi, Minggu (18/8/2019) malam.

Anhar lantas menyinggung salah satu peristiwa dalam sejarah Indonesia yaitu peristiwa Tanjung Priok pada 1984. Pada peristiwa itu, ada perpecahan yang membuat aparat berbuat kekerasan kepada massa.

"Iya waktu itu kan juga pasukan ABRI ketika itu ke Tanjung Priok menghabisi orang Islam ketika itu. Memang ada perpecahan itu. Tapi ngapain, mau didengar, udah selesai, tidak ada lagi kok. Itu cuma bagian dari kehidupan kita, untuk jadi pengalaman, ngapain kita harus ulangi lagi," sebut Anhar.

Bagi Anhar, yang lebih baik adalah belajar dari konflik dan perpecahan-perpecahan yang terjadi. Sehingga, menurut Anhar, masyarakat bisa menata negara Indonesia menjadi lebih baik.

"Memang itu fakta sejarah. Dalam kehidupan kita, dalam satu bangsa ada proses yang kita hadapi memang seperti itu. Termasuk kita sebagai bangsa baru banyak persoalan yang harus kita hadapi. Kita baru merdeka Belanda menolak, kita pecah, ada setuju berunding ada enggak," kata Anhar.

"Bagaimana sikap kita, bukan lupakan tapi jadi pengalaman agar kita atur republik ini dengan sebaik-baiknya. Kita berpegang pada Pancasila singkatnya," ujarnya.

Sementara itu, sejarawan dari Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein menilai, tahun-tahun yang disebut dalam video viral itu memang ada tendensi untuk perpecahan. Tapi, akhirnya konflik itu bisa diredam oleh penguasa.

"Tendensius, seperti itu, mereka belum pernah berhasil sebagai satu kesatuan perpecahan yang eksis," ucap Rusdi.

Beberapa peristiwa, sambung Rusdi, ada yang belum diketahui apakah itu masuk dalam kategori perpecahan atau tidak. Tapi, memang ada indikasi ke arah sana seperti peristiwa Tanjung Priok 1984.

"Kalau itu dilanjutkan, mereka itu, kira-kira pemerintah pusat menganggap mereka tendensius keluar. Tapi kalau baru naro kaki di luar rel, tendensius tuh, belum diketahui atau hanya sebagai anti saja di bidang pemerintah," ucap Rusdi.

Bagi Rusdi, satu-satunya perpecahan yang paling terlihat adalah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Mereka disebut Rusdi dengan jelas memproklamasikan kemerdekaan.

"DI/TII itu percobaan jenius, tapi akhirnya dengan ketentuan diambil oleh pemerintah pusat, sejauh mereka bisa diatasi melalui gerakan penumpasan. Jadi kalau dilihat pemerintah itu, pertanyakan dianggap sudah jelas," kata Rusdi.

Sebelumnya, kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf memastikan video HUT ke-74 RI versi open bidding (lelang) yang memicu kontroversi bukan buatan Bekraf. Dia juga meminta maaf lantaran sempat mengunggah video tersebut.

Saat ditemui di Istora Senayan, Minggu (18/8/2019), Triawan menjelaskan bahwa dia diminta oleh teman untuk mengunggah video tersebut. Video itu sendiri menyinggung PKI di 1965, peristiwa tahun 1984 di Tanjung Priok, kerusuhan 1998, hingga kericuhan seusai Pemilu 2019.

Secara pribadi, Triawan merasa pesan di video itu bagus, yaitu ada potensi perpecahan di setiap event. Triawan menilai video itu tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa-siapa. Justru masyarakat diajak untuk hidup damai dan tetap bersatu.

"Di tahun '98 itu, saya juga bagian dari '98. Masak, saya mau menyalahkan reformer, kan nggak mungkin. Yang salah adalah orang-orang yang belum ketahuan siapa sekarang ini, katanya melakukan banyak kekerasan, perkosaan, dan lain-lain, itu yang salah, tapi kan tidak diuraikan di video itu," kata Triawan.

"Memang berpotensi salah interpretasi, saya mohon maaf sudah meng-upload sesuatu yang bisa diinterpretasikan macam-macam, tapi tujuannya bagus kok," ujarnya.

Berikut ini isi video yang menimbulkan pro dan kontra di media sosial tersebut:

Silakan Bapak Ibu, tawaran perpecahan dimulai di atas 1945.
Lelang dimulai. Oke, penawar pertama.
1948 kita punya PKI. Ada lagi? Ada lagi?
Yak makin naik 1950 ada Republik Maluku Selatan. Ada yang lebih tinggi?
Yak 1953 diajukan DII/TII.
Oke 1957 ada Permesta.
1958. 1958. Ada yang berani di 1958? Yak 1958 oleh PRRI.
Oke, PKI kembali di 1965. Ada lagi?
Yak Gerakan Aceh Merdeka berani di 1976. Ada yang lebih dari Gerakan Aceh Merdeka?
1982. Yak, Organisasi Papua Merdeka menawar pemberontakan di 1982. Ada lagi yang bisa lebih?
Oke. 1984 oleh kerusuhan Tanjung Priok.
Yak di sana 1998 kerusuhan Mei.
Yak menembus angka 2000. Ada 2019 kericuhan Pemilu.
Ada lagi? Ada lagi?
Dan hingga kini masih banyak yang berharap bisa memecah negeri ini. Tapi semoga harga kita untuk Indonesia yang satu takkan pernah bisa ditawar.



Tonton video Bagi Daniel Mananta, Bangsa Ini Masih Mudah Diadu Domba:

[Gambas:Video 20detik]


(aik/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com