detikNews
Senin 19 Agustus 2019, 06:40 WIB

Round-Up

Permintaan Maaf Triawan Munaf Gegara Video Kontroversial

Tim detikcom - detikNews
Permintaan Maaf Triawan Munaf Gegara Video Kontroversial Triawan Munaf (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Video terkait HUT ke-74 RI yang diunggah Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, berbuntut panjang. Setelah video itu jadi kontroversi, Triawan Munaf akhirnya minta maaf.

Video yang menimbulkan pro dan kontra itu berkonsep bagaikan pelelangan (open biding). Video itu berlatar belakang hitam, lalu muncul suara pria yang seakan-akan sedang memimpin lelang. Bukan barang yang disebutnya melainkan peristiwa-peristiwa yang memunculkan perpecahan setelah Indonesia merdeka. Video itu menyinggung PKI di 1965, peristiwa tahun 1984 di Tanjung Priok, kerusuhan 1998 hingga kericuhan usai Pemilu 2019.



Berikut isi video HUT RI yang dimaksud:

Silakan bapak ibu tawaran perpecahan dimulai di atas 1945.
Lelang dimulai. Oke, penawar pertama.
1948 kita punya PKI. Ada lagi? Ada lagi?
Yak makin naik 1950 ada Republik Maluku Selatan. Ada yang lebih tinggi?
Yak 1953 diajukan DII/TII.
Oke 1957 ada Permesta.
1958. 1958. Ada yang berani di 1958? Yak 1958 oleh PRRI.
Oke, PKI kembali di 1965. Ada lagi?
Yak Gerakan Aceh Merdeka berani di 1976. Ada yang lebih dari Gerakan Aceh Merdeka?
1982. Yak, Organisasi Papua Merdeka menawar pemberontakan di 1982. Ada lagi yang bisa lebih?
Oke. 1984 oleh Kerusuhan Tanjung Priok.
Yak di sana 1998 Kerusuhan Mei.
Yak menembus angka 2000. Ada 2019 kericuhan Pemilu.
Ada lagi? Ada lagi?
Dan hingga kini masih banyak yang berharap bisa memecah negeri ini. Tapi semoga, harga kita untuk Indonesia yang satu takkan pernah bisa ditawar.



Di media sosial, video ini memunculkan pro dan kontra. Triawan juga dikritik karena sempat mengunggah video tersebut. Akhirnya, dia beberapa kali membalas cuitan netizen di Twitter dan memberikan klarifikasi.

"Terima kasih atas kritik dan masukannya. Perlu saya klarifikasi bahwa video itu bukan buatan atau dibiayai oleh @bekrafID, saya memforward video kreasi @wahyukentjana Mohon maaf sedalam-dalamnya apabila dirasa konten video forward saya tsb tidak akurat," tulis Triawan.



Saat ditemui di Istora Senayan, Minggu (18/8/2019), Triawan menjelaskan bahwa dia diminta oleh teman untuk mengunggah video tersebut. Dia menegaskan tidak membuat video tersebut.

"Itu bukan punya saya, itu saya diminta oleh teman untuk upload itu, saya upload. Karena message-nya bagus bahwa, ada potensi pepercahan di setiap event. Jadi bukan menyalahkan satu event siapa yang salah, bukan," ujar Triawan di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (18/8/2019).



Menurutnya, pesan dari video 'open bidding' itu ialah masyarakat Indonesia mesti hidup damai agar kesatuan dan persatuan tidak pecah. Tidak ada niat menyalahkan siapa-siapa lewat video itu.

"Itu tidak menyalahkan siapa-siapa. Jadi kita mesti hidup damai, mesti hidup apa namanya nggak boleh ribut-ribut supaya, kesatuan kita tidak terkoyak-koyak, itu aja, bahwa Indonesia sudah melalui berbagai, tidak menyalahkan siapa-siapa. Di video itu juga tidak menyalahkan siapa siapa kan," ujar Triawan.



Dia mengakui video HUT RI versi lelang itu memang memunculkan bermacam-macam interpretasi. Oleh sebab itu, Triawan minta maaf sempat mengunggahnya.

"Di tahun 98 itu, saya juga bagian dari 98. Masa saya mau menyalahkan reformer, kan nggak mungkin. Yang salah adalah orang-orang yang belum ketahuan siapa sekarang ini, katanya melakukan banyak kekerasan, perkosaan dan lain-lain, itu yang salah, tapi kan tidak diuraikan di video itu," kata Triawan.

"Memang berpotensi salah interpretasi, saya mohon maaf, sudah mengupload sesuatu yang bisa diinterpretasikan macam-macam, tapi tujuannya bagus kok," pungkasnya.
(imk/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com