detikNews
Sabtu 17 Agustus 2019, 23:46 WIB

Laporan Dari New Delhi

Kisah WNI di India Tolak Tawaran Pindah Warga Negara karena Cinta NKRI

Haris Fadhil - detikNews
Kisah WNI di India Tolak Tawaran Pindah Warga Negara karena Cinta NKRI Perayaan HUT ke-74 R di KBRI New Delhi, India (Haris Fadhil/detikcom)
New Delhi - Ada kisah menarik dari salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang berkiprah sebagai pelatih timnas bulu tangkis India, Dwi Kristiawan. Pria yang sudah jadi pelatih badminton di India sejak 2012 ini pernah ditawari jadi warga negara India, namun menolak karena tetap cinta Indonesia.

"Sempat kok kemarin ditawarin suruh pindah warga negara. Disuruh bikin paspor India. Saya nggak mau. Saya tetap Indonesia. Nggak mau saya di sini cukup kerja saja," kata Dwi usai peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74 di KBRI New Delhi, India, Sabtu (17/8/2019).

Dwi merupakan satu dari puluhan pelatih bulu tangkis asal Indonesia yang ada di India. Dia merupakan salah satu tim pelatih saat pasangan ganda India, Rankinreddy-Shetty, juara di Thailand Open 2019 atau BWF World Tour Super 500.


Kisah WNI di India Tolak Tawaran Pindah Warga Negara karena Cinta NKRIDari kiri ke kanan: Hariawan, Tri Prasetyo, Dwi Kristiawan (Haris Fadhil/detikcom)

"Posisi saya dari tahun 2012 saya stay di Hyderabad di national team India. Pelatih timnas. (Atlet yang antara lain pernah dilatih) Sindhu pernah dan Saina. Akhir-akhir ini saya pegang double itu. Yang ini juga double di India baru pertama kali juara Super Series 500 di Thailand juara 1. Saya sama Flandy Limpele eks pelatnas," ucapnya.

Tak cuma Dwi, ada juga pelatih badminton lainnya yang berkiprah di India, seperti Tri Prasetyo dan Hariawan. Prasetyo menyebut akademi badminton di India berkembang sangat pesat dan diminati banyak orang.

Pelatih asal Indonesia, kata Prasetyo, diminati akademi di India karena punya disiplin tinggi. Pelatih asal Indonesia juga dinilai bertanggung jawab terhadap para atlet yang dilatih.


"Diminati karena pekerja keras, disiplin, tanggung jawabnya besar," ujar Prasetyo.

Yuliarti Ilyas bekerja sebagai pelatih menembak di IndiaYuliarti Ilyas bekerja sebagai pelatih menembak di India (Foto: Haris Fadhil/detikcom)

Selain pelatih badminton, ada juga WNI yang berkiprah sebagai pelatih tembak di India, Yuniarti Ilyas. Dia menyebut dalam cabang menembak, India masih lebih unggul dibanding Indonesia.

"Kebetulan juga menembak di India sudah lebih maju daripada di Indonesia. Saya merasakan skill saya bertambah sejak saya melatih di sini. Setiap hari ada saja pelajaran yang saya dapat dan mereka sudah mencapai di tingkat Olimpiade, tahun 2020 kami dari shooting academy tempat saya bekerja gun for glory shooting academy itu juga akan mengirimkan beberapa atlet untuk ke Olimpiade," ucap Yuni.


Yuni sudah membawa anak-anaknya untuk tinggal dan sekolah di India. Namun, dia mengatakan tak pernah berniat untuk pindah kewarganegaraan meski ada yang menawarkan.

"Saya nggak mau. Saya bangga jadi orang Indonesia. Saya sewaktu masih jadi atlet, saya bawa nama Indonesia. Sewaktu saya jadi pelatih, ada rasa itu, saya melatih India, tapi saya orang Indonesia. Saya orang Indonesia yang melatih India," ujarnya.

Widdiyawan mengatakan jadi pilot asing di India tidak mudahWiddiyawan mengatakan jadi pilot asing di India tidak mudah (Foto: Haris Fadhil/detikcom)

Pelatih atlet rupanya cuma salah satu dari banyak profesi yang dikerjakan orang Indonesia di India. Ada juga Widdiyawan yang merupakan salah satu pilot asal Indonesia di Spicejet, maskapai asal India.


Widdiyawan menyebut menjadi pilot asing yang bekerja di maskapai India sangat sulit karena ada beberapa tes yang harus dilewati. Bahkan, katanya, banyak co-pilot berkewarganegaraan India yang gagal tes menjadi pilot.

"Untuk jadi captain di India itu paling susah, saya sudah. Setahu saya dari teman-teman co-pilot yang orang India, mereka itu udah tua, banyak jam terbang, nggak lolos di DGCA (Directorate General of Civil Aviation)," ucap Widdiyawan.
(haf/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com