detikNews
Jumat 16 Agustus 2019, 20:18 WIB

Meski Bisa Tekan Polusi, BMKG Tak Rekomendasikan Hujan Buatan di DKI

Zakia Liland Fajriani - detikNews
Meski Bisa Tekan Polusi, BMKG Tak Rekomendasikan Hujan Buatan di DKI Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Jakarta - Hujan buatan merupakan salah satu upaya untuk menekan tingkat polusi. BMKG mendukung ada hujan buatan, namun saat ini belum ada bibit-bibit awan yang merupakan syarat awal modifikasi cuaca.

"Ya betul tidak hanya BMKG, jadi pemerintah sudah siaga tentang hal tersebut berapa bulan yang lalu. Sudah menyiapkan teknologi untuk membuat hujan buatan, yaitu disiapkan oleh BPPT bersama BNPB, dan BMKG mendukung. Persoalannya saat ini untuk membuat hujan buatan itu perlu bibit-bibit awan," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat ditemui wartawan di Gedung C Kompleks BMKG, Jl Angkasa, Jakarta Pusat, Jumat (16/8/2019).

Dia mengatakan citra satelit Himawari menunjukkan belum ada awan di atas kepulauan Indonesia. Pembuatan hujan buatan baru dapat dilakukan ketika ada bibit-bibit awan.



Dwikorita mengatakan BMKG di daerah juga terus memantau munculnya bibit awan. BMKG akan berkomunikasi dengan BNPB, TNI, dan BPPT ketika berhasil memantau adanya bibit-bibit awan yang bisa disemai menjadi hujan buatan.

"(BMKG) terus memantau kondisi cuaca jadi kalau untuk membuat hujan buatan itu perlu kondisi cuaca saat ini, diharapkan ada perubahan yang sifatnya lokal, analisis kami ini kan, analisis yang makro, sehingga kami masih berharap untuk kondisi yang mikro ini kalau ada sedikit awan yang bisa untuk segera disemai dijadikan hujan buatan, segera kami komunikasi dan kordinasikan dengan BPPT, BNPB, dan juga TNI," ujarnya.

Namun, BMKG tidak merekomendasikan adanya hujan buatan di Jakarta meski tingkat polusinya terpantau tinggi. Menurutnya hujan buatan lebih prioritas untuk daerah yang jadi lumbung pangan.

"Tidak (rekomendasikan) ya, malah justru bukan. Karena hujan buatan itu prioritasnya adalah untuk lumbung pangan, sentra pangan. Sehingga kalau hujan tidak turun di sana kan nanti panen bisa terganggu. Jadi, prioritasnya lebih ke arah untuk daerah sentra pangan," kata Dwikorita.



Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi menyebut udara yang dihirup masyarakat sudah kotor karena polusi di Jakarta sudah parah. Dia meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan segera melaksanakan hujan buatan. Saat ini sedang dalam kondisi kemarau dan sudah lama tidak turun hujan.

"Nah itu saya mengimbau kepada Pak Gubernur untuk dibuat hujan buatan. Hujan buatan, bagaimana caranya kan bisa dari ahlinya," ucap Prasetio kepada wartawan di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (31/7).

BPPT sendiri juga sempat ingin membuat hujan buatan untuk mengatasi polusi di Jakarta. Awalnya, BPPT ingin menerapkan hujan buatan sebelum siswa masuk sekolah setelah liburan panjang.

"TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) untuk mengatasi pencemaran udara yang disebabkan kegiatan perekonomian baru pertama kali dilaksanakan. Gubernur DKI Jakarta sudah beri lampu hijau dan meminta agar TMC dilaksanakan paling cepat setelah tanggal 10 Juli dan paling lambat sebelum periode anak sekolah masuk pasca libur (15/7)," ungkap Kepala BPPT Hammam Riza, dalam keterangannya, Kamis (4/7).



Terkait rencana itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai usulan BPPT belum matang. Saat itu, Anies mengatakan Pemprov DKI tengah menyiapkan rencana jangka panjang dan jangka pendek untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

"Soal hujan (buatan), nanti sesudah matang baru diumumkan. Menurut saya BPPT offside tuh, jadi sebelum matang, sebelum semuanya siap, baru kita (umumkan)," ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (5/7).

Terkait pernyataan Anies, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan pihaknya hanya menawarkan bantuan kepada DKI untuk menangani masalah polusi udara. Dia mengatakan hujan buatan memang solusi jangka pendek. Namun hujan buatan bisa untuk meredam keresahan masyarakat DKI soal polusi udara.

"Pak Anies menginginkan solusi terhadap polusi udara yang matang untuk jangka panjang. Sedangkan kan TMC sudah matang untuk jangka pendek, seperti mengatasi kebakaran hutan dan lahan, sebagai upaya mitigasi bencana," kata Hammam saat dihubungi detikcom, Jumat (5/7).


Simak Video "Kreatif! Kampung Ini Bikin Hujan Buatan"

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com