Banyak Selter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan

Banyak Selter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Kamis, 15 Agu 2019 15:19 WIB
Banyak Shelter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan (Sachril/detikcom)
Banyak Shelter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan (Sachril/detikcom)
Bogor - Banyak selter yang tidak berfungsi di Jalan Raya Pajajaran sampai Jalan Raya Tajur, Kota Bogor. Kondisinya sangat memprihatinkan dan, pada malam hari, selter itu jadi lapak para pengemis untuk tidur.

Pantauan detikcom, Kamis (15/8/2019), di selter Pakuan 2, Jalan Raya Tajur, Bogor Timur, Kota Bogor, terdapat sampah. Dinding di dalam tempat tersebut berdebu. Terlihat pula pintu rolling door selter rusak. Pada selter itu juga tumbuh semak belukar.

Hal yang sama terlihat di selter PDAM 1. Pintu di selter tersebut rusak. Banyak daun di lantai dan terlihat ada coretan di kaca.



Tukang parkir Majestyk Bakery and Cake Shop, Obay (42), mengatakan selter yang tidak terpakai itu dulu adalah tempat pemberhentian bus Transpakuan. Namun, sejak bus Transpakuan tidak memiliki trayek Ciawi-Baranangsiang, selter itu menjadi terbengkalai.

"Terkadang kalau malam menjadi tempat pengemis untuk tidur juga," katanya di Majestyk Bakery and Cake Shop, Jalan Raya Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Kamis (15/8).

Ia menambahkan selter Pakuan 2 sempat direnovasi. Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) datang untuk memperbaiki selter tersebut. "Kadang juga datang orang Dishub buat lakukan pengecekan," lanjutnya.

Banyak Selter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya MemprihatinkanBanyak Shelter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan (Sachril/detikcom)


Pedagang kopi yang berjualan di Jalan Raya Pajajaran, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Ujang (45), menjelaskan selter PDAM 2 juga dipakai orang-orang untuk berteduh ketika hujan.

"Kalau yang mencoret-coret itu dari orang tidak bertanggung jawab. Sebelumnya kan sudah pernah diperbaiki, yang rusak dibetulkan, yang kotor dibersihkan," kata Ujang.

Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor Jimmy Hutapea mengatakan selter tersebut diperuntukkan bagi angkutan massal.

Banyak Selter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya MemprihatinkanBanyak Shelter Transpakuan Bogor Terbengkalai, Kondisinya Memprihatinkan (Sachril/detikcom)


"Bus Transpakuan masih ada, di trayek Bubulak. Cuma sekarang ini sudah tidak ada trayek Ciawi-Baranangsiang. Ada dua model selter di Kota Bogor, yakni non-Bus Transit System (BTS) dan BTS. Kalau non-BTS untuk angkutan umum (angkot). Sementara selter BTS, untuk angkutan massal yang berupa bus sedang dan perintis angkutan massal atau yang dikenal dengan angkot modern. Yang terkait bus Transpakuan itu, selter BTS," katanya di kantor Dishub Kota Bogor, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Kamis (15/8).

Jimmy menjelaskan Pemkot Bogor melalui Dishub sudah menyiapkan sarana dan prasarana berupa penyediaan selter. Selter yang ada pun diperbaiki dan ditambah.

Namun selter BTS yang ada sekarang tidak berfungsi akibat beberapa faktor. Faktor itu adalah tidak adanya pengadaan kendaraan dari swasta, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang tidak bisa memberikan subsidi, dan penolakan dari sebagian masyarakat.

Ia mengungkapkan selter BTS yang sebelumnya dipakai sebagai tempat pemberhentian bus Tranpakuan itu akan dioperasikan kembali pada 2018. Namun, karena pihak swasta tidak mampu mengadakan kendaraan, selter tersebut menjadi tidak berfungsi optimal.

"Kota Bogor mengembangkan angkutan massal dengan pola konversi angkot, angkot menjadi bus sedang. Jadi untuk mendukung program ini, pemerintah menyiapkan infrastruktur, prasarananya. Mereka (swasta) yang menyiapkan mobilnya. Nah pemerintah sudah menyiapkan (selter), tapi ternyata badan hukumnya belum siap dalam pengadaan busnya," tutur Jimmy.

Dia menjelaskan ketidakmampuan swasta menyiapkan kendaraan karena tidak memiliki modal. Mereka (swasta) juga tidak mampu mencari investor.



Pemkot Bogor, katanya, memiliki program konversi angkutan umum. Program itu adalah mengonversi tiga angkot menjadi satu bus sedang dan mengganti tiga angkot menjadi dua angkot modern. Namun, karena tidak ada modal dari pihak swasta, bus tidak jadi beroperasi.

"Mereka belum siap anggaran atau dana untuk beli bus. Karena beli bus dananya sekitar Rp 800 jutalah satu busnya. Sementara harga angkot mereka sendiri, paling ketika tiga angkot mereka dijual, harganya sekitar Rp 100 juta," ungkap dia.

Jimmy juga menerangkan Pemkot Bogor akan mengevaluasi kembali konsep konversi angkot yang ada sekarang. "Tapi kita tetap mendorong untuk meningkatkan efisiensi angkutan umum, kita sudah harus beralih dari angkutan umum menjadi angkutan massal," pungkasnya. (rvk/rvk)