detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 09:14 WIB

Respons Tim Kemanusiaan Nduga, Polri Tegaskan Tetap Kejar KKB di Papua

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Respons Tim Kemanusiaan Nduga, Polri Tegaskan Tetap Kejar KKB di Papua Brigjen Dedi Prasetyo (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Polri menanggapi Tim Kemanusiaan Nduga yang menyebut usulan Wapres Jusuf Kalla (JK) agar aparat kemananan melakukan serangan balik ke KKB usai penembakan Briptu Hedar bisa menambah rumit keadaan. Polri memaparkan tiga pendekatan untuk menyelesaikan konflik di Nduga.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan tiga pendekatan tersebut adalah pendekatan preemptive, preventif dan penegakan hukum. Kegiatan preemptive ini dilakukan Tim Satgas Nemangkawi.

"Melakukan edukasi, melakukan pelatihan, pelatihan itu pelatihan bercocok tanam. peternakan kemudian juga melakukan yang lain," kata Dedi saat dihubungi Rabu (14/8/2019) malam.



Sedangkan tindakan preventif dilakukan dengan memberikan imbauan kepada masyarakat agar tak terlibat KKB. Patroli kewilayahan juga digencarkan.

"Tindakan preventif kita melakukan penyekatan-penyekatan, patroli-patroli dan imbauan-imbauan kepada masyarakat untuk tidak terlibat dalam kelompok KKB," ujar dia.



Selain dua pendekatan tersebut, polisi juga tetap melakukan penegakan hukum. Ketiga pendekatan dilakukan secara bersamaan.

"Langkah yang terakhir itu penegakan hukum, penegakan hukum terus kita lakukan. Pengejaran terhadap kelompok KKB itu dalam rangka penegakan hukum. Mereka melakukan perlawanan maka akan dilakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur," tuturnya.

Dedi menjelaskan pihaknya sudah memetakan jaringan KKB di Papua. Menurut dia, KKB saat ini sudah semakin kehilangan kontrol di sejumlah distrik.

"Terus kita laksanakan, dan kita sudah mempunyai mapping siapa-siapa saja yang melakukan di beberapa distrik di Papua, makanya mereka itu resah karena mulai dari beberapa tahun lalu itu mereka mengontrol beberapa distrik tapi setelah Pak Tito jadi Kapolda di sana, kontrol distrik di sana sudah mulai lepas karena diskusi TNI-Polri, karena kontrol mereka lepas, dengan adanya Satgas Nemangkawi merebut simpati masyarakat," ujarnya.

"Kemudian mereka tidak mampu mengontrol distrik yang sekian lama mereka kontrol, bahkan mereka membangun markas di situ dan markasnya sekarang sudah dihanguskan, mereka lari ke hutan dan ketika lari ke hutan lah mereka melakukan hit and run serangan sporadis terhadap TNI polri yang melaksanakan tugas menjaga distrik," sambung dia.

Sebelumnya, Tim Kemanusiaan Nduga menilai dialog bisa menjadi menjadi salah satu upaya menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Papua.

"Kalau ada korban saya pikir semua pihak harus duduk dan diskusi kenapa masalah itu terjadi. Saya pikir apa yang terjadi di Nduga dan Ilaga baru-baru kemarin, kalau melakukan penyerangan itu bukan penyelesaian masalah. Itu justru masalah akan tambah rumit, tambah susah dan dunia akan membaca persoalan ini adalah persoalan yang sangat urgent," kata Koordinator Tim Kemanusiaan Nduga, Theo Hesegem kepada wartawan, di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jalan Probolinggo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

Dia menilai masalah yang terjadi di Papua harus diselesaikan secara serius. Serangan balik terhadap KKB, kata Theo, bisa menjadi sebuah kekeliruan.

"Apa yang disampaikan Pak Jusuf Kalla terkait serangan balik ini sebenarnya suatu kekeliruan yang dibicarakan Pak Jusuf Kalla. Saya pikir masalah ini harus diselesaikan secara serius," katanya.
(knv/dwia)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed