detikNews
Rabu 14 Agustus 2019, 13:28 WIB

Protes Surat Tilang Elektronik Salah Orang, Denny Menggugat ke PN Jaksel

Yulida Medistiara - detikNews
Protes Surat Tilang Elektronik Salah Orang, Denny Menggugat ke PN Jaksel Denny Andrian Kusdayat mengajukan gugatan praperadilan terhadap Polda Metro Jaya karena menganggap surat tilang elektronik salah alamat/Foto: Yulida M-detikcom
Jakarta - Pemilik mobil Nissan Tera, Denny Andrian Kusdayat mengajukan gugatan praperadilan terhadap Polda Metro Jaya. Dia menggugat karena terkena tilang elektronik sewaktu mobilnya lewat kawasan ganjil genap.

Denny mengaku keberatan ditilang secara elektronik karena saat itu mobilnya sedang dipakai oleh saudaranya, bukan dia selaku pemilik mobil yang sedang mengendarai mobil.

Namun, pihak kepolisian mengirim surat tilang elektronik ke alamat yang tertera di STNK, berdasarkan nomor pelat mobilnya yang terekam CCTV e-TLE.

"E-TLE ini kan baru ya, kalau nggak salah 1 Juli sudah ada berapa ribu yang dikirim Polda Metro, tapi ini kan juga proses hukum dong. Pelanggar lalu lintas boleh tanya pihak Polri mereka merujuk tetap pada pelanggar hukum acara pidana. Logikanya gini mbak punya kendaraan masuk ke Jl Sudirman tapi bukan mbak yang bawa kendaraannya. Lalu ditilang? tapi tilangan itu yang masuk ke tilangan mbak," kata Denny, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019).

Denny keberatan dengan surat termohon yang menuduhnya melanggar lalu lintas di lokasi JPO Kemenpan RB, Jakarta Selatan pada 17 Juli. Padahal, saat itu kendaraannya dikemudikan oleh saudara iparnya, Mahfudi.

Denny menilai seharusnya bukan dia selaku pemilik mobil yang terkena tilang melainkan pihak yang mengendarai mobil tersebut. Denny mengaku alasannya mengajukan praperadilan ingin agar kepolisian melakukan koreksi terhadap aturan etilang, untuk tidak menyurati si pemilik mobil melainkan pihak yang melanggar, yakni pengendara mobil saat pelanggaran.




"Ya sebenarnya kalau tinggal bayar lebih gampang. Saya tuh lebih kepada memperbaiki. Saya mengajukan praperadilan ini bukan karena tidak suka kepada kepolisian, tapi saya lebih ini kan lembaga praperadilan lebih horizontal yang intinya mengawasi kepolisian. Mereka nggak bisa main seenaknya. Kenapa harus bawa ini ke lembaga praperadilan ini harus diuji. Jadi kalian di pihak termohon nggak usah khawatir ini kan cuma introspeksi kalaupun nanti tidak dikabulkan saya tinggal bayar denda," ujarnya.

Pada petitumnya, Denny meminta agar hakim menerima permohonannya dan menyatakan surat tilang elektronik tidak sah. Serta meminta ganti rugi immateril sebesar Rp 3 miliar.

Sementara itu, sidang praperadilan hari ini beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak pemohon, Denny. Saksi Mahfudi mengakui bahwa dirinya yang membawa mobil milik Denny pada 17 Juli yang lalu saat melintas di jalan ganjil genap di Jl Sudirman, Jakarta Selatan.

"Dari Polda mau pulang ke Cawang (membawa mobil). Dari Polda lurus lewat FX Semanggi," kata Mahfudi.




"Demikian Yang Mulia itu memang kawasan e-TLE," kata tim biro hukum Polda Metro Jaya.

Menurut tim biro hukum Polda, AKBP DR Nova Irone Surentu menanyai apakah pemilik mobil memberikan konfirmasi di surat dengan menuliskan identitas pelanggar. Namun, saksi Mahfudi mengaku tidak pernah diminta menuliskan identitasnya di surat konfirmasi itu.



Demi Hindari Tilang Elektronik, Muncul Modus Pelat Palsu:

[Gambas:Video 20detik]


(yld/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com