detikNews
Rabu 14 Agustus 2019, 11:36 WIB

Pertamina Ajak Milenial Dukung Pelestarian Elang Bondol

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Pertamina Ajak Milenial Dukung Pelestarian Elang Bondol Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina Dewi Sri Utami mengatakan hewan endemik Elang Bondol dengan ciri khas warna putih pada kepala hingga sebagian dada ini terancam punah, bahkan sudah jarang terlihat di Kepulauan Seribu.

Karena itu, pihak nya mendukung penuh konservasi satwa yang dijuluki 'layang-layang sang brahma' tersebut.

"Untuk mendukung pengenalan satwa langka ini, Pertamina dan JAAN akan menggelar program Sahabat Semata, yakni mengajak Duta Elang Bondol untuk datang dan melihat langsung habitat Elang di Pulau Kotok," ujarnya dalam keterangannya, Rabu, (14/8/2019).

"Duta Elang Bondol merupakan pelajar SMA dan Universitas di DKI Jakarta, nantinya akan menjadi motor penggerak pengenalan Satwa Maskot Jakarta kepada teman-teman maupun komunitas milenial," imbuhnya.

Dewi menjelaskan, bantuan Pertamina tersebut diwujudkan dalam beberapa kegiatan diantaranya renovasi kandang elang, pembangunan gapura (pintu masuk) 'Pusat Sanctuary Elang Bondol' dan perawatan.

"Komitmen kami terhadap pelestarian maskot ibukota Jakarta Elang Bondol masih berlanjut hingga saat ini, sebagai wujud kepedulian kami terhadap keberlanjutan lingkungan dan rantai makanan," ujar Dewi.


Salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang berada di gugusan paling utara dari Jakarta, yakni Pulau Klotok terdapat 29 Elang Bondol (Haliastur Indus), yang juga merupakan satwa maskot Provinsi DKI Jakarta.

Untuk menuju Pulau Kotok tersebut, kata Dewi, harus menempuh perjalanan sekitar 60 menit menggunakan kapal cepat dari penyebarangan di dermaga Marina Ancol ke dermaga Pulau Kotok.

"Setibanya di pulau, pengunjung akan disambut dengan kandang raksasa bertuliskan 'Sanctuary. Yakni kandang berisi beberapa Elang Bondol yang 'cacat' sehingga tidak bisa dilepasliarkan lagi," terangnya.

Menurut Pengurus JAAN Benvika, didalam kandang tersebut, Elang Bondol mengalami patah sayap sehingga tidak bisa terbang, atau matanya luka karena terkena jaring penangkap burung.

"Elang ini sitaan dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang melalukan operasi di beberapa daerah. Mereka dipelihara manusia di dalam sangkar yang sempit, sehingga berisiko sayap patah. Bahkan dengan menjadi binatang peliharaan, membuat Elang Bondol kehilangan nalurinya menangkap ikan hidup," jelasnya.

Karena itu, konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok dibagi dalam beberapa bagian. Yakni apabila Elang Bondol kondisi fisiknya baik, akan masuk ke kelompok treatment 1 yakni berada dalam kandang besar, diberikan pakan ikan mati di dalam kolam buatan.

"Perlahan, akan mulai mencoba pakan ikan hidup untuk merangsang naluri Elang berburu ikan, saat nanti dilepas ke alam bebas," sebutnya


"Jika lulus maka Elang Bondol akan masuk dalam kelompok treatment 2. Di kelas tersebut, Elang Bondol sudah mulai agresif. Diberikan pakan ikan hidup, dan Elang akan dipisah satu sama lain," tambahnya

Selanjutnya, Elang Bondol akan dibawa ke kelompok SOS 2 atau tempat sosialisasi. Di dalam area SOS 2, tidak boleh terdengar suara manusia, atau kegaduhan. Karena di tempat kandang semi terbuka ini, Elang Bondol di tes kemampuannya hidup mandiri, untuk selanjutnya dilepasliarkan.

Tidak semua orang bisa mengunjungi pusat konservasi Elang Bondol tersebut. Karena, harus seijin BKSDA DKI Jakarta dan JAAN, selaku lembaga yang menangani perawatan unggas maskot Jakarta tersebut.

Diketahui, pada tahun 2017, PT Pertamina (Persero) turut menggandeng Jakarta Animal Aid Network (JAAN) untuk menjaga populasi Elang Bondol dengan menyokong dana perawatan hingga lebih dari Rp 1 miliar hingga saat ini. Sebagiannya merupakan dana yang dihimpun dari pendaftaran kegiatan Ecorun 2018, sebesar lebih dari Rp 500 juta.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com