ADVERTISEMENT
detikNews
Selasa 13 Agustus 2019, 21:57 WIB

Pengacara Terdakwa Rusuh 22 Mei Nilai Dakwaan Jaksa Tak Jelas

Yulida Medistiara - detikNews
Pengacara Terdakwa Rusuh 22 Mei Nilai Dakwaan Jaksa Tak Jelas Foto: Yulida Medistiara/detikcom
Jakarta -

Pengacara terdakwa Dian Masyhur, Yasen, menyebut dakwaan jaksa penuntut umum terhadap kliennya kabur alias tidak jelas. Dia menganggap dakwaan jaksa terlalu menggeneralisasi tanpa menyebutkan peran terdakwa.

"Kalau yang dibeberkan JPU ini kan mereka semua rata-rata didakwa sama, penghancuran. Nah, yang dibeberkan JPU ini rata-rata orang yang ikut serta, belum terjawab siapa dengan dakwaan seperti apa," kata Yasen di PN Jakbar, Jl Letjen S Parman, Jakarta Barat, Selasa (13/8/2019).

Yasen menyebut jaksa tidak menguraikan keterkaitan antara kliennya dan terdakwa lain, Wahyudin, dalam kasus kerusuhan 22 Mei. Dia keberatan kliennya dan temannya dianggap mengikuti kerusuhan 22 Mei, seolah-olah jaksa menggeneralisasi perbuatan orang yang saat itu melintas di flyover Slipi.

Padahal, menurutnya, saat itu kliennya sedang menuju rumah sakit.



"Sementara kronologi khusus klien saya ini, orang tuanya lagi sakit di RS. Pada tanggal 22 juga. Kemudian pagi hari orang tua jam 5 karena merasa gawat darurat pergi ke RS pakai ojek karena saking ramainya, nggak bisa pakai mobil disusul oleh anaknya ini. Maksud saya, kepolisian harusnya dengan bijak dan teliti gitu peranan terdakwa Dian Mahsyur ini apa," katanya.

Akan tetapi, mengenai dakwaan jaksa yang menyebut kliennya dijanjikan uang Rp 50 ribu untuk ikut demo di Bawaslu, Yasen mengaku akan melihat pembuktian jaksa selanjutnya. Dia menyebut jaksa juga tidak menguraikan peran terdakwa lain dalam dakwaan.

"Itu belum jelas juga nanti akan dilihat di materi perkaranya apa. Apakah Dian benar terima uang, karena nggak ada perincian, terdakwa mana aja yang terima Rp 50.000. Sangat-sangat dirugikan, terlalu umum tidak terperinci. Perbuatan apa yang dilakukan terdakwa, khususnya klien saya ini," ujarnya.

Meski keberatan, pengacara tidak mengajukan eksepsi terhadap kliennya. Sementara itu, kerabat terdakwa lain Imam Slamet berinisial A menyebut Imam ditangkap saat sedang berada di ambulans tapi tetap diamankan polisi.

Padahal Imam akan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan akibat terkena gas air mata. Oleh karena itu, Imam akan mengajukan eksepsi pada sidang selanjutnya pada 20 Agustus.

"Waktu kejadian ada di RS Pelni 22 pagi. Setelah dia dari rumah sakit naik ambulans kena sweeping di depan Mako Brimob. Dia niatnya mau dirujuk soalnya di RS Pelni cuma bersihin aja luka-lukanya, nggak diapa-apain," kata A.

Sebelas pelaku kerusuhan 22 Mei didakwa melakukan perusakan dan pelemparan batu ke petugas yang sedang melakukan pengamanan. Terdakwa kesatu, Ardiansyah bin Suherman, disebut dijanjikan akan mendapatkan uang Rp 50.000 untuk menyerang kantor Bawaslu karena tidak puas atas hasil Pemilu 2019.

Tak hanya Ardiansyah, jaksa menyebut terdakwa Dian Mansyur juga dijanjikan menerima uang Rp 50.000 oleh Firman alias Irfan Akbar untuk mengikuti demo 'Kedaulatan Rakyat' pada 22 Mei di Bawaslu. Selanjutnya, Dian mengajak terdakwa kelima, Wahyudin, pergi ke Bawaslu.




(yld/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed