detikNews
2019/08/12 22:00:39 WIB

Round-Up

NKRI Bersyariah Dijanjikan Cuma Istilah

Tim detikcom - detikNews
Halaman 2 dari 2
NKRI Bersyariah Dijanjikan Cuma Istilah Foto: Ketua Bidang Keumatan Persaudaraan Alumni (PA) 212 Haikal Hassan. (Lisye-detikcom)

Salah satu penolakan NKRI bersyariah datang dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Gus Sholah mengatakan NKRI bersyariah itu tidak ada.

"Menurut saya, NKRI bersyariah itu tidak ada. Dulu sila pertama kan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Kata itu kemudian dicoret. Menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Dulu Undang-Undang Dasar kita mengandung kata syariah. Sekarang tidak ada," ujar Gus Sholah saat menghadiri dialog kebangsaan di Grand Sahid Hotel, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (12/8).

Gus Sholah mengatakan menolak istilah NKRI bersyariah bukan berarti anti-syariah Islam. Menurutnya, tanpa rumusan NKRI bersyariah, syariah Islam tetap dijalankan di Indonesia.

"Jadi tidak ada juga istilah NKRI bersyariah. Bukan berarti kita juga anti syariah Islam, tidak. Di tataran Undang-Undang Dasar tidak ada syariah. Tapi di tataran undang-undang boleh, monggo, tidak ada masalah. Syariah Islam jalan kok di Indonesia tanpa rumusan NKRI bersyariah, tanpa istilah NKRI Bersyariah, jalan kok syariah Islam. Jadi tidak perlu ada istilah itu," lanjutnya


Sementara itu, Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno mengatakan ideologi yang ada di NKRI adalah Pancasila. Sedangkan syariah adalah urusan pribadi.

"NKRI bersyariah saya tidak tahu itu. Yang penting NKRI itu ber-Pancasila, ideologinya Pancasila. Yang lain-lain kalau bicara syariah itu pada pribadi, seorang Islam syariat Islam dilaksanakan," ujar Try di kesempatan yang sama.

"Seorang Kristen melaksanakan ajaran Kristen. Seorang Buddha melaksanakan ajaran Buddha, seorang Hindu melaksanakan ajaran Hindu. Sangat bebas, tidak perlu diganggu ibadahnya," kata dia.

Try mengatakan setiap warga negara hendaknya mengamalkan Pancasila. Menurutnya, cita-cita kemerdekaan adalah Indonesia bersatu walaupun berbeda agama dan budaya.

"Tetapi sesama warga negara melaksanakan Pancasila itu, Pancasila tidak hanya diteorikan, tetapi harus dipraktikkan, diwujudkan dalam kenyataan. Cita-cita kita merdeka itu untuk Indonesia, ragam agama, suku bermacam-macam budaya," lanjut Try.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed