detikNews
Rabu 07 Agustus 2019, 17:37 WIB

TNI Juga Telusuri Akun Medsos Ibunda Enzo Taruna Akmil

Jabbar Ramdhani - detikNews
TNI Juga Telusuri Akun Medsos Ibunda Enzo Taruna Akmil Foto: Enzo, Taruna Akmil Keturunan Prancis Viral di Medsos (Dok. TNI AD)
Jakarta - Selain foto taruna Akademi TNI, Enzo Zenz Allie, di media sosial juga beredar screenshot posting-an ibu Enzo, Siti Hadiati Nahriah. Warganet menilai ibu Enzo kerap menghina Presiden Jokowi.

Screenshot posting-an dalam akun Hadiati Basjuni Allie dibagikan di medsos. Netizen juga menganggap posting-an ibu Enzo berisi fitnah kepada pemerintah dan berbau dukungan terhadap organisasi yang dilarang di Indonesia, HTI.

Terkait hal ini, Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi mengatakan penelusuran dilakukan tak hanya kepada seorang taruna. TNI juga menelusuri lingkungan taruna--termasuk keluarga--untuk memastikan para calon perwira yang direkrut bukan orang yang anti-Pancasila.


"Karena konsepnya bersih diri dan bersih lingkungan dari ideologi non-Pancasila. Bersih diri itu yang bersangkutan, bersih lingkungan itu keluarga, bisa adik, orang tua, saudara. Kan bisa jadi terpengaruh juga dari lingkungan," kata Sisriadi saat dihubungi, Rabu (7/8/2019).

Sisriadi mengatakan TNI juga melakukan penelusuran digital lewat alat yang dipunya. Hal ini dilakukan seiring kemajuan zaman.

"Itu (akun ibu Enzo) kita juga lakukan penelusuran elektronik. Intinya kita terus lakukan pemantauan. Karena sekarang teknologi sudah canggih, kita punya teknologi juga untuk menelusuri, itu yang kita sebut intelligent technology, intelligent signal, intelligent geospacial. Kita tetap lakukan itu," ungkapnya.


Dia memastikan TNI melakukan penyaringan secara berlapis. Dia mengatakan jika ditemukan hal yang mengindikasikan seorang taruna memiliki paham radikal, maka TNI akan langsung mencoret.

Enzo dan sang ibuEnzo bersama sang ibu (Foto: Situs TNI AD)

"Dalam penilaian kita ada MS, memenuhi syarat. TMS, tidak memenuhi syarat. Kalau dia TMS dari hasil pendalaman selama 4 tahun, dia akan dicoret. Intinya kita tidak ingin kecolongan lah. Ada sistemnya. Contohnya, teman saya sudah tingkat 3, ada yang dipecat karena radikal kiri. Keluarganya begini-begini. Nggak ada ba-bi-bu, nggak pake pengadilan, langsung copot," tuturnya.

"Tujuan utamanya, TNI tak mau kemasukan prajurit atau pemimpin yang anti-Pancasilais. Tidak Pancasilais itu radikal kanan, radikal kiri, radikal lainnya contohnya ultra liberalis. Itu juga kita cegah masuk TNI," sambung Sisriadi.


Viralnya foto ibu Enzo terjadi berbarengan dengan viral foto diduga Enzo yang sedang membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Atas foto tersebut, warganet banyak menyampaikan kekhawatiran TNI akan disusupi pihak pro-radikal. Sisriadi menanggapi fenomena netizen ini sebagai bentuk cinta masyarakat kepada TNI.

Namun, Sisriadi menegaskan proses penjaringan di TNI dilakukan secara terus-menerus. Penjaringan tidak hanya dilakukan kepada taruna yang masih mengikuti akademi. Sisriadi mengatakan penjaringan dilakukan terus ketika seseorang sudah menjadi TNI aktif.

"Namun demikian, sistem penjaringan kita, salah satu di antaranya dan itu sangat penting adalah penelusuran mental ideologi, itu salah satu materi seleksi TNI. Itu sangat ketat," ujarnya.


Sementara, Kepala Sekolah Ponpes Al Bayan, Deden Ramdhani, membantah blasteran Prancis itu anggota HTI. Deden mengatakan pesantren yang diasuhnya juga bercorak ahlussunnah wal jamaah (aswaja) serta menyatakan setia kepada NKRI.

"Sebagai lembaga tentu pemahaman kami ahlussunnah wal jamaah dan NKRI harga mati," kata Deden Ramdhani saat ditemui wartawan di Anyer, Serang, Banten, Rabu (7/8/2019).

Deden menilai santrinya tidak mungkin masuk Akmil jika punya keterkaitan dengan HTI. Sebab seleksi di TNI begitu ketat.

"Enzo sudah jelas Pancasilais dan cinta NKRI," ujarnya.




Tonton Video Melihat Enzo Taruna Keturunan Prancis Ikut Diksar di Akmil Magelang:

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed