detikNews
Rabu 07 Agustus 2019, 13:27 WIB

Belajar dari Kasus drg Romi, PPDI Minta Pemeritah Tak Diskriminasi ke Difabel

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Belajar dari Kasus drg Romi, PPDI Minta Pemeritah Tak Diskriminasi ke Difabel Foto: Ketua PPDI, Gufroni Sakiril (Rolando-detik)
Jakarta - drg Romi Syofpa Ismael yang sempat ditolak menjadi pegawai negeri oleh Pemkab Solok Selatan, Sumatera Barat, kini tinggal menunggu SK CPNS. Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) mengatakan kasus drg Romi menjadi pembelajaran pemerintah daerah dalam membuka lowongan CPNS bagi penyandang disabilitas.

"Kami bersyukur dokter Romi akhirnya bisa dinyatakan lolos sebagai CPNS dan tinggal menunggu SKnya. Ini sebenarnya jadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama pemerintah daerah yang membuka lowongan untuk penyandang disabilitas, ujar Ketua PPDI, Gufroni Sakiril kepada wartawan, di Hotel Ashley, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019).

Pria dengan sapaan akrab Gufron ini mengungkapkan penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dengan yang lain. Gufron mengatakan penyandang disabilitas memiliki kuota menjadi pewagai negeri sebesar 2% .



"Bahwa penyandang disabilitas itu mempunyai hak yang sama dengan non penyandang disabilitas sebagai warga negara dan ada ketentuan undang-undang kalau di pemerintah ada kuota 2% dan kalau di swasta itu 1 %," katanya.

Ketika ditanyakan apakah ada kasus seperti drg Romi sebelumnya, Gufron mengatakan banyak penyandang disabilitas yang gagal pada tahap kesehatan jasmani dan rohani. Pemahaman kesehatan jasmani dan rohani selama ini pun dinilai keliru oleh Gufron.

"Dulu tuh banyak sekali beberapa temen-temen penyandang disabilitas mungkin gagal untuk jadi CPNS salah satunya adalah adanya peraturan sehat jasmani dan rohani. Jadi ketentuan sehat jasmani dan rohani ini kadang-kadang dipahami disabilitas itu sama dengan sakit," ucap Gufron.

"Makanya kita sudah mendorong ke Menteri PANRB dan sudah keluar juga surat edaranya kalau disabilitas itu tidak sama dengan sakit," sambungnya.

"Gufron pun mengapresiasi langkah berani yang diambil drg Romi untuk mendapatkan haknya. Dia mengajak penyandang disabilitas yang lain untuk mengambill langkah berani seperti drg Romi.

"Saya tentu apresiasi kepada dokter Romi yang secara berani menggugat, kita harapkan juga kepada teman-teman yang lain kalau mereka didiskrimninasi itu kebanyakan kan temen-temen diem, padahal dia punya hak untuk mendapatkan hak itu kalau dia diskriminasi, kita dorong untuk menggugat atau mengadukan. Itu bisa bekerja sama dengan LBH, dan saya yakin akan sangat support. Jadi keberanian," pungkasnya.

Sebelumnya, drg Romi Syofpa Ismael mengaku sudah memaafkan drg Lili Suryani yang melaporkan dirinya ke Pansel CPNS 2018 sehingga kelulusannya dianulir Pemkab Solok Selatan, Sumatera Barat. Namun hingga hari ini, rekan sejawatnya itu belum pernah menghubunginya dan meminta maaf.

"Tentu saja, sebagai makhluk Tuhan, Ami (nama panggilan Romi-red) sudah memaafkan dia, meskipun sampai hari ini dia sendiri belum pernah minta maaf kepada Ami dan keluarga," kata drg Romi kepada detikcom, Rabu (7/8).


Pemkab Solok Selatan Minta Maaf Terkait Seleksi CPNS drg Romi:


(rvk/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com