detikNews
Rabu 07 Agustus 2019, 12:26 WIB

Laporan Dari Mekah

Menanti Diplomasi Tingkat Tinggi RI-Saudi

Ardhi Suryadhi - detikNews
Menanti Diplomasi Tingkat Tinggi RI-Saudi Jokowi Vlog Bareng Raja Salman (Foto: Facebook Presiden Joko Widodo)
Mekah - Hubungan Indonesia dan Arab Saudi dianggap masih bertepuk sebelah tangan. Jangan salah, yang dianggap tidak agresif justru Indonesia.

Demikian sindiran tajam Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat menggelar Rapat Kerja rombongan anggota DPR RI dengan Menteri Agama dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Retaz Hotel, Mekah.

Pasalnya, Fahri menganggap Indonesia kurang agresif untuk menangkap berbagai peluang yang terbuka yang bisa dikolaborasikan di berbagai bidang dengan Saudi. Terlebih soal urusan haji, dimana Indonesia - yang notabene menjadi salah satu negara asal haji terbesar - saat ini dianggap masih menjadi 'konsumen', belum turut berperan menjadi 'produsen'.


"Saudi Arab ini ingin agresif dengan kita, Raja Salman, MBS (Pangeran Mohammad bin Salman) dan para pemimpin di sini ingin membuat semacam pintu khusus bagi Indonesia, dan ini harus kita tangkap karena jemaah haji Indonesia terbesar di dunia, jika kita membuka ini kita akan terbantu dan Saudi juga butuh model," tegasnya.

"Masa depan pengelolaan haji mohon maaf kita tidak terlibat, karena kita tidak invest. Bahkan setahu saya, suatu hari ada headline di berita di Saudi, 5.000 orang China masuk Islam karena jadi tenaga kerja di sini, ya tidak tahu mereka nanti ketika balik gimana. Tapi alangkah indahnya kalau ngobrolnya Saudi dengan Indonesia," Fahri melanjutkan.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud saat menanam pohon di lingkungan Istana Kepresidenan bersama Presiden JokowiRaja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud saat menanam pohon di lingkungan Istana Kepresidenan bersama Presiden Jokowi (Foto: Pool)


Untuk itu, sebelum masa kerjanya berakhir, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel diharapkan bisa memberikan rekomendasi kepada Presiden Joko Widodo agar hubungan Indonesia-Arab Saudi lebih lengket.

Titik simpul dari isu ini ditegaskan Fahri adalah diplomasi tingkat tinggi. Ia berharap pemerintah jangan cuma melihat Saudi sebagai negara, melainkan juga sebagai umat dan teman.


"Saya gembira sekali punya Dubes Saudi yang tahu cara masuk ke orang Saudi. Dimana cara masuk ke orang Saudi itu harus luwes, jangan terlalu kaku sama orang sini. Kita itu bisa jadi teman orang Saudi lebih dari orang lain kalau kita betul-betul mengadakan diplomasi tingkat tinggi, diplomasi total kalau kata Kemenlu (Kementerian Luar Negeri). Cuma Kemenlu sendiri yang nggak total, rasanya kalau Timur Tengah itu Kemenlu itu kaku. Yang kita pikirkan barat terus," paparnya.

Imbasnya, Saudi disebut Fahri lebih memilih untuk menggandeng China dan Amerika, ketimbang Indonesia. Hal ini lantaran kita tidak agresif berkolaborasi dengan negara-negara Timur Tengah.


"Seperti yang dibilang Pak Dubes, kurang apa lagi Saudi? Datang ke kita, MBS (Pangeran Mohammad bin Salman) mondar-mandir. Jadi (dari Indonesia) ada yang datang ke sini lho! Melakukan diplomasi tingkat tinggi, mudah-mudahan di periode kedua Pak Jokowi mulai mengerti soal ini, karena ini perlu diplomasi tingkat tinggi. Karena kalau tidak, kita kalah dengan dinamika rakyat kita," Fahri menandaskan.
(ash/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com