detikNews
Senin 05 Agustus 2019, 13:55 WIB

Lumba-lumba Atraksi Hotel di Bali Mati, BKSDA Turun Tangan

Aditya Mardiastuti - detikNews
Lumba-lumba Atraksi Hotel di Bali Mati, BKSDA Turun Tangan BKSDA mengecek penyebab kematian lumba-lumba di hotel di Bali (Foto: dok. Istimewa)
Denpasar - Seekor lumba-lumba di salah satu hotel di kawasan Lovina, Buleleng, Bali mati. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali turun tangan untuk memeriksa penyebab kematian mamalia tersebut.

Lumba-lumba itu diketahui mati pada Sabtu (3/8) sekitar pukul 09.00 Wita. Kepala Subbagian Tata Usaha Balai KSDA Bali I Ketut Catur Marbawa menuturkan pihaknya telah memeriksa bangkai lumba-lumba tersebut untuk mengetahui penyebab kematiannya.

"Kami tentu tidak bisa memastikan sebelum itu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap bangkai lumba-lumba itu. Langkah yang sudah kami lakukan, kami sudah autopsi dan beda. Organ-organ vital yang diperlukan untuk analisis penelitian lebih lanjut sudah kami ambil dan sekarang posisinya di balai veteriner untuk diperiksa lebih lanjut," kata Catur, Senin (5/8/2019).

Dia mengatakan pihak hotel sebenarnya sudah memiliki izin konservasi. Izin itu membuat hotel tersebut bisa merawat hewan yang dilindungi.



"Sebenarnya hotel ini mengantongi izin lembaga konservasi, sama dengan kebun binatang lainnya di Bali. Semua izinnya lembaga konservasi yang boleh dia merawat sekaligus memperagakan satwa-satwa dilindungi," jelasnya.

Hanya, kata Catur, belakangan hotel ini menjadi objek sengketa. Meski begitu, lumba-lumba ini tidak menjadi objek sengketa.

"Sering (dicek KSDA), apalagi mereka bermasalah untuk lahannya itu, apalagi sekarang jadi sengketa bank. Jadi oleh pemilik lokasi itu diagunkan, kemudian mereka gagal bayar, kemudian disita bank, dilelang," terangnya.

"Lumba-lumba tidak termasuk objek yang disengketakan dan kewajiban lembaga konservasi tersebut untuk pemeliharaan. Apa pun alasannya, karena lahannya bermasalah, menelantarkan itu tidak boleh," sambung Catur.

Catur memastikan akan mengecek apakah ada unsur kelalaian dalam perawatan lumba-lumba tersebut. Jika terbukti ada kelalaian dalam kematian lumba-lumba itu, sanksi pidana bisa dijatuhkan.

"Bisa unsur pidana apabila terbukti ada unsur kelalaian. Dari sisi izin penelantaran, izin bisa dicabut tetapi melalui proses-proses surat peringatan 1, 2, 3 dan kesimpulan tim, sampai ujungnya langsung dicabut tapi tetap dievaluasi," jelas Catur.



Saat ini masih ada empat lumba-lumba lain yang hidup di hotel tersebut. Pihak BKSDA beserta lembaga penyayang binatang sudah mendatangi lokasi.

"Kebetulan hari ini turun tim lengkap dari Denpasar untuk mengecek. Dari BKSDA dan JAAN (Jakarta Animal Aid Network), ada tenaga teknis, dokter hewan juga," tuturnya.
(ams/haf)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com