detikNews
Kamis 01 Agustus 2019, 14:08 WIB

Sepak Terjang Rektor Asing di Singapura yang Jadi Rujukan Menristekdikti

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sepak Terjang Rektor Asing di Singapura yang Jadi Rujukan Menristekdikti Kampus NTU (Foto: dok. Nanyang Technological University)
FOKUS BERITA: Rektor Asing untuk PTN
Jakarta - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berencana merekrut rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi negeri (PTN) yang siap. Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan wacana ini bertujuan agar PTN Indonesia bisa menembus 100 besar peringkat dunia. Menurutnya, cara ini sudah dilakukan oleh Nanyang Technological University (NTU), Singapura, sejak lama.

Nasir mengatakan NTU baru didirikan pada 1981, namun saat ini sudah masuk 50 besar dunia dalam waktu 38 tahun. Dia menilai peringkat ini didapat setelah mengundang rektor asing.

"NTU itu berdiri tahun 1981. Mereka di dalam pengembangan ternyata mereka mengundang rektor dari Amerika dan dosen-dosen besar. Mereka dari berdiri belum dikenal, sekarang bisa masuk 50 besar dunia," kata Nasir sebagaimana dikutip dari situs Setkab, Rabu (31/7/2019).



Pernyataan Nasir yang ingin mengundang rektor asing ini pun mendapat kritik. Wacana ini justru dinilai mengabaikan kualitas rektor lokal. Namun Nasir kembali mencontohkan kesuksesan NTU yang pernah dipimpin rektor asing.

"Saya pun yang melihat di berbagai rank, contoh di Singapura itu yang namanya Anderson (Bertil Andersson, Presiden NTU 2011-2017), yang pernah jadi rektor NTU, dia berhasil mengangkat NTU sekarang menjadi perguruan tinggi yang luar biasa di dunia," sambungnya.



Merujuk pada pandangan Nasir tersebut, betulkah NTU masuk peringkat dunia lantaran dipimpin rektor asing?

Kesuksesan NTU dalam mendaki peringkat kampus berkelas dunia memang tidak terlepas dari sepak terjang salah satu rektor asingnya, Bertil Andersson. Mengutip laman resmi NTU, ketika menjabat sebagai Presiden NTU, Andersson dianggap berhasil membawa NTU masuk di peringkat ke-11 dunia pada tahun 2017 dan yang terbaik di Asia dalam Peringkat Universitas Dunia Quacquarelli Symonds (QS). Padahal NTU baru didirikan pada 1981.

Andersson adalah profesor dengan latar pendidikan BSc dan MSc di Universitas Umeå, Swedia, sebelum menyelesaikan PhD dan DSc di Lund University, Swedia. Selain itu, dia pernah menerima Medali Wilhelm Exner Austria dan Medali Sains dan Teknologi Presiden Singapura (keduanya merupakan penghargaan tertinggi untuk pencapaian seumur hidup dalam sains dan penelitian yang telah memajukan masyarakat). Dia juga memiliki lebih dari 16 gelar doktor kehormatan dari universitas yang meliputi Universitas Tianjin, Universitas Edinburgh, Universitas Exeter, Universitas Southampton, Universitas New South Wales, Universitas Ibrani Yerusalem dan Universitas Hanyang.
Sepak Terjang Rektor Asing di Singapura yang Jadi Rujukan MenristekdiktiFoto: Bertil Andersson (Dok Nanyang Technological University)


1. Rekrut profesor baru, gusur profesor lama

Dilansir Straits Times, pada 2007 Andersson ditunjuk sebagai provos NTU dan ditugaskan melakukan rencana transformasi kampus. Andersson sendiri sebelumnya menjabat sebagai kepala eksekutif Yayasan Sains Eropa dan menjadi Ketua Komite Kimia Yayasan Nobel. Dia juga terhubung baik dengan banyak komunitas penelitian. Hal inilah yang diharapkan menjadi magnet untuk mengundang para akademisi berkelas dunia datang ke NTU.

Harapan itu terpenuhi, para profesor berkelas dunia berdatangan ke NTU. Seperti dikutip dari Unversity World News, Andersson mengakui langkah pertamanya mendongkrak peringkat NTU ialah dengan merekrut profesor kelas dunia. Tak hanya merekrut profesor baru, dia juga menggusur profesor lama.

"Hal pertama yang saya lakukan adalah mulai merekrut profesor top dari seluruh dunia, tetapi saya juga menghentikan banyak posisi profesor. Itu adalah transformasi besar dari fakultas, jadi itu adalah satu hal yang terjadi. Kemudian kami memperluas sekolah--kami mulai dari ilmu alam, kami mulai fisika dan kimia, dan kemudian, sekolah kedokteran bersama dengan Imperial College, dan kami mulai pendidikan kedokteran dan penelitian medis lanjutan," kata Andersson dalam wawacaranya pada 15 Desember 2017.



Menurut laman resmi NTU, salah satu yang berhasil direkrut adalah profesor ahli genetika terkemuka Stephan Schuster. Schuster terkenal setelah berhasil mengungkap urutan genom dari mammoth berbulu. Selain itu, NTU berhasil merekrut ahli biologi ternama Daniela Rhodes. Rhodes secara internasional diakui kontribusinya di bidang biologi kromosom.

2. Impor ilmuwan top

Andersson juga menjelaskan upaya mengembangkan dunia akademik yang dilakukan oleh Singapura juga karena konteks faktor demografi. Dia menuturkan, orang Singapura jarang ada yang berkarir di dunia akademisi dan angka kelahiran Singapura sedikit. Karena itu, lanjut Andersson, Singapura mengimpor ilmuwan top dunia untuk mengisi kampus.

"Tidak ada universitas yang kebal terhadap perubahan demografis. Bisa dibilang, kelahiran Singapura terlalu sedikit; itu adalah satu masalah. Masalah lainnya adalah terlalu sedikit orang Singapura yang berkarir di bidang akademik. Sejauh ini telah diselesaikan dengan mengimpor ilmuwan top. Berapa lama itu akan bekerja? Saya tidak punya bola kristal untuk menjawabnya, tetapi saya merasa Singapura adalah negara yang sangat pragmatis; ia melakukan apa yang diperlukan untuk tetap terbang," tuturnya.

3. Pendanaan

Masih berdasarkan pengakuan Andersson, kemajuan universitas juga tak lepas dari faktor dana penelitian untuk kampus. Menurutnya, gebrakan besar soal pendanaan ini dimulai ketika Wakil Perdana Menteri Singapura Tony Tan mendirikan Yayasan Riset Nasional.

"Dengan A * STAR (Agensi untuk Sains, Teknologi, dan Riset), riset Singapura dikenal di luar negeri, bisa dibilang. Sekitar tahun 2005-2006 Wakil Perdana Menteri pada waktu itu, Dr Tony Tan, mendirikan Yayasan Riset Nasional (NRF). Itulah 'ledakan besar' dalam pendanaan penelitian untuk Universitas, jadi baru 11 atau 12 tahun yang lalu, kedua universitas besar memiliki dana penelitian yang layak disebut. Ini adalah kemajuan yang sangat cepat dari perspektif universitas," ujarnya.



Jadi faktor-faktor di atas juga berkontribusi dalam mendongkrak ranking NTU dan pendidikan tinggi di Singapura pada umumnya, termasuk peran Andersson selaku Presiden NTU atau rektor asing di Singapura.

Untuk diketahui, Presiden NTU saat ini adalah Prof Subra Suresh. Dia adalah ilmuwan, insinyur, dan wirausahawan terkemuka Amerika keturunan India, yang punya pengaruh besar di bidang akademik dan industri. Selain itu, dia dikenal punya keahlian kepimpinan yang baik. Dia juga pernah ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, pada 2010 untuk memimpin Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional AS sebagai direktur.
(rdp/dnu)
FOKUS BERITA: Rektor Asing untuk PTN
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com