detikNews
Selasa 30 Juli 2019, 18:11 WIB

Pengamen Korban Salah Tangkap Akan Adukan Hakim Praperadilan ke Bawas MA-KY

Yulida Medistiara - detikNews
Pengamen Korban Salah Tangkap Akan Adukan Hakim Praperadilan ke Bawas MA-KY Pengacara pengamen korban salah tangkap (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Hakim tunggal Elfian menolak gugatan praperadilan ganti rugi yang diajukan korban salah tangkap empat pengamen Cipulir karena dianggap kedaluwarsa. Pengacara korban salah tangkap, Oky Wiratama, akan melaporkan hakim tersebut ke Badan Pengawasan Mahkamah Agung (Bawas MA) dan Komisi Yudisial (KY).

"Akan kami laporkan ke Bawas MA karena siapa yang bisa memeriksa hakim. Kami pada dasarnya tidak bisa pakai cara-cara di luar hukum, kalau mungkin kawan-kawan tahu cara-cara di luar hukum, barbar. Kami tidak mau pakai cara demikian," kata Oky di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (30/7/2019).



Oky mempertanyakan pertimbangan hakim yang menilai permohonannya kedaluwarsa. Sebab, ia menyebut, berdasarkan PP 92/2015, permohonan ganti rugi dapat diajukan paling lama 3 bulan setelah petikan atau salinan putusan berkekuatan hukum tetap diterima.

Menurut Oky, mestinya frasa 'atau' dalam PP 92/2015 itu dapat dipertimbangkan hakim praperadilan sebagai dasar mengabulkan permohonan ganti kerugian. Sebab frasa 'atau' itu dalam KBBI dan pendapat ahli Prof Maria Farida Indrati, bermakna 'dapat memilih'.

Dia mengaku baru menerima salinan putusan pada 25 Maret 2019, sementara permohonan praperadilannya baru diajukan pada 21 Maret 2019. Dengan demikian, Oky berpendapat harusnya permohonannya dapat diterima.

"Berdasarkan buku Prof. Maria Farida yang mengatakan kalimat 'atau' tuh alternatif, bisa memilih. Maka seharusnya kami para pemohon bisa diterima ajuannya. Karena kami baru menerima salinan putusan tanggal 25 Maret 2019. Tiga bulan dari 25 Maret adalah Juni, masih termasuk. Maka harusnya bisa," ujarnya.



Diketahui, permohonan ganti rugi korban salah tangkap empat pengamen Cipulir ditolak hakim praperadilan. Hakim menyatakan permohonan tersebut kedaluwarsa.

Keempat pengamen Cipulir korban salah tangkap sebelumnya mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keempat pengamen itu minta gugatan ganti rugi dengan total Rp 750,9 juta.

Keempat pengamen korban salah tangkap itu adalah Fikri, Fatahillah, Ucok, dan Pau. Mereka menggugat Kapolda Metro Jaya, Kajati DKI Jakarta, dan Menteri Keuangan RI untuk meminta ganti rugi karena menjadi korban salah tangkap.


Simak Juga 'Akibat Salah Tangkap, Pengamen Cipulir Rugi Rp 139 Juta':

[Gambas:Video 20detik]


(yld/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com