Round-Up

Bahaya Pencabulan di Balik Aplikasi Permainan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 29 Jul 2019 22:15 WIB
Pelaku child grooming via aplikasi game online. (Lamhot Aritonang/detikcom)

Polisi juga tengah menyelidiki apakah pelaku melakukan pemerasan kepada korban dengan memanfaatkan video porno tersebut. "Kami masih selidiki apakah ada pemerasan untuk korban untuk dapatkan keuntungan secara materiil, tapi sejauh ini belum," kata Iwan.

Pria berusia 27 tahun itu ditangkap di kawasan Jakarta Barat pada 25 Juli 2019. Saat ditangkap, tersangka sempat menghapus rekaman video call dengan korban.

Sementara itu, AAP mengaku menyasar sejumlah ABG perempuan untuk menyalurkan hasrat seksualnya via aplikasi Hago. Agar korban tertarik, tersangka memasang foto seorang ABG ganteng pada profilnya.

"Iya (cowok ganteng). Profil beda dengan saya," kata Pras dalam wawancara dengan detikcom, Senin (29/7).

Pras mengaku memasang foto profil seorang ABG berwajah tampan agar dikira seumuran dengan calon korban. Selain itu, karena rasa penasarannya ingin mengetahui lebih jauh dengan korban. "Ya karena pengin tahu saja sebenarnya," ucapnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menindaklanjuti kasus child grooming dengan modus bermain game online Hago. Kominfo meminta pihak Hago memblokir fitur kirim kontak serta foto, dan sudah disetujui.

"Terkait web yang digunakan pelaku, kami berkoordinasi dengan Hago dan dia melakukan langkah bagus. Di aplikasi itu ketika orang mau minta nomor HP (handphone), otomatis nggak bisa dilakukan dan otomatis terblokir," kata Kepala Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Kominfo Anthonius Malau di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/7).


Malau menyebut pihaknya langsung menghubungi pihak Hago dan menanyakan hal tersebut. Pihak Hago, kata Malau, kooperatif dan membantu pemerintah agar kasus grooming tidak terulang lagi. Malau menyebut Hago sudah memblokir fitur tukar nomor HP pada aplikasi game online tersebut. Pemblokiran fitur itu berlaku sejak Sabtu (27/7).
Halaman

(idh/jbr)