detikNews
Jumat 26 Juli 2019, 23:51 WIB

2 Terdakwa Korupsi Bapelkes KS Divonis 10 dan 13 Tahun Penjara

Bahtiar Rifa'i - detikNews
2 Terdakwa Korupsi Bapelkes KS Divonis 10 dan 13 Tahun Penjara Terdakwa Herman Husodo dan Triono (Bahtiar Rivai/detikcom)
Serang - Dua terdakwa kasus korupsi di Yayasan Badan Pengelolaan Kesejahteraan PT Krakatau Steel (Bapelkes KS) dalam pengelolaan dana program kesehatan pensiunan (prokespen) divonis majelis hakim bersalah. Terdakwa Herman Husodo dan Triono terbukti melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara Rp 118 miliar.

Dalam sidang vonis yang diketuai hakim Hosianna Mariana Sidabalok, terdakwa Herman Husodo selaku Ketua Yayasan Bapelkes KS divonis pidana penjara 10 tahun dan denda Rp 250 juta subsider kurungan 4 bulan penjara. Ia diminta membayar uang pengganti Rp 30 juta dan jika tak dibayarkan diganti kurungan 1 bulan.

"Menjatuhkan pidana 10 tahun penjara dan denda 250 juta subsider kurungan 4 bulan penjara," kata Hosianna di Pengadilan Tipikor Serang, Jl Serang-Pandeglang, Jumat malam (26/7/2019).



Dalam vonis yang dibacakan secara bergantian, terdakwa Triono, yang juga menjabat Manajer Investasi Yayasan Bapelkes KS, divonis 13 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider kurungan 5 bulan penjara. Terdakwa diminta membayar uang pengganti Rp 100 juta subsider 1 tahun penjara.

Kedua terdakwa terbukti bersalah berdasarkan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Vonis atas terdakwa Herman sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang meminta dituntut 10 tahun penjara. Namun denda bagi terdakwa lebih ringan Rp 250 juta.

Terdakwa Herman Husodo dan TrionoTerdakwa Herman Husodo dan Triono (Bahtiar Rivai/detikcom)


Sementara itu, vonis majelis hakim untuk terdakwa Triono lebih berat 1 tahun dari tuntutan. JPU menuntut manajer investasi ini pidana penjara 12 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan penjara.

Atas vonis ini, baik pihak JPU dan kedua terdakwa masih pikir-pikir untuk melakukan banding.



Kasus ini bermula saat kedua terdakwa dan Ryan Antony selaku Dirut PT Novagro Indonesia dan PT Lintas Global Nusantara serta Andy Gouw selaku Dirut PT Bahari Megamas pada 2013-2014 melakukan dugaan korupsi dana pengelolaan kesejahteraan yayasan. Keempatnya melakukan investasi dana yayasan yang tidak sesuai arahan investasi yang berujung pada memperkaya diri sendiri.

Dalam rangka investasi antara yayasan dengan PT Novagro dan PT Lintas, terdakwa Herman memperkaya diri sebesar Rp 90 juta. Sedangkan terdakwa Triono memperkaya diri senilai Rp 160 juta.

Sementara itu, Ryan, yang proses penuntutannya dilakukan terpisah, telah memperkaya diri sendiri dana tersebut Rp 64 miliar. Beberapa nama juga muncul dalam perkara ini, seperti Budi Santoso yang mendapat Rp 14 miliar, Eka Wahyu Kasih dari PT Kasih Indonesia Sejahtera senilai Rp 13 miliar, dan Andi Gouw Rp 1,5 miliar.

Sedangkan investasi yang dilakukan yayasan bersama PT Bahari juga telah memperkaya Andy Gouw selaku dirut senilai Rp 1 miliar. Investasi ini juga dikorupsi Ryan sebesar Rp 10 miliar dan Budi Santoso senilai Rp 13 miliar.

Dalam audit yang dilakukan BPKP Banten, investasi yang dilakukan Bapelkes KS dan beberapa perusahaan tadi merugikan total keuangan negara Rp 118 miliar.
(bri/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com