detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 16:33 WIB

Tahanan Ini Ngaku Sogok Kompol Tuti agar Bisa Pakai HP di Sel Polda NTB

Tim detikcom - detikNews
Tahanan Ini Ngaku Sogok Kompol Tuti agar Bisa Pakai HP di Sel Polda NTB Ilustrasi (dok.detikcom)
Mataram - Seorang mantan penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Polda NTB, Icin, yang tersandung kasus narkoba, mengakui telah memberikan uang kepada terdakwa penerima suap, Kompol Tuti.

Pengakuan dari mantan penghuni Rutan Polda NTB yang kini telah berstatus narapidana di Lapas Mataram itu diungkapkan dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, Rabu (24/7/2019).

"Karena saat itu yang ada uang Rp 100 ribu, jadinya cuma segitu yang saya berikan. Sisanya saya janji akan lunasi pada saat kunjungan keluarga, tapi sampai sekarang tidak pernah bayar, karena tidak pernah ditagih," kata Icin sebagaimana dilansir Antara, Rabu (24/7).

Uang yang diberikan kepada terdakwa Kompol Tuti ketika masih aktif menjabat Kasubdit Pengamanan Tahanan (Pamtah) Dittahti Polda NTB, jelasnya, untuk mendapatkan izin menggunakan telepon genggam di dalam rutan.

"Jadi setelah saya berikan uang, saya dikasih izin untuk menggunakannya di dalam rutan," ujarnya.

Dalam rangkaian kesaksiannya, Icin menjelaskan telepon genggam didapatkan dari seorang rekan tahanannya bernama Firman. Dia membeli telepon genggam yang kemudian diganti dengan Evercoss itu seharga Rp 230 ribu.

"Saya beli dari rekan tahanan satu kamar, namanya Firman, saya belinya seharga Rp 230 ribu," ucapnya.

Namun belakangan, setelah telepon genggam itu sudah dalam penguasaannya, kepala blok tahanan yang berada di lantai dasar Gedung Dittahti Polda NTB itu menyarankan Icin meminta izin lebih dulu ke terdakwa Kompol Tuti.

"Kepala blok tahanan waktu itu Samsul, tahanan juga, dia bilang ke saya kalau mau bawa HP (handphone), menghadap dulu ke depan (terdakwa Kompol Tuti)," katanya.

Dalam kesaksian lainnya, Icin di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sri Sulastri mengaku melihat sebagian tahanan juga menggunakan fasilitas yang dilarang digunakan di dalam rutan tersebut.

"Ada sebagian yang saya lihat pegang HP juga, kepala blok juga bawa," ucapnya.

Selain Icin, saksi lainnya yang turut dihadirkan adalah Saifudin, mantan penghuni Rutan Polda NTB yang sudah berstatus narapidana di Lapas Mataram karena kasus narkoba.

Kepada majelis hakim, Saifudin alias Abu mengaku diminta terdakwa Kompol Tuti membayar matras yang dia bawa masuk ke kamar tahanan. Kalau tidak membayar, matrasnya akan disita dan Saifudin diancam akan dipindahkan ke sel tikus.

"Jadi setelah dia tahu saya pakai matras, saya dipanggil dan dimintakan bayaran," kata Saifudin.

Uang yang diminta terdakwa sebesar Rp 750 ribu. Karena takut pada ancaman tersebut, saksi Saifudin memberikan uang panjar Rp 500 ribu dan Rp 250 ribu sisanya akan dibayar belakangan.

"Uangnya yang Rp 500 ribu itu saya titipkan lewat petugas Peminal (Pengamanan Internal) Polri," ujarnya.

Setelah mendengarkan keterangan kedua saksi, majelis hakim mempersilakan terdakwa Kompol Tuti memberikan tanggapan.

Dalam tanggapannya, terdakwa Kompol Tuti membantah keterangan kedua saksi dan menyatakan bahwa dirinya tidak mengenal, apalagi menerima uang dari mereka.

Setelah mendengarkan tanggapan terdakwa, majelis hakim menyatakan sidang ditutup dan dilanjutkan pada Rabu (31/7) pekan depan, dengan agenda pemeriksaan saksi dari jaksa penuntut umum.
(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com