detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 15:30 WIB

Cerita Waluyo Pikul 50 Jeriken untuk Warga Muara Baru yang Krisis Air Bersih

Rolando - detikNews
Cerita Waluyo Pikul 50 Jeriken untuk Warga Muara Baru yang Krisis Air Bersih Waluyo penjual air bersih. (Foto: Rolando/detikcom)
Jakarta - Di bawah terik matahari Waluyo menyempatkan beristirahat sejenak dari pekerjaannya. Kayu yang biasa digunakan sebagai 'senjatanya' untuk bekerja diletakkan di sebelahnya. Tujuh jam bekerja sejak pukul 07.00 WIB cukup menguras tenaganya hari ini.

Waluyo berprofesi sebagai penjual air bersih di kawasan RW 017 Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Sejak pagi dia sudah mulai mengantar pesanan jerikan berisi air ke warga yang sedang krisis air bersih.

Waluyo mulai bekerja sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Dia mengantar pesanan air bersih menyusuri gang sempit di kawasan Muara Baru dengan cara dipikul.

Pria beranak dua tersebut mengaku sudah bekerja sebagai penjual air bersih selama lima tahun terakhir. Saban hari, Waluyo mengaku sanggup memikul 50 jeriken air bersih.

"Paling (mengantar ke warga) 50 pikulan, itu satu jerikennya 20 liter. Satu pikul itu 2 jeriken. Satu pikulnya jadinya 40 liter," kata Waluyo saat ditemui disela-sela mengantar air di lokasi, Rabu (24/7/2019).

Waluyo penjual air bersih.Waluyo penjual air bersih. Foto: Rolando/detikcom




Waluyo mendapatkan pasokan air bersih dari salah seorang warga yang lokasinya tak jauh dari kediamannya. Pria yang dahulunya bekerja sebagai kuli proyek ini menjual air bersih per pikul ke warga seharga Rp 4.000.

"Di sana jauh sih, di lampu merah itu, dekat sampah-sampah. Masih di Muara Baru sih. (Dapat) per pikulnya Rp 1.500, dijual (ke warga) Rp 4.000," ujarnya sambil menghisap rokok.

Dari hasil penjualan air bersih, per bulannya Waluyo mendapatkan penghasilan di atas Rp 2 juta. Hasil tersebut dicukupinya untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

"Paling (sebulan penghasilan) Rp 2,5 juta. Alhamdullilah, cukup nggak cukup (kebutuhan sehari-hari), orang kerjaannya gini, apalagi," ungkapnya.

Untuk mengambil pasokan air bersih ke lokasi jualan, Waluyo mengandalkan sepeda motor dan satu gerobak. Setelahnya dia memarkir gerobaknya di depan gang, lalu mengantarkan air bersih pesanan warga dengan cara dipikul.

Setiap harinya, Waluyo melayani 20 pelanggan tetap air bersih. Dia mengantar air ke pelanggan sejak pagi dan sore hari.

"Satu rumah paling (beli) 3 pikulan, 4 pikulan sehari. Paling bangsa 20 an pintu (rumah). (Ngantar ke warga) cuma pagi sama sore saja. Kalau siang gini paling istirahat 2 jam. Sore mulai lagi," ucapnya.



Waluyo menjual air bersih di lingkungan rumahnya tidak sendiri. Ada 2 warga lain yang sama seperti Waluyo. Masalah persaingan, Waluyo mengatakan tidak ada 'saling sikut'.

"Di sini (penjual air) cuma saya sama 2 orang lagi aja. Tadi ada 1 yang jual juga tapi dia paling pagi doang. Cuma di daerah sini aja yang jualan air, lainnya mah ledeng," tutur pria beranak dua ini.

"Kan sudah masih-masing langganan, nggak ada persaingan, sudah ada langganan masing-masing. Harga yang dijual sama aja, nggak beda," tambahnya.

Waluyo penjual air bersih.Waluyo penjual air bersih. Foto: Rolando/detikcom


Dalam pekerjaan ini, berat yang dirasakan Waluyo adalah ketika memikul pikulan air tersebut. Tenaganya habis dalam sehari untuk memikul air untuk warga.

"Paling berat ya mikulin itu loh, kan ngambil airnya kan sudah ada motor, (lebih ringan). Berat di tenaganya," sebut Waluyo.



Tidak hanya berat memikul air yang diantar ke warga, terkadang dia mengalami komplain dari para pelanggannya. Para pelanggan komplain karena air yang diantarkan tidak tepat waktu.

"Kalau telat (nganter air) mah pada ngomel, ibaratnya jam 8 (pagi) kok belom dianter. Kalau air lagi susahkan, otomatis terlambatkan. Jam 8 (pagi) belom diisi kok belum diisi, paling (pelanggan) nyariin," imbuhnya.

Sebelumnya, warga Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara mengatakan dalam sehari bahkan bisa membeli air Rp 50.000. Hal ini dilakukan Yuyun karena mengalami kekeringan air.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan mahalnya biaya yang harus dibayar oleh masyarakat di Jakarta untuk mendapatkan air bersih. Hal itu imbas dari belum meratanya jaringan pipa air bersih.

"Kalau lihat harganya mereka menghabiskan uang Rp 600 ribu per bulan, sementara yang berlangganan air pipa, air minum itu Rp 120-150 ribu," kata Anies, di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (23/7).
(idn/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com