detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 12:33 WIB

Baca Pleidoi, 2 Pejabat PUPR Nyanyi Lagu Rohani dan Kutip Ayat Alquran

Zunita Putri - detikNews
Baca Pleidoi, 2 Pejabat PUPR Nyanyi Lagu Rohani dan Kutip Ayat Alquran Suasana persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta (Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Kasatker SPAM Strategis Anggiat Partunggul Nahot Simaremare membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta. Anggiat meminta hakim memberikan vonis ringan dalam perkara ini.

"Pada kesempatan ini, kembali saya memohon maaf kepada yang mulia majelis hakim dan Bapak Ibu jaksa penuntut umum, atas kelalaian dan kesalahan saya. Saya memohon keringanan hukuman kepada yang mulia majelis hakim," ujar Anggiat saat membacakan pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019).
Anggiat mengatakan istrinya saat ini sedang sakit-sakitan dan tidak ada yang menemaninya di kala sakit, karena Anggiat sebagai suami harus mendekam di penjara karena kasus korupsi. Selain itu, dia mengatakan orang tuanya yang sudah sangat tua tidak ada yang mengurusi.

"Dengan alasan, pertama istri saya sekarang hidup sendirian, padahal secara rutin harus berobat karena mengidap penyakit diabetes, jantungnya yang berkabut, sehingga sempat memicu gula darahnya hingga mencapai angka 500, rahimnya yang telah dipasang urena," katanya.

"Besar harapan saya agar kiranya permohonan keringanan hukuman saya dapat dikabulkan," imbuhnya.

Dalam persidangan juga Anggiat sempat meminta izin kepada majelis hakim untuk menyanyikan lagu rohani yang berjudul 'Walau Kau Tak Dapat Melihat'. Anggiat mengatakan lagu ini sebagai penyemangatnya dalam menanti vonis hakim nanti.

"Walau ku tak dapat mengerti, semua rencanamu Tuhan, namun hatiku padamu, kau tuntun langkahku. Walau ku tak dapat berharap, atas kenyataan hidupku, namun kau ada untukku," bunyi lagu rohani yang dinyanyikan Anggiat di persidangan.

Sementara itu, Kepala Satker SPAM Darurat, dan Donny Sofyan Arifin selaku PPK SPAM Toba 1 juga membacakan pleidoinya setelah Anggiat. Donny dalam pleidoinya mengaku bersalah dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya.

"Yang mulia majelis hakim, dan Bapak Ibu JPU yang saya hormati. Apapun alasannya, saya sebagai aparat sipil negara tidak boleh menerima pemberian dari siapapun, dengan alasan apapun, hal itu terpaksa saya lakukan karena sistem yang ada di tempat saya bekerja mengharuskan kami para PPK memiliki dana cadangan atau dana taktis untuk kebutuhan kebutuhan mendesak yang non-budgeter," kata Donny saat membaca pleidoi.

"Dengan kejadian ini, tidak pernah saya menyangka sekalipun seumur hidup saya. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi praktek-praktek korupsi," lanjutnya.
Tak hanya itu, Donny juga berharap agar majelis hakim mengabulkan justice collaborator (JC) yang diajukannya dalam perkara ini. Sebab, dia mengaku dia bukanlah pelaku utama. Dia juga berjanji akan mengembalikan semua uang yang diterimanya.

"Saya mohon keringanan hukuman yang seringan-ringannya," tutur dia.

Dengan suara bergetar, Donny menutup pleidoinya dengan terbata-bata dan mengutip ayat suci Al Quran. Donny mengutip Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6.

"Izinkan saya mengutip ayat suci Al Quran, Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6, bismillahirahmanirahim, Fainnama'al Usri Yusro, Inna ma'al Usri Yusron, artinya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesudah kesulitan itu ada kemudahan," tutupnya.
(zap/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com