Yang Perlu Diketahui Soal Penghayat: Bukan Penyembah Hantu-Asli Indonesia

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 24 Jul 2019 08:32 WIB
Penghayat Kepercayaan Bonokeling di Banyumas (arbi/detikcom)

2. Kepercayaan Ada Sebelum Agama Datang

Hakim konstitusi Maria Farida Indrati meminta pemerintah untuk serius melihat permasalahan pengosongan kolom agama terhadap Penghayat Kepercayaan. Sebab, mereka ada sebelum ada agama datang ke Indonesia.

"Karena dalam kenyataannya memang aliran kepercayaan itu ada dan itu ada sebelum agama-agama itu datang sehingga kita harus juga melihat bahwa kenyataan itu ada, mereka ada," kata guru besar Universitas Indonesia (UI) itu.

3. Agama Asli Indonesia

Saat sidang Mei 2017, Ketua MK Arief Hidayat sempat menyinggung soal agama. Dia berujar mengapa agama yang asli dari Indonesia malah tidak diakui.

"PNPS mengakui ada agama resmi. Kemudian, ada dari sekelompok yang asli mengatakan, 'Lho, yang berasal dari asing malah diakui'. Kan kita tahu semua, yang keenam keyakinan atau agama itu kan asing sebetulnya, kalau kita mau jujur. Dari yang asing diakui, tapi kalau agama leluhur yang genuine yang asli Indonesia kenapa tidak diakui?" kata Arief.

4. Penghayat Setara dengan Agama

MK mengizinkan Penghayat Kepercayaan ditulis di kolom agama di e-KTP. MK kedudukan kepercayaan sudah setara dengan keenam agama yang diakui Indonesia.

"Kepercayaan itu adalah salah satu sejajar dengan agamalah, kira-kira sesuai prinsip ketuhanan yang maha esa. Yang menjadi problem adalah ketika pada praktiknya berbeda, sehingga menimbulkan diskriminasi dan seterusnya," jelas Jubir MK Fajar Laksono.

Menurut Fajar pada prinsipnya kepercayaan itu sejajar dengan agama karena mereka percaya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja mereka mempunyai ritual yang berbeda dengan agama pada umumnya.

"Jadi konstruksi norma itu menurut MK (kepercayaan) setara atau norma agama, itu kemudian dimaknai oleh MK itu hanya agama-agama yang diakui menurut peraturan perundang-undangan," lanjutnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3