detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 15:38 WIB

Eks Kabiro Ungkap Kejanggalan Perjalanan Dinas Gubernur Sulsel di Pansus

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Eks Kabiro Ungkap Kejanggalan Perjalanan Dinas Gubernur Sulsel di Pansus Mantan Kabiro Umum Pemprov Sulsel, M Hatta bersaksi dalam sidang Pansus Hak Angket Gubernur Nurdin Abdullah, Selasa (23/7/2019) Foto: Taufiq-detikcom
Makassar - Mantan Kabiro Umum Pemprov Sulsel, M Hatta bersaksi dalam sidang Pansus Hak Angket Gubernur Nurdin Abdullah. Hatta membeberkan dugaan kejanggalan perjalanan dinas Nurdin Abdullah.

Hatta menerangkan, pada akhir Desember 2018, dirinya diminta mempersiapkan dana untuk kunjungan luar negeri Nurdin Abdullah ke Jepang. Dalam rombongan itu, selain Nurdin Abdullah terdapat beberapa staf Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) yang statusnya bukan ASN Pemprov Sulsel.

"TP2D tidak masuk anggaran Biro Umum. ini anggaran 2018, ada perjalanan luar negeri tapi nomenklaturnya adalah kepala daerah dan wakil kepala derah, ada posnya di situ. Untuk staf tidak ada posnya," kata Hatta dalam sidang pansus angket di gedung DPRD Sulsel, Makassar, Selasa (23/7/2019).





Keenam nama yang diusulkan mendampingi Nurdin menurut Hatta yakni Rudi Jamaluddin, Jayadi Nas, Jenisa, Raisa, Wijaya Kusuma, Andi Asri, dan Diah Yumaina.

Meski tidak masuk dalam pos pembiayaan, para staf gubernur ini disebut Hatta tetap berangkat ke Jepang. Bahkan keberangkatan mereka ke luar negeri menurut Hatta tidak mendapatkan persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

"Temuannya dianggap fiktif karena dokumen tidak lengkap. Salah satau dokumen tidak lengkap itu adalah izin dari Kementerian Dalam Negeri. Gubernur dapat izin tapi pendampingnya tidak ada izinnya dari kementerian," terangnya.

Hatta menyebutkan, anggaran yang dikeluarkan saat itu berjumlah Rp 282 juta untuk tiket dan akomodasi. Kemudian ada penambahan Rp 60 juta untuk uang saku.

Jelang keberangkatan, Hatta mengaku sudah menyampaikan ke staf Nurdin Abdullah soal pembiayaan ke Jepang hanya menanggung kepala daerah.

"Saya bertahan sampai H-1 pemberangkatan, bahwa saya tidak bisa membiayai itu. Tapi malam jam 23.30 WITa saya dipanggil ke rumah jabatan (gubernur), dan diminta tolong fasilitasi pemberangkatan itu," terangnya.




Biro Umum sambung Hatta kemudian mendapatkan tagihan perjalanan dari agen perjalanan. Hatta mengaku tidak tahu pihak yang menunjuk agen perjalanan tersebut untuk mengurusi perjalanan dinas Nurdin Abdulllah.

"Ada travel yang namanya travel Hakata, ini yang punya Ibu Lies (Liestiati Fachruddin) yang punya, istri Pak Gubernur," kata Hatta.


(fiq/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com