detikNews
Senin 22 Juli 2019, 17:56 WIB

Ini Respons Wiranto Soal Anggota TNI Tewas Ditembak KKB di Nduga

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Ini Respons Wiranto Soal Anggota TNI Tewas Ditembak KKB di Nduga Wiranto (Foto: Zakia Liland/detikcom)
Jakarta - Seorang personel TNI, atas nama Prada Usman Hambelo, tewas usai kontak tembak dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di bekas kamp PT Pembangunan Perumahan (PP) di Distrik Yuguru, Kabupaten Nduga, Papua. Menko Polhukam, Wiranto mengatakan pemerintah terus menyelesaikan masalah yang terjadi di Nduga agar tidak berkepanjangan.

"Nggak usah ditanggapin, dalam rangka operasi yang dilaksanakan di sana memang seperti itu. Sekarang kita terus menyelesaikan masalah itu dengan segala cara agar tidak berkepanjangan," ujar Wiranto kepada wartawan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2019).



Wiranto mengatakan terus memberi dukungan kepada para seluruh personel yang bertugas di Nduga. Menurutnya, bertugas di Nduga tidak mudah dan bertaruh nyawa.

"Kita beri support ke teman-teman yang bertugas di sana, tidak mudah taruhannya nyawa, kita doakan semoga mereka selamat dalam rangka pembelaan persatuan negeri," sebut Wiranto.

Sebelumnya, diberitakan seorang anggota TNI, Prada Usman Hambelo, sempat tertembak dalam serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di bekas kamp PT Pembangunan Perumahan (PP) di Distrik Yuguru, Kabupaten Nduga, Papua. Prada Usman yang tertembak di bagian pinggang akhirnya tewas.

Serangan KKB terjadi saat personel TNI tengah melakukan pengamanan di bekas kamp PT PP yang merupakan tempat proyek pembangunan jembatan Sungai Yuguru. Pada Sabtu (20/7/2019) sekitar pukul 12.45 WIT kelompok KKB melakukan serangan tembakan secara membabi buta dari arah semak belukar yang berada tepat di depan kamp.



"Kejadiannya sangat singkat, serangan dilakukan dengan tembakan rentetan yang muncul dari balik semak belukar secara Hit and Run. Pelaku di perkirakan berjumlah 4-5 orang. Pasukan TNI berusaha membalas tembakan dan melakukan pengejaran. Namun dengan pertimbangan keamanan karena medan belukar yang sangat tertutup dan banyak jurang yang curam, maka pengejaran dihentikan," ujar Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/7).



Simak Juga 'Wiranto Soroti Peristiwa Mengancam Keamanan Nasional':

[Gambas:Video 20detik]


(rvk/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com