detikNews
Senin 22 Juli 2019, 08:10 WIB

Aktivis Dukung Pelebaran Trotoar Cikini: Selama Ini Pejalan Kaki Terzalimi

Audrey Santoso - detikNews
Aktivis Dukung Pelebaran Trotoar Cikini: Selama Ini Pejalan Kaki Terzalimi Foto: Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus (Audrey Santoso/detikcom)
Jakarta - Koalisi Pejalan Kaki mengapresiasi pekerjaan pelebaran trotoar di Cikini, Jakarta Pusat. Koalisi ini menilai nasib pejalan kaki selama ini terzalimi dengan digunakannya trotoar sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima (PKL), area parkir hingga dilintasi pemotor.

"Selama ini pejalan kaki pun mengalah sama pemotor, PKL, dijadikan parkiran-lah. Jadi selama ini pejalan kaki terzalimi," kata Pendiri Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, ketika dihubungi detikcom, Minggu (21/7/2019) malam.

Pelebaran trotoar di Cikini menjadi sorotan lantaran dikritik oleh Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, yang menilai pekerjaan itu membuat jalan untuk kendaraan bermotor jadi sempit dan macet. Terkait hal tersebut, Alfred menyebut penyebab utama kemacetan adalah pengguna kendaraan pribadi.

"Pengendara kendaraan pribadi teriak macet, padahal mereka penyumbang utama kemacetan. Pada dasarnya koalisi penjalan kaki bukan hanya mendukung pelebaran trotoar, tapi juga semua mode transportasi yang nantinya terintegrasi dengan trotoar," imbuh dia.


Alfred menilai pejalan kaki masih kekurangan fasilitas yang beradab selama ini. Untuk itu, menurutnya pelebaran trotoar di Cikini harus didukung bersama-sama.

"Koalisi pejalan kaki mengapreasiasi setiap pembangunan trotoar di Jakarta. Kita ini masih sangat minim fasilitas yang beradab bagi pejalan kaki di Ibu Kota. Ketika ada pembangunan itu, kita harus dorong bersama," ungkap Alfred.

Dia meminta para pengendara bermotor tak melupakan jati dirinya yang juga pejalan kaki. Menurut Alfred, kota yang beradab adalah kota yang memberikan keberlanjutan bagi pejalan kaki.


"Para pengendara itu jangan melupakan jati dirinya, kalau mereka juga pejalan kaki. Bagaimana kota ini bisa suistanable-nya lebih kepada manusianya, bukan kepada mesin yang mati," tutur Alfred.

"Kita harus melihat juga peradaban kota itu bisa dilihat dari cerminan trotoarnya seperti apa. Kalau mau kota anda tidak beradab, ya bangunlah jalan raya setinggi-tingginya, gedung yang ada di jakarta, kita tinggal lihat nanti seperti apa Jakarta-nya," sambung dia.

Meski mendukung penuh pelebaran trotoar, namun Alfred pesimis area khusus pejalan kaki mampu steril. Untuk itu, Alfred menyarankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut memikirkan solusi untuk mengendalikan jumlah kendaraan bermotor yang melintas di kawasan Cikini.

"Nantipun kalau trotoarnya jadi, nggak akan luput dari okupasi pengendara, kan dipakai juga sama pemotor nanti trotoarnya. Paling utama juga bagaimana Pemprov, Pemkot mengendalikan atau membatasi pergerakan kendaraan," Alfred berpendapat.


Terakhir, Alfred menyampaikan kenyamanan moda transportasi umum harus dipenuhi sebagai prasyarat pengendalian pergerakan kendaraan pribadi. "Pengendalian kendaraan juga harus dilengkapi dulu prasyaratnya seperti angkutan umumnya nyaman, terjadwal, pilihannya banyak," tutup Alfred.
(aud/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com