detikNews
Minggu 21 Juli 2019, 21:06 WIB

Round-Up

Jalan Macet vs Trotoar Lebar di Cikini

Tim detikcom - detikNews
Jalan Macet vs Trotoar Lebar di Cikini Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah gencar melakukan revitaslisasri trotar di berbagai tempat. Salah satu yang masih berlangsung adalah revitalisasi trotoar di Jalan Cikini Raya,

Total trotoar yang akan direvitalisasi sepanjang 10 kilometer dari Cikini hingga Kramat. Pengerjaan proyek tersebut menuai pro dan kontra, salah satunya yang Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean disampaikan melalui akun Twitternya.

Ferdinand mengkritik pelebaran trotoar di Jalan Cikini Raya yang dinilai membuat macet. Dia menyebut lebar trotoar cukup hanya 1,5 meter saja.

"Jakarta itu jalanannya macet, ruas jalan tak lg ideal dgn jumlah kendaraan. Tp koq bs Pemda DKI merampas badan jalan untuk meperlebar trotoar hingga 3 mtr lebih. Cikini yg slm ini padat, makin padat. Trotoar itu cukup 1,5 mtr utk pejakan kaki. @DKIJakarta," tulis Ferdinand lewat akun Twitter @FerdinandHaean2.

Ferdinand mengatakan trotoar yang ada saat ini cukup lebar. Yang perlu dibenahi, menurut Ferdinand, hanya persoalan estetika.

"Trotoar cukup memadai, lebarnya sekitar 1,5 meter hanya kumal dan jelek. Sekarang Pemda DKI memperlebar trotoar hingga kurang lebih 3 meter. Bahkan tampaknya lebih dengan mengambil badan jalan, sehingga lebar jalan semakin menyempit, sementara trotoar makin lebar," ujar Ferdinand kepada wartawan, Minggu (21/7/2019).

Serupa dengan Ferdinand, salah seorang sopir taksi, Zaenal, mengatakan tidak setuju dengan pelebaran trotoar di Jalan Cikini Raya. Menurutnya, tidak banyak juga masyarakat yang menggunakan trotoar tersebut.

"Ya sebenernya nggak perlu-perlu amat, ini kan jalan ga ada orang lewat ini, terkecuali Sudirman, ini nggak ada yang jalan ini sebenernya ini, sebenernya trotoar segini (sebelum diperlebar) sudah lebar ini, cuma ada yang naik turun trotoarnya jadi kurang rapi aja gitu," kata Zaenal saat ditemui di Jalan Cikini Raya.

Zaenal menilai pelebaran Jalan lebih penting karena saat ini terjadi kemacetan parah. Dia meminta Pemprov DKI Jakarta mempertimbangkan kembali pelebaran trotoar tersebut.

"Oh ini macet total, sebelum ini digarap aja udah macet, apalagi ini ditambahin, ini ditambah hampir semeter ini. Gimana caranya ntar, paling ada bus 1 aja udah nggak bisa jalan, aturan jalan dilebarin, malah dikecilin gitu," ungkap Zaenal.

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh pejalan kaki, Nelson, yang setuju jika trotoar sepanjang Jalan Cikini Raya diperlebar. Selain nyaman, pelebaran trotoar ini bisa kurangi polusi kendaraan.

"Ya setuju-setuju aja sih, soalnya agak lebih lebar untuk pejalan kaki karena biasa terlalu padat banget untuk kita jalan, tapi kalau diperluas sih jadi pejalan kaki bertambah juga, polusi jadi berkurang juga kan," ucapnya.

Menanggapi hal itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengatakan kawasan Cikini memang ingin mengutamakan pejalan kaki. Dia menyebut hal ini sebagai wajah baru Jakarta.

"Untuk wajah Jakarta baru, ke depan memang trotoar kita lebarkan dan lajur jalan kita kurangi. Prioritas utama adalah pejalan kaki, sepeda, kendaraan umum berbasis rendah emisi dan baru kendaraan pribadi," kata Hari saat dihubungi.

Terkait kritikan trotoar selabar 1,5 meter cukup bagi pejalan kaki, Dinas Bina Marga tidak sepakat. Hari bahkan menyebut idealnya trotoar mencapai 4,5-6 meter.

"1,5 meter belum mengakomodir semuanya. Trotoar yang ideal 4.5 sampai dengan 6 meter. 1,5 meter untuk pejalan kaki, 1,5 meter untuk disabilitas, 1,5 meter untuk street furniture. 0,5 sampai dengan 1 meter untuk buffer atau amenities," tutur Hari.

Hari mengimbau warga pengguna kendaraan pribadi bisa beralih ke kendaraan umum. "Kendaraan pribadi kita arahkan menggunakan angkatan umum, MRT, BRT, LRT," sebutnya.
(fdu/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com