detikNews
Minggu 21 Juli 2019, 12:19 WIB

Suara Pro dan Kontra Warga soal Pelebaran Trotoar Cikini

Matius Alfons - detikNews
Suara Pro dan Kontra Warga soal Pelebaran Trotoar Cikini Rencana revitalisasi trotoar Cikini-Kramat Raya. (Foto: YouTube Bina Marga DKI)
Jakarta - Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengkritik pelebaran trotoar di sepanjang Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Selain Ferdinand, masyarakat menyuarakan pro dan kontra terkait revitalisasi trotoar tersebut.

Salah seorang sopir taksi, Zaenal, mengaku tidak setuju dengan pelebaran trotoar di Jalan Cikini Raya. Menurutnya, tidak banyak juga masyarakat yang menggunakan trotoar tersebut.

"Ya sebenernya nggak perlu-perlu amat, ini kan jalan ga ada orang lewat ini, terkecuali Sudirman, ini nggak ada yang jalan ini sebenernya ini, sebenernya trotoar segini (sebelum diperlebar) sudah lebar ini, cuma ada yang naik turun trotoarnya jadi kurang rapi aja gitu," kata Zaenal saat ditemui di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (21/7/2019).


Selain itu, Zaenal mengatakan pelebaran ini membuat kemacetan parah. Menurutnya, Pemprov seharusnya melebarkan Jalan Cikini Raya.

"Oh ini macet total, sebelum ini digarap aja udah macet, apalagi ini ditambahin, ini ditambah hampir semeter ini. Gimana caranya ntar, paling ada bus 1 aja udah nggak bisa jalan, aturan jalan dilebarin, malah dikecilin gitu," ungkap Zaenal.

Hal senada disampaikan oleh seorang pedagang gorengan, Muhdi, yang setuju tapi juga tidak setuju dengan pelebaran trotoar ini. Menurutnya, trotoar lebar diperlukan, tapi jangan sampai sebabkan macet.

"Setuju nggak setuju ya, jalan lebar aja tetep macet apa lagi disempitin, tapi gimana lagi, keputusan mereka (Pemprov), Ya sebenernya perlu (trotoar lebar), jadi ya perlu nggak perlu, karena bikin macet jadinya," ujarnya.


Namun hal berbeda disampaikan seorang pejalan kaki, Nelson, yang setuju jika trotoar sepanjang Jalan Cikini Raya diperlebar. Selain nyaman, pelebaran trotoar ini bisa kurangi polusi kendaraan.

"Ya setuju-setuju aja sih, soalnya agak lebih lebar untuk pejalan kaki karena biasa terlalu padat banget untuk kita jalan, tapi kalau diperluas sih jadi pejalan kaki bertambah juga, polusi jadi berkurang juga kan," ucapnya.

Selain itu, ia mengaku tidak khawatir akan imbas macetnya Jalan Cikini Raya. Dia mengatakan revitalisasi akan mengurangi kendaraan.

"Memang harusnya dikurangi kendaraan mobil dan motor kan bikin polusi, kalau jalan kaki kan lebih sehat juga. Jadi setuju aja saya," ucap Nelson.

Sebelumnya diberitakan, Ferdinand mengkritik revitalisasi trotoar melalui akun Twitternya. Menurut Ferdinand, pelebaran trotoar itu bikin jalan untuk kendaraan bermotor jadi sempit dan macet.


Namun ungkapan Ferdinand ditepis oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta yang menjelaskan lebar trotoar idealnya mencapai 4,5-6 meter.

"Satu setengah meter belum mengakomodir semuanya. Trotoar yang ideal 4.5 sampai dengan 6 meter... 1,5 meter untuk pejalan kaki, 1,5 meter untuk disabilitas, 1,5 meter untuk street furniture , 0,5 sampai dengan 1 meter untuk buffer atau amenities, sehingga pejalan kaki benar-benar nyaman," kata Kepala Dinas Bina Marga Hari Nugraha saat dihubungi, Minggu (21/7/2019).
(maa/fdu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com