detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 17:33 WIB

Komisi X Minta Pelaku Kekerasan di SMA Taruna Palembang Ditindak Tegas

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Komisi X Minta Pelaku Kekerasan di SMA Taruna Palembang Ditindak Tegas Diskusi 'PR Pendidikan Di Hari Anak' di Bakoel Koffie (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Siswa SMA Taruna Indonesia di Palembang meninggal akibat kekerasan yang dialami saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). Anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati, meminta kepolisian menindak tegas pelaku kekerasan.

"Saya menyesalkan berulang, saya berharap aparat hukum mengambil sikap yang sangat tegas yang menjerakan agar kasus seperti jangan terjadi (lagi)," ujar Reni dalam diskusi 'PR Pendidikan Di Hari Anak' di Bakoel Koffie, Jalan Ciniki Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2019).

Politikus PPP ini menyayangkan jatuhnya korban jiwa dalam kegiatan di lingkungan sekolah tersebut. Dia menambahkan siswa taruna merupakan salah satu anak berprestasi.


"Bagi saya kerugian besar seorang anak taruna meninggal karena dia anak berprestasi yang bisa masuk ke situ," kata Reni.

Reni juga meminta dinas pendidikan melakukan pengawasan ketat dalam proses MOS di sekolah. Serta ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam kasus kekerasan tersebut ditindak secara tegas.

"Dinas setempat juga melakukan pengawasan ketat, jadi ketika ada sanksi, jangan hanya sanksi kepada pihak lembaga pendidikan saja, tetapi dengan dinas dan seluruh pihak terkait pun harus ditindak secara hukum agar kasus serupa tidak terjadi," kata dia.


Sementara itu, Reni mengimbau dinas terkait meninjau kembali proses MOS. Jangan sampai masa orientasi itu menimbulkan dampak negatif bagi siswa.

"Itulah kenapa saya proses MOS itu harus ditinjau. Jadi jangan ada upaya kegiatan di sekolah yang menimbulkan rasa malu kepada anak, frustrasi, apalagi kekerasan," lanjutnya.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti juga menyayangkan kekerasan yang terjadi di SMA Taruna. Retno mengatakan salah satu korban, Wiko Jeriyanda (16), dalam kondisi sehat sebelum mengikuti MOS.


"Padahal dia diantar orang tuanya ke asrama dia dalam keadaan sehat, tidak punya riwayat penyakit usus. Nah ini ususnya bocor, harus dioperasi karena mengalami pendarahan pada usus sehingga operasi dilakukan," kata Retno.

Retno mengatakan, saat sebelum operasi, Wiko bercerita kepada orang tuanya bahwa ia mengalami kekerasan. Namun orang tua Wiko tetap berfokus pada penyembuhan Wiko.

"Saat anak itu siuman dari operasi dan sebelum operasi sempat bercerita kepada orang tuanya bahwa dia mengalami kekerasan. Jadi orang tuanya berkonsentrasi pada penyembuhan anaknya, Jumat malam kemarin, anak itu mengembuskan napas terakhirnya," ucapnya.


Diketahui, Wiko meninggal di RS Charitas setelah sempat kritis pasca-operasi. Wiko dirawat di rumah sakit setelah selesai mengikuti serangkaian kegiatan masa orientasi sekolah (MOS) di SMA Taruna Indonesia, Sabtu (13/7). Korban diantarkan ke rumah sakit oleh pihak sekolah dan diduga ikut menjadi korban kekerasan.

Selain Wiko, sebelumnya ada siswa bernama Delwyn Berli yang meninggal dunia saat mengikuti MOS. Terkait kasus itu, polisi menetapkan salah satu pembina di sekolah tersebut, Obbi, sebagai tersangka. Obbi dituding memukul kepala korban dengan bambu sebelum meninggal.


Simak Juga 'Saksi Mata Nestapa Siswa Junior':

[Gambas:Video 20detik]


(lir/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com