detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 15:42 WIB

Penjelasan Anies soal Anggaran Getah Getih Karya Seni yang Dinikmati Warga

Haris Fadhil - detikNews
Penjelasan Anies soal Anggaran Getah Getih Karya Seni yang Dinikmati Warga Anies di lokasi instalasi Getah Getih (Tia Agnes/detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali bicara soal instalasi bambu Getah Getih di Bundaran HI, Jakarta Pusat, yang kini telah dibongkar. Anies mengenang karya Joko Avianto itu punya berbagai manfaat, dari ekonomi hingga untuk swafoto warga.

Kali ini Anies memberi penjelasan lewat akun Instagram-nya pada Sabtu (20/7/2019). Dia juga mengunggah foto proses pembuatan hingga saat instalasi bambu itu masih berdiri di Bundaran HI.

"Pertama, instalasi itu bagian dari penyambutan acara Asian Games, Agustus tahun lalu. Sebagaimana berbagai atribut yang dipasang di sekitar Senayan dan berbagai wilayah Jakarta, itu semua bukan permanen. Seselesainya Asian Games, maka semua atribut dilepas kembali," tulis Anies.



Dia mengatakan Getah Getih awalnya diproyeksikan untuk bertahan selama enam bulan, tapi bisa berdiri hingga sebelas bulan. Anies kemudian angkat bicara soal biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan hingga pembongkaran instalasi bambu itu.

"Perlu disadari bahwa pengeluaran pemerintah itu beda dengan pengeluaran perusahaan atau pribadi. Pengeluaran pemerintah juga bertujuan menggerakkan perekonomian, meratakan manfaat anggaran untuk orang banyak. Apalagi, jika penerima manfaat itu adalah kelompok-kelompok masyarakat yang jarang menerimanya. Itu prinsip dasar ekonomi makro," ujarnya.

Anies menyebut dipilihnya bambu sebagai hiasan menjelang Asian Games agar dana yang ada turut menjangkau para petani bambu, seniman bambu, hingga jasa angkutan dan para pekerja yang memasang dan membongkarnya. Dia menyebut penggunaan bambu itu berdampak bergeraknya ekonomi lokal.

"Kita sengaja memilih instalasi dari bahan bambu agar dana itu menjangkau petani bambu, seniman bambu, dan tenaga kerja trampil di bidang bambu. Jasa angkutan, para tukang yang memasang hingga tukang yang membongkar. Itu semua adalah akibat dari pilihan material bambu. Ia menggerakkan ekonomi lokal, kecil, dan rakyat kebanyakan," sebut Anies.



Pemprov Jakarta, kata Anies, bakal lebih banyak memberikan anggaran kepada seniman. Terutama, para seniman yang menggunakan material lokal.

"Ke depannya, Jakarta justru perlu lebih banyak memberikan anggaran untuk para seniman, apalagi jika karya mereka menggunakan material lokal dan menggerakkan ekonomi rakyat kebanyakan," ujarnya.

Selain menggerakkan ekonomi, Anies mengenang soal banyaknya warga yang menyaksikan ataupun berswafoto di depan instalasi bambu itu. Dia juga menyebut keberadaan karya seni dari Joko Avianto di tengah Jakarta itu menjadi tanda seni anak bangsa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

"Ketiga, soal karya seni itu sendiri. Alhamdulillah, syukur tak terhingga banyaknya warga yang sudah menyaksikan, menikmati dan berswafoto di depan #GetihGetah itu," tutur Anies.

Instalasi seni bambu Getah Getih dibongkar pada Rabu (17/7) malam oleh Dinas Kehutanan DKI. Bambu tersebut ternyata sudah mulai rapuh karena faktor cuaca. Pembongkaran karya seni tersebut pun mendapat sorotan, antara lain dari DPRD.


View this post on Instagram

Kemarin teman-teman jurnalis di Balaikota, banyak yang tanya soal instalasi bambu Getih Getah karya Mas Joko Avianto. Pertama, instalasi itu bagian dari penyambutan acara Asian Games Agustus tahun lalu. Sebagaimana berbagai atribut yang dipasang di sekitar Senayan dan berbagai wilayah Jakarta, itu semua bukan permanen. Seselesainya Asian Games maka semua atribut dilepas kembali. Begitu juga dengan instalasi Bambu ini, tidak permanen. Saat itu diproyeksikan bisa bertahan 6 bulan. Ternyata malah bisa tahan lebih lama. Dan, kini memang sudah waktunya untuk diturunkan. Tidak ada yang aneh, selesai acara ya diturunkan. Kedua, soal biaya. Perlu disadari bahwa pengeluaran pemerintah itu beda dengan pengeluaran perusahaan atau pribadi. Pengeluaran pemerintah juga bertujuan menggerakkan perekonomian, meratakan manfaat anggaran untuk orang banyak. Apalagi, jika penerima manfaat itu adalah kelompok-kelompok masyarakat yg jarang menerimanya. Itu prinsip dasar ekonomi makro. 🙂 Karena itu kita sengaja memilih instalasi dari bahan bambu agar dana itu menjangkau petani bambu, seniman bambu, dan tenaga kerja trampil di bidang bambu. Jasa angkutan, para tukang yg memasang hingga tukang yang membongkar. Itu semua adalah akibat dari pilihan material bambu; Ia menggerakkan ekonomi lokal, kecil dan rakyat kebanyakan. Bambunya dari Jawa Barat, petaninya tentu lokal. Dana itu diterima bukan oleh pelaku ekonomi raksasa, tapi justru oleh pelaku ekonomi mikro dan kecil. Ke depannya Jakarta justru perlu lebih banyak memberikan anggaran untuk para seniman, apalagi jika karya mereka menggunakan material lokal dan menggerakan ekonomi rakyat kebanyakan. Ketiga, soal karya seni itu sendiri. Alhamdulillah, syukur tak terhingga banyaknya warga yg sudah menyaksikan, menikmati dan berswafoto di depan #GetihGetah itu. Karya bambunya pernah dipampang di Esplanade Singapura, Yokohama dan Frankfurt. Kita senang ada putra bangsa, seorang seniman berkelas, Joko Avianto yang seni bambunya ikut mewarnai pusat kota Jakarta selama hampir setahun. Seni bambu karya Joko Avianto itu bukan hanya jadi tamu mempesona di negeri orang, tapi juga tuan rumah di negeri sendiri! Foto: dokpri & @jokoawi

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on Jul 19, 2019 at 10:56pm PDT


(haf/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com