detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 15:18 WIB

KPAI: Pelaku Kekerasan Seksual di Sekolah Didominasi Guru dan Kepsek

Lisye Sri Rahayu - detikNews
KPAI: Pelaku Kekerasan Seksual di Sekolah Didominasi Guru dan Kepsek Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut kekerasan seksual yang dialami anak di sekolah umumnya dilakukan guru dan kepala sekolah. Pelaku didominasi guru agama dan guru olahraga.

"Pelaku kekerasan seksual di lembaga pendidikan formal, masih didominasi oleh guru dan kepala sekolah," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam Diskusi Publik 'PR Pendidikan di Hari Anak' di Bakoel Koffie, Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2019).


"Pelaku adalah wali kelas, guru agama, guru olahraga, seni budaya, guru IPS, guru komputer, serta kepala sekolah. Angka tertinggi justru ada pada guru olahraga dan guru agama," kata dia.

Retno mengatakan, sepanjang Januari-Juni 2019, terdapat 9 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Kasus tersebut terjadi di tingkat SD dan SMP.

"Berdasarkan jenjang di SD ada 9 kasus. SMP ada 4 kasus, sementara korban anak perempuan ada 9 kasus, korban anak laki-laki ada 4. Artinya, anak laki-laki dan anak perempuan sama menjadi kekerasan seksual," kata Retno.


Retno mengaku prihatin atas peristiwa kekerasan tersebut. Menurutnya, guru seharusnya menjadi 'orang tua' di sekolah, bukan justru menjadi pelaku kekerasan seksual.

"Ini kan ironis, harusnya guru dan kepala sekolah adalah pelindung anak di sekolah. Dan Undang-Undang Perlindungan Anak pada Pasal 54 memerintahkan untuk melindungi anak-anak dari bentuk kekerasan apa pun. Tapi justru guru dan kepala sekolah ini yang melakukan tindak kekerasan," lanjutnya.

Retno menerangkan berbagai modus dilakukan guru untuk mengajak korban anak melakukan hubungan seksual. Pelaku mengajak anak menonton film berkonten pornografi di kelas.


Selain itu, pelaku memberikan uang kepada korban. Sang guru juga mengancam akan memberikan nilai buruk kepada anak apabila menolak ajakan melakukan hubungan seksual.

"Pelaku mengancam korban memberikan nilai jelek jika menolak atau melaporkan perbuatan pelaku kepada siapa pun. Pelaku memacari anak korban kemudian dibujuk rayu untuk melakukan persetubuhan," kata dia.

Lebih lanjut, Retno mengatakan pelaku juga berdalih kekerasan seksual dilakukan karena suka sama suka. Namun, menurut Retno, melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur merupakan tindakan kekerasan.


"Mereka berdalih suka sama suka. Berhubungan badan dengan anak tidak ada istilah 'suka sama suka'. Berhubungan badan dengan anak usia 0-18 tahun itu adalah kejahatan. Jadi masuk tindak pidana, jadi tidak ada suka sama suka," lanjutnya.



Tonton video Soal Zonasi Sekolah, KPAI: Problemnya Sosialisasi, Daerah Tak Siap:

[Gambas:Video 20detik]


(lir/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com