detikNews
Sabtu 20 Juli 2019, 15:06 WIB

Politikus Golkar: Airlangga Harus Pilih Jadi Menteri atau Ketum

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Politikus Golkar: Airlangga Harus Pilih Jadi Menteri atau Ketum Lawrence Siburian (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - Politikus Partai Golkar Lawrence Siburian mengatakan Airlangga Hartarto tidak boleh merangkap 2 jabatan sekaligus sebagai menteri dan ketua umum parpol. Menurutnya, Airlangga harus memilih salah satunya agar Golkar bisa menjadi partai yang besar.

"Kalau mau Partai Golkar itu besar, maka Pak Airlangga harus memilih, jadi menteri atau ketum. Nggak bisa rangkap dua. Kalau kemarin itu sangat pengecualianlah. Karena ke depan nggak bisa, nggak boleh," ujar Lawrence di d'Consulate, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2019).

Menurut Lawrence, jabatan menteri dan ketua umum parpol memiliki karakteristik yang berbeda. Sementara menteri dalam keseharian membantu presiden, ketua umum parpol harus mengurus rakyat dari Sabang sampai Merauke yang memilih parpol tersebut.

"Menteri itu punya karakteristik yang berbeda dengan ketua umum partai dalam menjalankan jabatannya. Kalau menteri itu sehari-hari adalah pembantu presiden, maka dia harus menjalankan program daripada pemerintah dan dia harus rapat rutin," katanya.

"Sementara, ketua umum itu harus mengurus partai dan harus mengurus rakyat yang memilih partainya. Yang kedua, dia harus mengelola partai ini dari Sabang sampai Merauke, bahkan cabang-cabang di luar negeri, sehingga rakyat cinta dan memilih pada saatnya," imbuhnya.

Menurut Lawrence, karena rangkap jabatan itulah Airlangga jarang turun ke daerah-daerah dan bertemu dengan para kader Golkar. Bahkan, ia menyebut turunnya suara Golkar dalam Pileg 2019 ini juga disebabkan Airlangga jarang turun ke daerah.

"Ini juga gagal. Dari 91 (kursi) sekarang jadi 85 (kursi). Padahal, target 2019 itu 110. Jadi dari 110 ke 85 kan jauh sekali. Saya kira karena itu perlu kita evaluasi. Bukan persoalan Pak Airlangga-nya. Kenapa bisa seperti itu, mungkin salah memilih pemimpin, mungkin salah mengusung program, mungkin salah menyiapkan saksi. Banyak hal yang harus kita evaluasi untuk 2024, karena pertarungan sesungguhnya 2024," ungkapnya.


Lebih lanjut, Lawrence meminta Airlangga segera menggelar rapat pleno untuk persiapan munas mendatang. Ia juga menyinggung manuver DPP Golkar yang mengajukan penggantian pengurus ke Kemenkum HAM sebelum munas dilakukan yang menurutnya bisa menimbulkan perpecahan.

"Jadi dari segi hukum, perbuatan yang dilakukan Airlangga ini sangat berbahaya. Dia menimbulkan perpecahan. Saya kira kalau Golkar ada perpecahan, ini dia harus bertanggung jawab untuk itu," tegasnya.



Tonton video Beda Nasib Golkar-PDIP Jelang Pemilihan Ketum Tahun Ini:

[Gambas:Video 20detik]


(azr/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com