detikNews
Jumat 19 Juli 2019, 13:25 WIB

Wiranto: Proyektil di Tubuh Korban Tewas Rusuh 21-22 Mei Bukan dari Polri

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Wiranto: Proyektil di Tubuh Korban Tewas Rusuh 21-22 Mei Bukan dari Polri Menko Polhukam Wiranto (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto mengatakan kasus 9 orang yang tewas terkait kerusuhan 21-22 Mei lalu turut dibahas dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) tingkat menteri hari ini. Dia menegaskan proyektil yang bersarang di tubuh korban dipastikan bukan dari Polri.

Wiranto mengatakan rakortas digelar selama kurang-lebih 2 jam di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2019). Hadir dalam agenda ini Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menkominfo Rudiantara, Kepala BNPT Suhardi Alius, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.


"Saya jelaskan secara singkat hal-hal yang masih menjadi pembicaraan di masyarakat. Yang saya tahu, banyak isu-isu yang tidak benar, banyak hoax, banyak pemberitaan-pemberitaan yang sumbernya tidak jelas, maka siang ini kita akan menjelaskan kepada Saudara sekalian supaya semuanya lebih jelas lagi," kata Wiranto.

Pertama, ujar Wiranto, mereka membahas pengusutan kasus 9 orang yang meninggal pada kerusuhan 21-22 Mei lalu. Dia mengatakan Polri telah melakukan pencarian fakta lewat investigasi mendalam. Penyelidikan ini tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja sama dengan Komnas HAM.

"Hasilnya sudah sangat bagus ya karena, dari 9 korban itu, sudah dipastikan bahwa 8 orang TKP-nya diketahui, yang 1 tidak. Empat orang sudah diautopsi, 5 tidak diautopsi," ujar Wiranto.

"Kemudian proyektil yang ditemukan di korban, itu sudah dipastikan senjata glock, bukan identik dengan senjata yang dimiliki Polri," sambungnya menegaskan.


Terkait orang-orang yang ditetapkan jadi tersangka perusuh dalam aksi 21-22 Mei, sebagian sudah dilimpahkan ke kejaksaan untuk diproses di pengadilan.

Wiranto menambahkan tidak akan ada yang menutup-nutupi kasus ini. Dia meyakinkan Polri bekerja profesional, tidak berpihak, dan apa adanya. Dia membantah isu ada upaya memperlambat kasus ini.

"Jadi isu-isu bahwa ada satu upaya upaya untuk menyembunyikan, untuk memperlambat pengusutan, penyidikan, ini tidak benar. Karena kepolisian mengharapkan bahwa penyidikan betul-betul akurat dan faktual," ujarnya.

Wiranto mengatakan penyelidikan kasus 21-22 Mei melibatkan 704 video ataupun audio yang tersebar di seluruh Jakarta. Penyelidikan ini juga melibatkan 60 CCTV, 470 video amatir, dan 93 video amatir dari masyarakat serta 62 dari media. Dia mengatakan itu sudah cukup akurat untuk membantu pengungkapan kasus.

"Sehingga nanti kita mengharapkan temuan Polri dan Komnas HAM untuk membongkar ini seluas-luasnya, seterang-terangnya, tidak menjadi pertanyaan masyarakat lagi," ujarnya.

Simak Video "Wiranto: Pemerintah yang Baik Dengar Suara Rakyat, Bukan Partai"
[Gambas:Video 20detik]

(hri/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com