detikNews
Jumat 19 Juli 2019, 10:49 WIB

Korupsi Sampan Rp 159 Juta, Taufik Dihukum 1 Tahun Penjara

Tim detikcom - detikNews
Korupsi Sampan Rp 159 Juta, Taufik Dihukum 1 Tahun Penjara Ilustrasi (dok. detikcom)
Mataram - Pengadilan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjatuhkan vonis hukuman 1 tahun penjara terhadap terdakwa korupsi pengadaan sampan fiberglass Kabupaten Bima tahun 2012, Taufik Rusdi.

"Karenanya, majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta," kata ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif dalam sidang putusan Taufik Rusdi, yang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, sebagaimana dikutip detikcom dari Antara, Jumat (19/7/2019).

Selain pidana penjara, Taufik Rusdi dibebani pidana denda Rp 50 juta. Jika tidak dibayarkan hingga batas waktu yang telah ditentukan, Taufik Rusdi diwajibkan menggantinya dengan kurungan badan selama 1 bulan.



Vonis hukuman itu diberikan kepada Taufik Rusdi karena terbukti bersalah melakukan korupsi dalam proyek pengadaan bernilai Rp 1 miliar yang dibagi dalam lima unit sampan fiberglass di Kabupaten Bima.

Taufik, yang ketika itu menjabat Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bima, berperan sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek.

Dalam merencanakan proyek tersebut, Taufik Rusdi tidak membuat dokumen pengadaan, rencana kerja syarat-syarat (RKS), harga perkiraan sendiri (HPS), rencana anggaran biaya (RAB), dan gambar pekerjaan. Dokumennya dibuat sesudah proyek tersebut berjalan.

Meskipun pengerjaannya molor, Taufik Rusdi tetap melakukan pembayaran 100 persen kepada pihak rekanan. Realisasi pembayarannya sebesar Rp 991,6 juta, namun pengeluaran hanya mencapai Rp 741,6 juta. Perbedaan anggaran yang dicairkan tersebut menimbulkan adanya kerugian Rp 159,8 juta.

Karena itu, majelis hakim menyatakan Taufik Rusdi bersalah dan melanggar dakwaan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 20/2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP.

Pelanggaran hukum yang diterapkan dalam putusannya sesuai dengan tuntutan jaksa. Namun tuntutan pidananya sedikit lebih tinggi, yakni 1 tahun dan 6 bulan penjara dengan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan.



Lebih lanjut majelis hakim dalam putusannya meminta penuntut umum mengembalikan kelebihan uang titipan terdakwa sebesar Rp 1,03 juta. Uang tersebut merupakan sisa uang titipan terdakwa Rp 160 juta, setelah dikurangi nilai kerugian negaranya sebesar Rp 159,8 juta.

Setelah membacakan putusannya, terdakwa maupun jaksa penuntut umum belum memberikan pernyataan terkait haknya untuk mengajukan upaya hukum banding di tingkat Pengadilan Tinggi Mataram.

"Jadi kedua belah pihak masih pikir-pikir, belum ada yang menyatakan untuk banding atau menerima putusannya," kata juru bicara Pengadilan Negeri Tipikor Mataram Fathur Rauzi.

Simak Video "Pejudi Sabung Ayam Kocar Kacir Digerebek Polisi"
[Gambas:Video 20detik]

(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com