detikNews
Jumat 19 Juli 2019, 10:44 WIB

Dikira Nasrani, Suhardi Alius Jadi Pengayom Mantan Teroris

Sudrajat - detikNews
Dikira Nasrani, Suhardi Alius Jadi Pengayom Mantan Teroris Kepala BNPT Suhardi Alius (Foto: dok. BNPT)
Jakarta - Seorang habib dari Jakarta Utara pernah memprotes Kapolri Jenderal Da'í Bachtiar karena dianggap tidak sensitif. Sebagai pejabat tinggi yang kerap berhubungan dengan kaum muslim, seharusnya dia tak memilih sekretaris pribadi beragama Nasrani, Suhardi Alius.

Bertahun kemudian, ketika akan mengisi kuliah umum di salah satu universitas di Yogyakarta, ada anggota panitia yang memprotes kehadiran Suhardi. Dia dipersoalkan dalam acara yang digelar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia itu karena dianggap Nasrani.

"Padahal alhamdulillah saya itu sudah haji pada 1996, ketika masih kapten," kata Suhardi Alius mengisahkan pengalamannya saat ditemui detikcom, Rabu (17/7).

Pada September 2018, dia juga menunaikan umrah bersama sang ibu, Hj Alisma Kemudi, istri, dan anaknya (Ahmad Bonadi). "Alius itu nama Bapak saya," imbuhnya diiringi tawa. Sang ayah juga seorang polisi yang berasal dari Nagari Tanjungalai, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Meski terlahir dari keluarga Minang, Suhardi juga fasih berbahasa Sunda. Maklum, selepas dari Akademi Kepolisian 1985, dia bertugas sebagai reserse di Polresta Bandung. Setahun kemudian dipercaya menjadi Kapolsek di Cimahi. Suhardi pernah menjadi penguasa keamanan di tatar Sunda saat menjadi Kapolda Jawa Barat, Juni hingga November 2013.

Penulis mulai mengenal sosok Suhardi Alius pada 2013. Itu pun cuma melalui dua buku yang ditulisnya Masa Depan Hutan Indonesia dan Mengubah Pelayanan Polri dari Pimpinan ke Bawahan. Buku kedua terbit di tengah euforia warga Jakarta terhadap sosok Gubernur DKI Jokowi Widodo, yang gemar blusukan. Dari buku tersebut terungkap bahwa Suhardi sebenarnya juga blusukan sejak 2004 ketika menjabat Kapolres Jakarta Barat. Cuma dia menyebutnya sebagai keluyuran.

Kebiasaan itu kembali dilakukan semasa menjadi Wakapolda Metro Jaya, 2011-2012. Setiap malam dia biasa menyamar. Cuma mengenakan jaket kulit, jins belel, dan sandal jepit, dia menyambangi pos-pos polisi. Dari situ dia mengetahui persis kesiapsiagaan hingga gaya aparat di lapangan dalam melayani warga.

Nama Suhardi Alius menuai decak kagum ketika Kapolri Jenderal Sutarman mempercayainya sebagai Kepala Bareskim. Untuk jabatan bintang tiga itu, Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menyebut Suhardi sangat istimewa karena melompati lima angkatan, 1980-1984.

Semua itu tak lepas dari rekam jejaknya yang cemerlang. Suhardi dikenal luwes dan hangat. Juga lurus dan sederhana. Di mana pun dia ditempatkan, semua tugas dan tanggung jawab diembannya dengan cekatan. Neta mencontohkan, saat menjadi Wakapolda Metro Jaya yang sering blusukan di lapangan, dia bisa meredam aksi-aksi demonstrasi dengan elegan. Mulai demonstrasi menentang kenaikan harga BBM di DPR maupun aksi bakar mobil polisi di depan kantor YLBHI.

"Waktu jadi Kapolda Jabar, dia cepat turun ke lapangan untuk mengendalikan konflik antar anggota Brimob dan TNI di Karawang pertengahan November 2013," ujarnya.



Selama 14 bulan memimpin Bareskrim, para aktivis pemberantasan korupsi banyak yang memujinya. Sebab, pada masa itulah hubungan Polri dan KPK benar-benar harmonis. Dia menyokong penuh kerja-kerja KPK. Terkait praktik pungutan liar di Bandara Soekarno-Hatta kepada para TKI, misalnya. Bersama pimpinan KPK, Suhardi terlibat langsung menertibkan praktik pemerasan di sana. Hasilnya, enam petugas diamankan.

Ia juga menjalin sinergi dengan Kejaksaan Agung, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, hingga Direktorat Jenderal Pajak. Para pengemplang pajak bisa langsung dipidanakan atau memilih bayar pajak. Efeknya, penerimaan pajak meningkat signifikan.

"Sebenarnya polisi jujur itu masih banyak, tidak seluruhnya sinisme Gus Dur tentang polisi mengandung kebenaran, salah satunya adalah Suhardi Alius," puji mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif dalam buku Integritas di Tengah Kabut Idealisme.

Kiprah suami dr Riri Nusrad Kanam itu di Bareskrim terhenti sejak 16 Januari 2015. Dia digeser ke Lemhannas sebagai Sekretaris Utama. Ia dituding memasok data ke KPK ihwal rekening gendut milik Komjen Budi Gunawan (BG), yang menjadi calon tunggal Kapolri. Tak lama setelah BG dicalonkan Presiden Jokowi, KPK malah menetapkannya sebagai tersangka korupsi.

Saat kembali disinggung isu tersebut, Suhardi menggeleng. "Saya tidak pernah punya persoalan dengan Pak Budi," ujarnya singkat.

Meski cuma menjabat hingga Juli 2016, Suhardi meninggalkan jejak pemikiran yang baik di Lemhannas. Ia menuangkannya dalam buku setebal 125 halaman. Judulnya Resonansi Kebangsaan: Membangkitkan Nasionalisme dan Keteladanan. Buku ini diluncurkan pada Februari 2019.

Saat dilantik Presiden Jokowi, 20 Juli 2016, sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), banyak orang mengira dia akan bertindak sangat keras. Maklum, Suhardi lama di reserse. Nyatanya?

Dia memang tetap tegas dalam menegakkan hukum. Tapi, dengan sokongan sejumlah ahli agama, hukum, psikologi, sosiologi, hingga hubungan internasional, seperti Prof Nasaruddin Umar, Azyumardi Azra, Hamdi Muluk, dan Hikmahanto Juwana, pendekatan yang lebih humanis dikedepankan.

Terhadap para mantan teroris, dia dengan tekun melakukan pendekatan dan merangkul mereka. Suhardi membantu pembangunan masjid dan pengelolaan yayasan yang dikelola mantan napi terorisme Bom Bali Ali Fauzi di Tenggulun, Lamongan. Juga membangun Pondok Pesantren Al-Hidayah di Deli Serdang, Sumatra Utara, asuhan mantan teroris Khairul Ghazali.

Selain itu, ia memprakarsai pertemuan 100 mantan napi teroris dan keluarga korban dalam satu forum bertajuk 'Silaturahmi Kebangsaan'. Untuk meningkatkan ekonomi para mantan napi dan penyintas, dia juga membantu mendirikan "Pop Warung" di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di sisi lain, untuk mendeteksi dan mengikis infiltrasi paham radikalisme, Suhardi rajin berkeliling kampus untuk berdialog dengan segenap sivitas akademika. Juga menggandeng sejumlah kementerian dan pemda untuk membangun infrastruktur di daerah miskin dan membuka lapangan pekerjaan.

Banyak negara memberi apresiasi positif. Suhardi pun harus berkeliling dunia berbagai pengetahuan dan pengalaman soal isu tersebut. Dia berbicara di kantor PBB di New York, Jerman, Belanda, Prancis, Rusia, Arab Saudi, Maroko, Yordania, Australia, Selandia Baru, serta negara-negara ASEAN.

"Pekan depan saya juga diundang ke Amerika untuk berbicara soal deradikalisasi," kata Suhardi.

Wakil Presiden Bundeskriminalamt (Badan Antiteror Jerman) Michael Kretschmer saat bertamu awal Juli lalu juga meminta agar BNPT mengirimkan para ahlinya ke sana.

Tak cuma jadi pembicara, master hukum dari UGM itu juga menuangkan pengetahuan dan pengalamannya dalam bentuk buku. Februari lalu dia merilis 4 buku: Memimpin dengan Hati, Bunga Rampai Penanggulangan Terorisme, Menjalin Sinergi, dan Resonansi Kebangsaan.

"Ah, itu bukan bukulah. Cuma coretan-coretan pemikiran dan pengalaman saya. Kadang saya ngomong, direkam, terus ditranskrip oleh staf," ujarnya merendah.

Ihwal kepiawaiannya menulis tak lepas dari tugas Suhardi saat menjadi staf ahli dan sekretaris pribadi empat Kapolri. Ia secara berturut melayani Jenderal Surojo Bimantoro, Da'í Bachtiar, Sutanto, dan Bambang Hendarso Danuri. "Saya nyaris jadi sekretaris pribadi dan staf ahli abadi," ujarnya berseloroh.

Simak Video "Perayaan Maulid Nabi Tak Biasa di Maros, Warga Berebut Bakul 'Pinisi'"
[Gambas:Video 20detik]

(jat/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com