detikNews
Kamis 18 Juli 2019, 21:15 WIB

Round-Up

Salah Kaprah Oxford Beri Penghargaan untuk Benny Wenda

Tim detikcom - detikNews
Salah Kaprah Oxford Beri Penghargaan untuk Benny Wenda Benny Wenda (BBC Indonesia)
Jakarta - Keputusan Dewan Kota Oxford memberikan penghargaan Kebebasan Kota (Freedom of the City) kepada separatis Papua Benny Wenda dikecam keras Republik Indonesia. Penghargaan itu dinilai Indonesia diberikan Oxford berdasarkan penilaian yang salah tentang Benny.

Dilansir BBC, Kamis (18/7/2019), penghargaan diberikan Dewan Kota Oxford ke Benny pada Rabu (17/9) waktu setempat. Wali Kota Oxford Craig Simmons, mengatakan penghargaan itu "layak diberikan" dan Benny Wenda "begitu banyak berkontribusi baik lokal maupun di panggung internasional".

"Oxford adalah salah satu yang pertama mendengar tangisan rakyat Papua Barat untuk keadilan, hak asasi manusia, dan menentukan nasib sendiri," kata Benny.



Benny adalah pemimpin Serikat Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat (ULMWP). Dia pernah kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Abepura pada 2002, mengajukan suaka ke Inggris dan akhirnya dikabulkan setahun sesudahnya. Dia menjadi warga negara Inggris dan hidup di Oxford bersama keluarganya.

Salah Kaprah Oxford Beri Penghargaan untuk Benny WendaFoto: Balai Kota Oxford (Facebook Oxford City Council)

"Dewan Kota Oxford kembali melukai perasaan rakyat Indonesia. Penghargaan kepada orang tersebut merupakan kelanjutan dukungan Dewan kepada gerakan Papua Merdeka setelah memberi izin pembukaan kantor Free West Papua Campaign di Oxford pada tahun 2013," demikian respons Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London.

KBRI menyampaikan, pemerintah Indonesia mengecam keras penghargaan ke Benny Wenda yang diberikan Oxford. Pemberian penghargaan kepada Benny mengurangi kredibilitas Oxford sebagai pusat pendidikan terkemuka di dunia. Indonesia menilai Oxford menilai Benny secara salah kaprah.



"Pemberian penghargaan kepada orang yang memiliki catatan kriminal tersebut melalui gerakan separatis bersenjata menunjukkan ketidakpahaman Dewan Kota Oxford terhadap sepak terjang yang bersangkutan selama ini dan kemajuan pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat yang sebenarnya," kata KBRI London.


Benny disebut Dewan Kota Oxford sebagai "peaceful campaigner for democracy" atau "pengkampanye damai untuk demokrasi". KBRI menilai sudah banyak bukti yang mengaitkan Benny terhadap berbagai kekerasan bersenjata di Papua. Penghargaan itu justru akan memberikan legitimasi kepada orang tersebut dan kelompoknya untuk terus meningkatkan tindakan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil dan masyarakat.

"Dia (Benny) mengaitkan bahwa dirinya bertanggung jawab atas perjuangan politik dan bersenjata yang dilakukan di Papua. Dengan demikian, ini menjadikan dasar bahwa dia bertanggung jawab atas aksi-aksi kekerasan dan tindakan pelanggaran hukum yang terjadi dan dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata di Papua. Kasus-kasus seperti pembunuhan pekerja konstruksi jalan di Nduga. Mau tidak mau bisa dikaitkan dengan apa yang diklaimnya sebagai pertanggungjawaban dirinya sebagai pemersatu kegiatan politik dan kegiatan kelompok bersenjata di Papua," kata Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, kepada wartawan di kantornya, Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (18/7/2019).



Faizasyah menjelaskan, Benny bukanlah orang yang bersih karena terlibat pembunuhan. "Jadi kalau disebutkan dia adalah pegiat perdamaian, tidak benar sama sekali. Hal ini yang ingin kita tekankan kepada pemerintah daerah Oxford bahwa kriteria dan cara pandang mereka itu salah," kata dia.

Salah Kaprah Oxford Beri Penghargaan untuk Benny WendaPlt Jubir Kemlu, Teuku Faizasyah (Zakia Liland/detikcom)

Dia menjelaskan proses pemberian penghargaan ke Benny sudah dimulai sejak 2018. Sejak setahun kemarin itu pula, pihak RI sudah melayangkan protesnya. Namun pihak Oxford akhirnya memutuskan memberikan penghargaan ke Benny.

Kemlu menilai penghargaan dari Oxford ke Benny sebenarnya tak ada artinya sama sekali. Republik Indonesia bisa memahami posisi Pemerintah Inggris yang tetap mengakui kedaulatan NKRI dan mengakui Papua bagian dari Indonesia. Kementarian Luar Negari Inggris telah menyampaikan sikapnya.

"Keberadaan Benny Wenda di Inggris bukan berarti bahwa Pemerintah Inggris mendukung posisinya mengenai kedaulatan Papua," kata Kementerian Luar Negeri Inggris.



Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menyebut tokoh Benny Wenda memang tengah mencari perhatian dunia internasional. Namun, Wiranto menegaskan dukungan dunia internasional terkait Papua tetap mengalir untuk Indonesia. Jadi, penghargaan dari Oxford ke Benny itu tak perlu terlalu dihiraukan.

"Kalau satu-dua kemudian mereka merekayasa itu, itu biasa dari tahun ke tahun seperti itu, cari perhatian, untuk mendapatkan perhatian dari internasional. Sudah, nggak usah dipusingkan lah," ujar Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Benny lahir di Lembah Baliem, Papua. Banyak yang menyebut dia lahir di tanggal yang sama dengan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 17 Agustus, 29 tahun setelah tahun kemerdekaan RI. Namun di situs webnya, Benny tak menyebut tanggal dan tahun kelahirannya. Dia hanya menuliskan lahir pada dekade '70-an.

Salah Kaprah Oxford Beri Penghargaan untuk Benny WendaMenlu Retno Marsudi menemui Menko Polhukam Wiranto membahas perbatasan RI-Timor Leste (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)

Juli 2019, Benny dengan ULMWP-nya mengklaim telah berhasil menyatukan tiga kelompok milisi separatis di Papua. Tiga kelompok bersenjata yang bersatu itu termasuk Tentara Revolusi Papua Barat (TRWP), TNPB/OPM dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Nama terakhir adalah yang menewaskan puluhan orang di proyek Jalan Trans Papua di Nduga. ULMWP menyatakan sebutan untuk semua faksi militer itu sebagai Tentara West Papua (West Papua Army).

Klaim Benny bertepuk sebelah tangan. "Kami menolak klaim baru yang dibuat ULMWP berkenaan dengan tuduhan merger tentara West Papua," kata pernyataan bersama tentara Organisasi Papua Merdeka (OPM) TPNPB itu pada 7 Juli 2019.





Simak Video "Wiranto Beberkan Konspirasi Benny Wenda dengan Aktor Lokal Papua"
[Gambas:Video 20detik]

(dnu/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com