Jangan Bikin Teror ke Siswa Baru

Round-Up

Jangan Bikin Teror ke Siswa Baru

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 16 Jul 2019 20:30 WIB
SMA Taruna Indonesia di Palembang (Foto: Raja Adil Siregar/detikcom)
SMA Taruna Indonesia di Palembang (Foto: Raja Adil Siregar/detikcom)
Jakarta - Dunia pendidikan Tanah Air 'tercoreng' gegara tewasnya seorang siswa SMA Taruna di Palembang, Sumatera Selatan, saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di sekolah. Mendikbud Muhadjir Effendy menegaskan agar tidak ada lagi senioritas, apalagi membuat teror kepada siswa baru di sekolah.

Kabar tewasnya siswa SMA Taruna di Palembang bernama Delwyn Berli Julindro (14) itu saat orang tua korban melapor ke Polresta Palembang, Sabtu (13/7/2019). Ibu korban, Berce, mengatakan terdapat luka memar di tubuh putranya.


Menurut Berce, dari informasi yang didapat, putranya sempat pingsan sekitar pukul 04.00 WIB saat ikut rangkaian MOS, sebelum meninggal dunia di RS Myria, Palembang. Berce mengatakan putranya sudah ikut MOS selama satu minggu setelah lulus dari SMP 1 Tulung Selapan.

"Ada luka memar di lutut, itulah kenapa kami buat laporan polisi di Mapolresta," kata Barce saat membuat laporan polisi di Polresta Palembang.

Laporan Berce ke polisi langsung segera diselidiki. Dua hari berselang, polisi menetapkan pembina SMA Taruna Indonesia, OFA (24), sebagai tersangka tewasnya Delwyn. Polisi menyebut korban tewas akibat dipukul pakai bambu.

"Pertama, dari hasil forensik, ada luka di kepala akibat benda tumpul. Setelah itu dipastikan, kami identifikasi bahwa korban dipukul pakai alat bambu," ujar Kapolda Sumsel Irjen Firli saat rilis kasus di Mapolresta Palembang, Sumatera Selatan, Senin (15/7/2019).


Pemukulan terjadi ketika korban mengikuti pembinaan mental di SMA Taruna Indonesia. Hal ini terungkap setelah polisi memeriksa 21 saksi dan menemukan alat bukti itu.

Setelah diperiksa tim penyidik, ada satu saksi berinisial OFA yang mengaku memukul Delwyn karena emosional dan tersinggung. Setelah pengakuan itu, polisi memutuskan menetapkan OFA sebagai tersangka.

"OFA tersinggung dengan korban, katanya karena korban disuruh ikuti kegiatan dan tidak dilaksanakan. Korban nggak ikut itu karena sudah mengeluh sakit. Kami kerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan perbaikan, dan ini perlu evaluasi bersama. Tidak boleh lagi ada kegiatan perpeloncoan seperti ini kalau mendidik," katanya.

Akibat perbuatannya, OFA saat ini ditahan di Polresta Palembang. Dia terancam Pasal 80 UU Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.



Mendikbud Muhadjir turut berbelasungkawa atas meninggalnya Delwyn. Muhadjir menyebut tidak boleh ada lagi perpeloncoan di lingkungan sekolah.

"Tidak boleh ada perpeloncoan, justru yang kita hindari itu," kata Muhadjir di SD Muhammadiyah 5 Jakarta Selatan, Jalan Limau, Kebayoran Baru, Jaksel, Senin (15/7/2019).


Dia menyesalkan masih ada perpeloncoan di dunia pendidikan. Apalagi sampai mengakibatkan korban tewas. Muhadjir mengatakan sekolah seharusnya membuat siswa nyaman dan jauh dari kekerasan.

"Saya belum bisa beri tanggapan karena harus lihat secara detail. Ada Pak Irjen juga untuk menelisik kasus itu. Saya menyayangkan kalau kita berpuluh kali menyampaikan tidak boleh ada praktik kekerasan dan perpeloncoan tapi harus menebarkan kasih sayang, membikin peserta didik baru kerasan dan nyaman di sekolah yang baru. Jangan malah membikin mereka ada teror-teror yang tidak pada tempatnya," kata Muhadjir di Sekolah Kristen Yayasan IPEKA, di perumahan Grand Wisata, Jl Sanset Evenue, Lambang Sari, Tambun, Bekasi Selatan, Jawa Barat, Selasa (16/7/2019). Muhadjir ditanya mengenai pembina sekolah yang jadi tersangka tewasnya siswa SMA Taruna di Palembang.


Muhadjir mengatakan insiden meninggalnya siswa saat MOS di Palembang itu sudah masuk ranah pidana. Karena itu, dia menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada polisi.

"Kalau sudah dianggap masuk kategori pidana urusannya dengan aparat dan penegak hukum. Kita serahkan sepenuhnya," ujar Muhadjir.

Kemendikub, kata Muhadjir, terus memantau setiap kejadian di lingkungan pendidikan. Jika terjadi malpraktik, pelaku akan ditindak berdasarkan kode etik keprofesian.

"Kalau ada malpraktik kemudian siapa yang melakukan itu tentu saja akan diurus berdasarkan kode etik profesi guru, kalau dilakukan guru. Kalau sudah pidana, urusannya dengan pihak aparat. Kalau akibat dari kelalaian pengelola sekolah, kaitannya dengan pelanggaran disiplin keprofesian. Itu penyelesaiannya di dewan etik," jelas Muhadjir.



Simak Juga 'Siswa SMA Taruna Mengeluh Pening Sebelum Meninggal':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Siswa SMA Taruna Mengeluh Pening Sebelum Meninggal"
[Gambas:Video 20detik]
(idn/zak)