detikNews
Selasa 16 Juli 2019, 10:05 WIB

Tak Semudah Dibayangkan Kala Anak Rimba Jambi Masuk Sekolah

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Tak Semudah Dibayangkan Kala Anak Rimba Jambi Masuk Sekolah Foto: Hari Pertama Anak Rimba di Jambi Masuk Sekolah (dok ist)
Pekanbaru - Anak-anak sekolah yang baru masuk SD tahun ajaran 2019 ini, umumnya sudah tertib administrasi kependudukan. Tapi, cerita ini akan berbeda buat anak suku Rimba di belantara taman nasional di Jambi.

Pada tahun ini, aktivis lingkungan di bawah naungan WARSI di Jambi mendampingi 6 siswa baru dari kelompok Rimba. Mereka terpencar di dua sekolah dasar negeri. Pertama ada 2 siswa baru di SDN 191 Air Panas Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Mereka hidup di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Selanjutnya ada 4 siswa SD lainnya di Desa Pelakar Jaya Kecamatan Pemenang Kabupaten Merangin. Sebelumnya, kakak kelas mereka dari juga sudah bersekolah di sana.

Jumlah siswa dari komunitas suku pedalaman ini tidaklah banyak. Mereka bisa jadi menjadi minoritas di sekolah tersebut. Pendidikan bagi masyarakat Rimba, termasuk langka.


Berkat pendampingan para aktivis WARSI, komunitas Rimba bisa membuka cakrawala dunia luar. Para aktivis ini selalu memberikan pendampingan sebelum anak-anak itu masuk ke sekolah formal. Pihak WARSI sudah membekali cara membaca dan berhitung buat anak-anak Rimba.

Untuk bersekolah, mereka terpaksa menginap di kantor penghubungan WARSI yang ada di batas desa. Karena, tidak mungkin anak-anak itu berjalan saban hari dari kawasan taman nasional. Mendaftarkan anak Rimba ke sekolah bukan urusan gampang. Soal administrasi kependudukan misalnya, ini menjadi kendala tersendiri. Banyak komunitas Orang Rimba yang tidak memiliki kartu keluarga (KK) sekaligus kartu tanda penduduk (KTP).

Sementara, persyaratan mutlak bagi calon siswa baru harus tertib administrasi kependudukan. Di sinilah peran penting para aktivis meluangkan waktunya untuk menjembatani administrasi mereka ke pemerintah daerah setempat.

"Ada anak yang orang tuanya belum punya KK atau kalaupun sudah punya KK namun datanya belum update, sehingga kami mengurus kembali administrasi Orang Rimba ke kantor desa," kata fasilitator pendidikan WARSI, Yohana Pamella Berlianan Boru Marpaung dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (16/7/2019).


Tidak lengkapnya administrasi peserta didik dari kelompok anak Orang Rimba ini, sehingga mereka belum memiliki nomor induk siswa (NIS). Padahal NIS merupakan kode pengenal identitas siswa yang bersifat uni dan berlaku sepanjang masa.

Malah saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menerapkan nomor induk siswa nasional (NISN). Dengan adanya nomor ini, dapat membedakan satu siswa dengan siswa lainnya di seluruh Indonesia. Pembuatan NIS ini tentunya tak terlepas akan kelengkapan administrasi, tentunya ada KK. Di sinilah persoalan muncul buat komunitas anak-anak Rimba yang orang tua mereka tak tertib administrasi kependudukan.

"Selain mendaftarkan peserta didik, kami juga harus melengkapi segala persyaratan sebagai siswa baru agar mereka memiliki nomor induk sekolah. Kita harus mengurusnya di kantor desa," kata Yohana.

Mengurusi anak-anak Orang Rimba juga bukanlah hal yang mudah. Bangun pagi lantas mandi berangkat ke sekolah masih menjadi hal yang tak biasa buat mereka. Belum lagi mental mereka yang merasa minder untuk bergabung dengan anak-anak pada umumnya. Karena itu, menjelang mereka masuk sekolah, segala perlengkapan untuk menjadi siswa baru disediakan mulai dari sepatu, baju, topi, dasi dan peralatan tulis. Mereka harus tampil prima sebagaimana anak-anak di luar komunitasnya. Jangan sampai ada di antara mereka yang tak sama seragamnya dengan yang lain.

"Kami juga menerapkan, sebelum jam 10 malam anak-anak harus sudah tidur sehingga esok paginya bangun sudah segar dan bersiap untuk sekolah," kata Yohana.


Selaku aktivis, Yohana berperan menjadi ibu bagi anak-anak Rimba dengan selalu memperhatikan kebutuhan di rumah dan di sekolah. Wanita berdarah Batak usia 26 tahun itu, pukul 05.00 WIB, sudah membangunkan anak-anak Rimba.

Dia menyiapkan sarapan pagi untuk 8 anak Rimba di bawah binaannya. Setiap pagi dia juga mengajarkan akan pentingnya sikat gigi dan mandi yang bersih. Sebab, kondisi seperti itu belum menjadi kebiasaan buat mereka. Semangat para peserta didik komunitas Orang Rimba ini diharapkan menjadi pintu gerbang mereka untuk meraih masa depan dan mengangkat harkat martabat komunitas mereka.

Simak Video "Pemotor Ini Terciduk Simpan Ratusan Ekstasi di Dalam Baju"
[Gambas:Video 20detik]

(cha/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed